Happy Reading!
Vote dulu, lalu komennnya jangan lupa.♥️😘
___
"Fenia kemarin kritis lagi, Pak," ujarku siang itu setelah selesai bimbingan dengan Pak Rafiq di ruangannya. Aku memberi tahu info ini karena dia pernah bilang ingin menjenguk Fenia kalau anak itu tak kunjung sembuh.
"Kamu dapat info itu dari siapa?"
"Dari Ayu, Pak. Kebetulan Ayu sama Fenia ini tetanggaan."
"Orang mana mereka? Jogja, bukan?"
"Purwokerto, Pak."
Alis Pak Rafiq menekuk. "Jadi kamu pernah ke Purwoketo? Waktu itu kamu pernah bilang kalau kamu sempat menjenguk Fenia dengan salah satu temanmu."
"Waktu itu saya jenguknya di Jogja, Pak. Fenia punya saudara di Jogja dan tinggal di sana selama kuliah. Tepatnya di Sleman kota, Pak. Nah, saya jenguk waktu dia dirawat di Jogja. Cuma sekali, sama Fikri. Begitu cuti, dia kembali ke Purwokerto karena orang tuanya tinggal di sana."
"Kemungkinan tidak balik Jogja lagi sangat besar?"
"Sepertinya kalau belum sembuh belum balik, Pak."
"Jarak tempuh Jogja - Purwoketo itu kisaran lima jam. Bisa lebih atau kurang tergantung kondisi jalan dan lokasi rumah temanmu. Jadi harus meluangkan waktu sehari kalau memang mau menjenguk ke sana."
Aku mengangguk. "Iya, Pak. Kalau misal Pak Rafiq sibuk dan tidak bisa, sepertinya tidak jadi jenguk tidak apa-apa. Misal ada yang mau disampaikan atau apa pun itu, bisa lewat saya atau Ayu."
Pak Rafiq tampak menimbang-nimbang. Purwokerto itu jauh, dan dia bahkan belum tahu Fenia itu seperti apa karena sejak awal DPA ganti, Fenia sudah tidak masuk kuliah. Jadi menurutku tidak menjenguk tidak masalah. Beda dengan Puji dulu, karena dia orang Jogja, jadi Bu Dika meluangkan waktu sebentar untuk datang menjenguk.
"Kerjaan saya memang lagi banyak. Nanti kalau jadi, saya kabari kamu. Kamu harus antar saya ke Purwokerto."
"Berdua saja, Pak?"
"Sama temanmu Ayu, itu kalau memungkinkan."
"Ah ... siap, siap." Aku mengangguk, lalu segera merapikan jurnalku. "Kalau begitu, saya pamit sekarang, Pak."
"Sebentar, Anin ..."
"Ada apa, Pak?"
Pak Rafiq terlihat ingin bicara, tetapi seperti ditahan-tahan. Aku terus menunggu meski suasana di ruangan ini mendadak berubah canggung.
"Pak? Ada apa, ya?" akhirnya aku tak tahan juga kalau hanya diam menunggu.
"Saya boleh beli donatmu?"
"Hah?" Aku melongo sesaat. "Bapak mau beli donat saya? Saya tidak jualan donat, Pak."
"Saya tahu. Tapi tidak bisakah tiap kali bimbingan kamu bawa donat ke kampus? Saya akan membelinya, bukan minta."
"Pak Rafiq sesuka itu dengan donat saya?" senyumku mengembang. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa senang karena donatku disukai.
"Donat kentangmu mengingatkan saya pada Ibu. Saya sering keliling untuk mencari donat kentang, tapi jarang yang jual. Yang ada hanya donat tepung. Rasanya jelas berbeda."
Kali ini aku tidak langsung membalas. Pasalnya, aku membuat donat hanya ketika aku ingin. Aku belum selihai itu, jadi aku membutuhkan waktu agak lama untuk membuatnya. Kadang-kadang aku bahkan masih harus melihat contekan resep yang diberikan saudaraku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
