Bab 21. Detak Jantung

2.9K 294 121
                                        

                Selama kondangan berlangsung, aku banyak diamnya. Aku menjawab jika ditanya, dan tersenyum jika diperlukan. Aku tidak ingin membuat onar dan berharap acara ini lekas selesai.

"Pak, ini yang khitan cucu anak pertama?" tanyaku memecah keheningan.

"Iya."

"Terus yang mau dijodohkan sama Bapak anak keberapa?"

"Bungsu."

Dulu Pak Rafiq pernah menyinggung tentang ini, tetapi aku lupa. Selain sudah lama, saat itu aku juga tidak benar-benar mendengarkan.

"Pak—"

"Itu Pak Zaki datang. Kamu jangan berani manggil saya Pak lagi di depan beliau."

Aku refleks menelan cepat-cepat makananku, lalu mengangguk. Sudah kepalang tanggung sampai sini, kalau aku menjalaninya setengah-setengah, nanti terasa sia-sia.

"Datang dengan siapa, Fiq?" tanya Pak Zaki sembari mengajak berjabat tangan. Beliau duduk di kursi yang ada di seberang meja. "Oh, yang dulu itu."

"Iya, Pak."

Pak Zaki tersenyum padaku, dan aku langsung membalas dengan ramah. Sepertinya Pak Rafiq benar kalau dosennya ini memiliki ingatan yang sangat kuat. Dia langsung ingat aku, padahal kami baru bertemu sekali, itu pun sudah sangat lama.

"Kerja di mana?" Pak Zaki bertanya padaku.

"Saya masih kuliah, Pak."

"S2?"

"Dia anak bimbingan saya, Pak." Pak Rafiq menjawab lebih dulu.

"Oh, kepincut mahasiswa sendiri, to?"

Pak Rafiq tersenyum. "Selagi tidak dilarang dan kami tetap professional, harusnya baik-baik saja, ya, Pak?"

"Pastinya. Ngomong-ngomong, Shani lagi di rumah, Fiq. Mau ketemu atau enggak?"

Bukannya menjawab, Pak Rafiq malah meraih tanganku dan menggenggamnya erat. "Boleh, Pak."

"Eh, tapi enggak usah aja. Nanti Bapak sampaikan kalau kamu datang."

"Baik, Pak."

Pak Rafiq memang cerdik. Dia bilang boleh, tetapi tangannya menggenggam tanganku. Tentu Pak Zaki langsung menyadari itu. Beliau pasti sadar diri tanpa harus mendapat penolakan.

"Ya sudah. Silakan dinikmati hidangannya. Bapak nemuin tamu lain dulu."

"Iya, Pak."

Ketika Pak Zaki berdiri, Pak Rafiq ikut berdiri. "Suka es krim atau enggak?" tanyanya sembari menyentuh pundakku.

"Suka, M-mas."

"Oke, aku ambilin."

"Iya."

Pak Zaki menatapku sejenak, lalu pergi tanpa mengatakan apa pun lagi. Pak Rafiq ikut menatapku. Dia tersenyum. "Kerja bagus."

***

"Akhirnya, selesai juga." Aku menyandarkankan punggung di sandaran kursi yang agak turun, lalu memejamkan mata sejenak. Pak Rafiq masih di luar, tadi dia mendapat telepon entah dari siapa.

"Terima kasih untuk hari ini."

Aku refleks menegakkan badan ketika pintu mobil dibuka dan si empunya masuk. Dia menatapku lurus, dan aku langsung nyengir.

"Sama-sama, Pak."

"Langsung kembali ke setelan pabrik."

"Hah?"

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang