Bab 27. Naik Step

3.1K 272 68
                                        

                "Jadi ... kamu mau, kan, jadi pacar saya?"

Mataku mengerjap. Aku harusnya tidak kaget dengan pertanyaan Pak Rafiq mengingat sebelumnya pembicaraan kami sudah sangat to the point. Namun, ternyata pertanyaan itu tetap membuatku terdiam cukup lama.

"Anin—"

"Bapak serius?" aku memotong pelan.

"Akan sangat enggak lucu kalau saya bercanda di saat seperti ini."

Aku menatap mata bening Pak Rafiq cukup lama, mencoba melihat apakah ada tatapan janggal di matanya. Jawabannya tidak. Aku hanya menemukan keseriusan di sana.

"Nin ..."

Aku menganguk, tetapi kemudian menggeleng.

"Maksud kamu? Iya, atau enggak?"

"Saya mau, tapi dengan satu syarat."

"A-ah ... apa itu?"

"Kita menyembunyikan ini dari orang tua saya dan teman-teman. Saya belum siap kalau orang lain mengetahui hubungan kita. Saya takut ini akan menjadi bumerang untuk saya."

Pak Rafiq langsung mengangguk. "Oke. Saya paham dengan syaratmu."

"Bapak sanggup dengan itu?"

"Iya."

"Kalau begitu ... iya."

Pak Rafiq mengusap kepalaku dengan senyum yang merekah lebar. Setelah itu, dia kembali megajakku jalan.

"Saya mengajakmu pacaran karena kamu belum bisa saya ajak ke hubungan yang lebih serius, Nin. Tapi kalau saya diam saja tanpa mengatakan ini, saya khawatir kamu diambil orang lain."

Mendengar itu, aku langsung menoleh. "Memangnya saya barang yang bisa diambil?"

"Ya bukan, hanya saja saya lihat banyak teman laki-laki yang menyukaimu."

"Enggak, Pak. Biasa aja perasaan."

"Mungkin saya saja yang terlalu khawatir."

Kami kembali berhenti dan saling melempar senyum.

"Pak ..."

"Hm?"

"Kenapa harus saya, sih? Maksudnya, saya hanya enggak paham kenapa harus saya yang Bapak pilih. Saya bukan siapa-siapa, hanya mahasiwa biasa. Otak saya juga pas-pasan—"

"Kamu cumlaude. Jangan remehkan dirimu sendiri."

"Iya, cuma kan ada yang IPK-nya lebih tinggi di angkatan. Terus, saya ngerasa enggak ada yang spesial dari diri saya."

"Lalu kenapa kamu menyukai saya?"

Aku langsung meringis. "Bukannya udah jelas alasannya?"

"Apa itu?"

"Ya kan bukan hal baru lagi kalau mahasiswa suka sama Dosennya."

"Tapi itu banyak pemetaannya, Nin. Ada yang sekedar kagum dan semacam itulah. Tapi saya yakin perasaanmu buat saya itu beda."

"Pede banget!"

"Saya salah?"

Aku mengedikkan bahu. "Enggak tahu juga, Pak. Yang saya tahu, saya suka aja berada di dekat Bapak."

"Kita yang sering bertemu, tidak hanya untuk skripsi, melainkan juga ketika membahas teman-teman, itu membuat kita ada banyak kesempatan untuk semakin dekat dan mengenal satu sama lain tanpa sadar. Temanmu mungkin banyak yang tahu kalau saya yatim piatu karena sepertinya berita itu sudah menyebar, tapi saya bisa jamin, yang tahu kalau Ayah saya meninggal karena kecelakaan dan Ibu menyusul kemudian karena sakit, itu hanya kamu seorang."

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang