"Mas lagi apa?" tanyaku malam itu ketika Mas Afiq meneleponku. Dia sudah bilang akan meneleponku sejak sore, tetapi ternyata baru keturutan pukul sepuluh malam. Sepertinya, dia memang sedang sangat sibuk. Apalagi reakreditasi semakin dekat.
"Ini baru aja rebahan. Tadi seharian sibuk ngurus berkas yang belum kelar juga."
"Capek banget, pasti."
"Lumayan. Tapi begitu denger suaramu, kayaknya capeknya Mas hilang."
Aku tertawa. "Gombalannya enggak banget, Mas."
"Tapi serius, Nin. Sejak tadi Mas udah pengen banget telepon kamu, tapi nanggung. Ada bagian yang harus segera Mas selesaiin biar enggak numpuk. Apalagi, berkas yang ini juga udah diminta terus sama jurusan."
"Terus sekarang udah kelar?"
"Udah. Tinggal yang lain lagi."
Sejujurnya, hanya dengan mendengar suara Mas Afiq saja sudah membuatku semakin merindukannya. Padahal ini baru seminggu sejak dia pulang, tetapi rasanya sudah lama sekali. Entah kenapa, aku merasa waktu berjalan sangat lambat.
"Kamu sendiri lagi apa, Nin?"
"Rebahan, Mas. Sejak tadi rebahan nungguin Mas telepon. Mau telepon duluan takut ganggu."
"Kangen?"
Aku langsung mengangguk, tetapi apa yang kukatakan berikutnya justru sebaliknya. "Biasa aja, sih."
"Enggak jaman lagi masih gedein gengsi."
"Mas ke Kediri, dong!" aku cemberut. "Nanti aku ajak Mas ke Simpang Lima Gumul."
"Belum bisa, sayang. Minggu depan, ya? Mas usahain."
Senyumku seketika mengembang lebar. "Beneran, ya?"
"Iya. Selagi enggak ada keperluan mendadak. Tapi semoga enggak."
"Aamiin."
"Ngomog-ngomong, Kamu sudah jadi teleponan sama Ayah dan Bunda?"
"Udah, dong."
"Kapan?"
"Dua hari yang lalu."
"Apa kata mereka?"
"Mereka sempat minta maaf, tapi aku bilang enggak apa-apa. Malah seneng, sih." Aku tertawa. "Terus mereka nyuruh aku lekas balik, Mas. Cuma aku bilang nanggung. Ya emang nanggung, sih. Kan tiga minggu lagi selesai."
Sebenarnya tidak sesingkat itu. Saat aku teleponan dengan Ayah dan Bunda, mereka sempat menangis. Mereka tetap merasa bersalah karena menikahkanku tanpa izin. Aku pun ikut menangis karena memang kasusku ini sangat langka.
Namun, ya sudah. Karena yang dinikakan denganku adalah orang yang memang kuiinginkan menjadi suami, jadi tidak ada masalah lagi. Tangisan di sini sulit dijelaskan, tetapi yang pasti bukan dalam konotasi yang buruk. Kurasa lebih kepada menangisi proses yang tak sama dengan orang pada umumnya.
"Pasti Ayah sama Bunda udah kangen banget sama kamu. Anak semata wayang enggak pulang dua bulan."
"Aku juga kangen sama mereka, Mas. Cuma gimana, ya? Kalau pulang sehari aja itu capek di badan doang. Kangen juga belum sembuh. Lagian bisa telepon, seenggaknya bisa ngurangin kangen-"
"Denger suaramu bikin Mas pengen terbang ke Kediri, Nin."
Senyumku terbit. "Ya sini, to, Mas."
Hening, tidak ada jawaban. Aku melihat layar ponsel, panggilan masih terhubung.
"Mas? Kok diam?"
"Hah?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
