Sudah lima menit lebih aku terus memukul-mukul kasur. Merasa malu dan tidak tahu harus bereaksi apa saat Mas Afiq bangun nanti. Aku terus terbayang apa yang terjadi di antara kami beberapa jam yang lalu.
Tidak, tidak sampai ke sana. Mas Afiq masih memegang kalimatnya saat di rumah makan. Namun, yang kami lakukan tidak sesederhana itu. Aku bahkan tidak sanggup menjelaskan detailnya.
"Hmh!"
Aku terkesiap saat mendengar Mas Afiq melenguh pelan. Jangan-jangan sebentar lagi dia bangun. Aku segera balik badan dan memegangi selimut erat-erat.
"Oh, udah jam lima."
Benar, Mas Afiq memang bangun. Suara seraknya membuatku berdebar-debar. Aku merasakan kasur di belakangku bergerak.
"Anin ..." lenganku disentuh pelan.
"Hm?" aku menggumam samar.
"Bangun dulu. Udah jam lima."
"Bentar lagi."
"Subuh."
"I-iya. Mas dulu ke kamar mandi."
"Ya udah, oke."
Begitu aku mendengar suara pintu kamar mandi ditutup, aku langsung bangun dan duduk. Aku menyentuh bibirku yang terasa agak kebas.
"Emangnya bibirku ini permen, apa?" gumamku setengah kesal, tetapi senang di saat yang bersamaan. "Aaak!" Aku menjerit tertahan dan mulai berguling-guling di atas kasur.
Aku menyentuh bibirku lagi, dan wajahku seketika terasa panas begitu bayangan semalam terekam jelas di ingatan. Sungguh rasanya aku tidak menyangka kalau first kiss-ku akan diambil oleh dosenku sendiri. Memang dia suamiku, tetapi tetap saja, dulunya dia adalah orang yang sangat kuhormati. Mungkin sampai detik ini, sesantai-santainya aku dengan Mas Afiq, masih ada sedikit rasa sungkan.
Padahal baru ciuman, bagaimana jika yang lain?
Aku menggeleng keras, berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran tidak jelas yang mulai memenuhi otak. "Kalem, Nin, kalem. Pak Rafiq udah jadi Mas Afiq. Dia bukan lagi dosenmu, tapi suamimu. Oke, aku harus belajar mengubah presepsi yang satu ini."
Pintu kamar mandi akhirnya terbuka, lalu Mas Afiq muncul dengan wajah basah. Aku langsung memalingkan wajah, kemudian turun dari ranjang. Namun, aku refleks berhenti ketika menyadari kancing piyamaku lepas tiga.
Ah! Ini membuatku kembali teringat yang tadi malam. Aku segera membelakangi dan buru-buru membenarkannya.
"Mas tunggu, Nin. Di kamar mandinya jangan lama-lama."
"I-iya."
Tanpa menatap Mas Afiq, aku langsung cepat-cepat menuju kamar mandi. Begitu menutup pintu, aku segera berdiri di depan cermin.
Padahal rasanya masih agak kebas, tetapi ternyata bibirku baik-baik saja. Hanya rasanya terlihat sedikit lebih merah.
"Aduh! Kenapa kebayang terus, sih!" aku menepuk wajahku berkali-kali. "Sadar, Nin, sadar!"
Aku segera menyelesaikan aktivitas di kamar mandi. Setelah selesai, aku langsung menyusul Mas Afiq ke sisi kanan ranjang. Dia tersenyum ketika melihatku, sementara aku langsung menutupi wajah dengan kedua tangan.
"Jangan dilihatin terus!"
"Iya, Nin, iya."
Sepuluh menit berlalu, kami berdua sudah kembali ke tempat tidur. Aku masuk dalam selimut lalu berbaring miring menghadap Mas Afiq. Karena kalau aku memunggunginya, dia pasti akan protes.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
