Bab 20. Panggilan Baru

3.2K 288 88
                                        

                "Anin, selamat!"

Untuk kesekian kalinya, hari ini aku mendapatkan ucapan selamat. Baik itu dari teman seangkatan, kakak tingkat, maupun adik tingkat. Tak lupa, ketiga sahabatku, yakni Ezra, Raya, dan Satya, juga datang. Mereka menjadi penyusup di acara seminar pagi ini. Pak Rafiq menyadari itu, tetapi dia memilih untuk tidak berkomentar apa pun. Aku sendiri tidak yakin apakah boleh atau tidak mahasiswa jurusan lain mengikuti acara seminar proposal.

"Nih, gue bawain kembang kuburan!" Ezra terkekeh sembari menyerahkan buket bunga padaku. "Dari kita bertiga, sih, yang bener."

"Bagus bener bunga kuburannya. Makasih, ya!"

Tidak ada hadiah apa pun dari orang lain kecuali bunga dari tiga sahabatku ini. Maklum, baru seminar. Bukan sidang, apalagi wisuda. Aku bahkan tidak berekspetasi akan mendapat bunga meski hanya satu buket. Justru di sini akulah yang menyiapkan banyak snack untuk para mahasiswa yang datang.

"Enggak usah foto-foto, ya. Baru seminar. Malu!"

"Eh, enggak bisa!" Raya menentang. "Ini buat dokumentasi kita bertiga aja. Walaupun seminar itu baru fase kecil, tapi tetap wajib dilalui. Jadi harus diabadikan."

"Ya udah, iya."

Setelah foto-foto sebentar, aku segera membereskan ruangan yang kugunakan untuk seminar. Setelah ini akan ada yang seminar lagi, kali ini dari kakak tingkat, jadi aku harus mengembalikan ruangan seperti sebelum dipakai.

"Nin, Nin!" Raya memanggilku setelah selesai merapikan kertas yang berserakan.

"Apa?"

"Ngomong-ngomong, aku kan tahu ya, Pak Rafiq itu ganteng. Tapi serius, aku enggak nyangka kalau dia seganteng itu aslinya. Fotonya udah ganteng, aslinya lebih ganteng lagi." Raya berujar pelan, barangkali dia tidak enak kalau ada anak jurusanku yang dengar.

"Cowok kan emang gitu. Emangnya cewek?" Ezra menyikut pelan pundak Raya. "Fotonya cantik, aslinya burik."

"Sekate-kate kalau ngomong! Aku mah tetap badai mau di foto atau real-nya."

"Iya, badai. Makanya pada kabur."

"Zra!"

"Ssst! Udah, udah. Malah ribut kalian ini!"

Setelah memastikan ruangan kembali seperti semula, kami segera keluar. Aku menyempatkan berterima kasih pada beberapa teman jurusan yang ikut membantu merapikan ruangan.

"Habis ini ada acara atau enggak, Nin?" tanya Ezra.

"Mau ke ruangan Pak Rafiq. Kan berita acaranya dia bawa."

"Lah? Enggak ditinggal?" balas Satya.

"Enggak, tuh. Aku disuruh ambil di ruangannya."

"Oh, oke."

"Kalau habis dari ruangan Pak Rafiq ada acara lagi atau enggak? Jam setengah duaan, deh. Soalnya sekarang udah dekat dzuhur. Nanggung."

Aduh! Aku jelas ada janji dengan Pak Rafiq.

"Ada apa, emang?"

"Gue mau traktir kalian bertiga. Ya makan, ya nonton. Bebas mau apa."

"Padahal aku yang seminar, Zra, masa kamu yang traktir?"

"Ini bukan dalam rangka kamu seminar, kok. Dalam rangka kita kumpul aja. Soalnya setelah hari ini, kemungkinan besar kita bisa kumpul lagi nunggu salah satu dari gue, Raya, atau Satya seminar."

"Oh, iya juga."

"Mau, ya, Nin?" Raya merangkulku. "Mumpung Ezra lagi baik hati."

"Gue baik hati terus perasaan." Ezra mencibir pelan.

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang