Bab 35. Keputusan Berat

2.7K 223 52
                                        

Saat aku bangun, aku sudah berada di kamar. Padahal aku ingat betul, terakhir aku sadar, itu masih di area makam. Aku pingsan karena menangis terlalu lama.

Sepertinya, Pak Rafiq langsung mengantarku pulang. Entah apa yang dia katakan pada kedua orang tuaku saat membawaku pulang dalam keadaan tak sadarkan diri.

Aku harap, dia jujur. Karena dengan begitu, tanpa dijelaskan lebih lanjut sekalipun, orang tuaku pasti langsung paham. Memang, aku sudah mengutarakan pada Ayah dan Bunda perihal tujuanku ziarah ke makam orang tua Pak Rafiq. Mereka setuju, dan mereka pun menunggu hasilnya.

Saat aku berkaca, mataku tampak sangat bengkak. Sampai-sampai, untuk sekedar membuka mata lebar-lebar saja aku kesulitan. Siapa pun yang melihatku saat ini pasti ikut prihatin.

Aku masih duduk di depan kaca ketika tiba-tiba pintu kamarku dibuka dari luar. Tanpa menoleh pun aku langsung tahu kalau itu pasti Bunda. Ayah jarang sekali naik ke kamarku. Kalau ada yang penting, beliau pasti memanggilku turun ke bawah.

"Nin ..."

Mendengar panggilan Bunda membuatku langsung berdiri dan memeluk beliau. Tangisanku kembali pecah dan Bunda membalas pelukanku sangat erat.

"Udah, jangan nangis terus."

"B-bunda ... apa yang aku takutin terjadi. A-ayah Pak Rafiq namanya W-wijaya."

Bunda terus mengusap-usap kepalaku. "Sejak Pak Rafiq datang dan membawamu dalam keadaan pingsan, Ayah sama Bunda langsung paham, Nin. Tapi Bunda juga kasihan sama Pak Rafiq. Dia kebingungan dan merasa bersalah. Padahal, dia enggak salah apa pun."

"Yang angkat aku ke kamar siapa, Bun?"

"Ayah. Pak Rafiq sebatas bawa kamu sampai sofa ruang tamu aja."

"B-bund ... ini gimana? Aku udah sayang banget sama Pak Rafiq, tapi kalau lihat dia aku ngerasa luar biasa bersalah. Aku enggak bisa kaya gitu. Dia juga belum tahu soal ini. Kalau dia tahu, bisa jadi dia bakal benci aku." Air mataku terus mengucur keluar.

"Sekarang tenangin dulu pikiranmu. Istirahat yang banyak. Tapi sebelum itu, makan dan minum obat dulu, ya. Jangan sampai pingsan lagi."

Pelukan Bunda terlepas, aku mengangguk. Bunda menatapku prihatin.

"Jangan terlalu dipikir, Nin. Ini semua di luar kendali kita. Ini semua juga udah digariskan Tuhan."

Bunda langsung mengambil tisu dan mengusap air mataku yang masih tak mau berhenti. Saking banyaknya aku menangis, aku sampai takut air mataku kering.

"Udah, ya, nangisnya. Habis ini Bunda anter makan."

"Aku mau mandi dulu, Bund."

"Ya udah. Lima belas menit lagi Bunda baru naik. Kamu wajib makan sama minum obat."

Aku mengangguk. "Makasih, Bunda."

"Iya, saya-sama."

Begitu Bunda keluar, aku mengambil tas selempang yang tadi kubawa ke makam. Kuambil ponselku, barangkali ada pesan dari Pak Rafiq. Memang ada, Pak Rafiq mengirim pesan berderet.

DPA Pak Rafiq

Anin, kamu sudah siuman?

Kamu kenapa tiba-tiba menangis seperti itu? Ada apa?

Anin? Belum siuman juga?

Tolong balas pesan saya kalau kamu sudah membukanya.

Anin?

Oke, selamat istirahat. Wajib balas pesan ini kalau sudah baca.

Ini perintah!

Air mataku keluar lagi dan lagi. Rasanya aku tak kuasa membalas pesan Pak Rafiq. Jika membalas pesan saja rasanya sulit, bagaimana kalau dia minta ketemu?

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang