Bab 43. First Kiss

4K 256 73
                                        

Saat aku bangun, aku merasa badanku jauh lebih ringan. Aku juga merasa jauh lebih baik daripada bangun tadi pagi. Napasku terasa lancar, tidak lagi tersendat-sendat.

Saat aku membuka mata, Pak Rafiq tidak ada di sampingku. Namun, aku mendengar gemericik air di kamar mandi. Kemungkinan dia ada di sana.

Seolah gerak refleks, saat aku duduk, aku langsung mengecek bajuku. Aman. Tidak ada yang aneh. Bahkan kancing teratasku juga masih mengait sempurna.

Tidak. Aku bukan berharap Pak Rafiq macam-macam padaku. Ini hanya reaksi naluriah karena sebelum tidur tadi, dia memelukku erat.

Krek!

Aku langsung menoleh ketika mendengar bunyi pintu. Benar saja, Pak Rafiq keluar kamar mandi. Aku mendelik ketika melihat dia hanya mengenakan kimono mandi yang panjangnya hanya sebatas lutut.

Sebelum dia menyadari kalau aku sudah bangun, aku langsung kembali berbaring dan pura-pura tidur. Tak lupa, aku menaikkan selimutku sampai hidung. Aku terus memegangi dada kiriku karena saat ini aku sedang berdebar-debar.

Sayup-sayup aku merasakan langkah kaki medekat. Detik berikutnya, kasur di depanku bergerak. Seribu persen Pak Rafiq duduk di sana. Setelah itu, aku merasakan ada tangan lembab menyentuh keningku beberapa kali.

"Syukurlah, udah dingin."

Aku nyaris berteriak katika Pak Rafiq menarik selimut dan menciumi pipiku. Aku merasa milyaran kupu-kupu menyerbu perutku dalam waktu bersamaan. Rasanya sungguh sulit dijelaskan.

Aku merasakan Pak Rafiq bangkit dan menjauh. Dia mungkin bergegas ganti baju. Karena tidak mungkin terus pura-pura tidur, aku sok-sokan menggeliat dan balik badan. Tentu saja tidak langsung bangun. Aku masih pura-pura mengumpulkan nyawa.

"Tadi teleponmu bunyi terus."

Mendengar itu, aku langsung membuka mata. Namun, detik itu juga aku menjerit. "Aaa! Mataku ternodai!"

Aku langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangan ketika melihat Pak Rafiq hanya mengenakan celana hitam setengah paha. Itu bukan celana boxer. Sepertinya itu celana dalam versi 'sopan'.

"Kenapa jerit-jerit?"

"Kenapa enggak bilang kalau lagi enggak pakai baju?"

"Memangnya kenapa?"

"Oh, ayolah, Pak! Saya masih syok gara-gara tadi. Jangan ditambahin dulu!"

"Kembali panggil Pak? Pakai saya juga?"

"E-eh ... lupa."

Saat aku menurunkan tangan, Pak Rafiq sudah mengenakan celana panjang warna cream dan kaos polos hitam. Dia berjalan mendekat, membuatku menarik selimut erat-erat.

"Kenapa reaksimu begitu? Kenapa seolah-olah kita ini masih asing? Penjelasan Mas tadi pagi enggak cukup, Nin?"

"B-bukan gitu." Aku menggeleng. "Aku c-cuma masih belum terbiasa. Maafin aku, Mas."

"Sepertinya demammu udah turun."

Aku menyentuh keningku sendiri, lalu mengangguk. "Kayaknya iya."

"Kamu juga enggak bersin dan batuk sejak tadi."

"Iya."

"Itu artinya, kamu udah sembuh?"

"Hampir. Kalau sepenuhnya mungkin belum. Mana ada sekali sembuh langsung semuanya? Yang ada perlahan-lahan."

Pak Rafiq tiba-tiba menunjuk ponselku. Ternyata ada panggilan datang.

"Lagi-lagi dari Haris. Dia yang waktu itu ketemu kita di rumah makan, kan?"

Inevitable Feelings Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang