Bab 50. Mr. Vampire

2.9K 160 12
                                        

            Malam ini aku disidang.

Aku hanya bisa diam sembari terus meremas tangan. Raya dan Satya di depanku menatap tajam. Ada Ezra juga, tetapi anak itu memilih sibuk dengan ponselnya. Bagaimanapun, dia sudah tahu apa yang terjadi antara aku dan Mas Afiq.

Ngomong-ngomong, saat ini kami berempat sedang berada di rumah Raya. Karena rumahnya luas, lebih mudah untuk kami ngobrol tanpa terinterupsi orang tua.

"Kok diem aja, Nin?" tanya Satya. "Ngomong, dong!"

"Aku harus gimana? Kan kalian juga udah tahu."

"Kamu sebenernya masih anggap kami teman atau enggak, sih, Nin? Bisa-bisanya hal sebesar ini enggak bilang. Keterlaluan banget, jujur." Raya masih tampak marah, hanya dia berusaha untuk menahan emosinya.

"Kalau aku jelasin, apa kalian mau dengerin?"

"Kalau enggak diginiin, kamu enggak akan jujur, kan? Kalau Ezra enggak mergokin, kamu pasti masih akan nyembunyiin semuanya dari kami."

"Enggak juga, Ray. Niatku mau bilang kalian kalau Pak Rafiq udah beresin soal akreditasi. Jujur, masalah kami enggak sesederhana itu."

"Emang gimana? Makanya bilang, biar kami tahu."

"Sebelumnya aku beneran minta maaf. Situasiku enggak memungkinkan buat lekas jujur sama kalian."

"Ya udah. Sekarang kamu jujur. Kami dengerin dari awal sampai akhir. Tapi sekali kamu enggak jujur, kami beneran marah."

"Iya, ini aku mau jujur."

Aku melirik Ezra, dia mulai memperhatikan. Saat kami bicara tempo hari, aku belum bisa sepenuhnya jujur padanya. Jadi, kurasa dia juga penasaran.

"Aku harus mulai dari mana, ini? Aku sama Pak Rafiq pacaran, atau soal nikah?"

"Semuanya. Terserah mau dari mana aja."

"Oke."

Aku menghela napas panjang. Kutatap Raya, Satya, dan Ezra satu per satu. "Singkat cerita, aku sama Pak Rafiq pacaran, aku mutusin dia, terus tahu-tahu dia nikahin aku tanpa aku tahu."

"HAH?"

Baik Ezra, Raya, maupun Satya kompak melebarkan mata kaget. Mereka jelas terlihat tak menyangka. Mungkin bagian terakhir ini yang paling membuat mereka kaget luar biasa.

"M-maksdunya gimana itu, Nin? Kok bisa tiba-tiba nikah tanpa kamu tahu?"

"Aku jelasin, ya? Jangan dipotong. Kalaupun harus motong, jangan keluar dari bahasan dulu."

"Oke." Mereka bertiga kompak mengangguk.

"Jadi, aku sama Pak Rafiq pacaran karena kami saling tertarik satu sama lain. Singkatnya, ya cinta datang karena terbiasa. Kami saling kasih perhatian, baik secara langsung atau enggak langsung. Kami beneran saling suka dan saling sayang."

"Lalu kenapa kamu minta putus?" tanya Raya dengan mata yang memicing.

"Kami putus saat kami lagi sayang-sayangnya, Ray. Hubungan kami baik-baik aja, tapi aku minta putus." Air mataku tiba-tiba menetes. "Keadaan membuatku mau enggak mau harus mutusin Pak Rafiq."

"Kenapa, Nin? Lalu kenapa kamu tiba-tiba nangis?" Raya mendekat. Dia kini duduk di sebelahku. Ezra yang tadinya rebahan, kini sudah duduk di sebelah Satya.

"Pak Rafiq, kan, udah yatim piatu sejak lama. Dan Ayahnya itu meninggal karena ketabrak karyawan Ayahku."

"Hah? Serius?"

Inevitable Feelings Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang