"Anin, udah makan malam belum?" tanya Brina tepat setelah les selesai. Anak itu berkemas cepat-cepat dan menghampiriku. "Kalau belum, gimana kalau kita makan mie ayam langganan? Lagi kangen, nih, aku!"
"Kalau ngomongin belum, ya jelas belum. Cuma aku udah janjian makan malam sama seseorang." Aku meringis. "Lain kali aja, ya?"
"Bentar! Janjian? Sama siapa? Jangan bilang Kak Haris? Apa kalian jadian?"
"Siapa juga yang bilang Kak Haris? Bukan, bukan dia!"
Brina memang tahu tentang Kak Haris yang sempat menembakku. Selain karena aku cerita, Brina juga sempat jadi jembatan di antara kami. Namun, dia belum tahu kalau aku telah menolak.
"Terus siapa?"
"Dari Jogja, kok."
"Eh, eh, eh! Kamu diam-diam punya pacar di Jogja? Kok diam aja?"
"Emang harus banget woro-woro?"
"Eh, serius? Kupikir kamu jomblo! Orangnya mana, Nin?"
"Lagi otw. Hehe!"
Setelah berdiskusi kembali dengan Mas Afiq, akhirnya kami memutuskan untuk mengaku pacaran di depan teman-temanku. Kami tidak jadi menyembunyikan sepenuhnya. Mas Afiq bilang, jika memang pernikahan kami harus dirahasiakan, temanku tetap harus tahu kalau aku sudah ada yang memiliki. Dia khawatir kalau ada another Kak Haris.
Aku pun akhirnya setuju. Jika dipikir lagi, usulnya benar juga. Setidaknya teman atau kenalan yang di sini tidak akan ada yang mendekatiku lagi karena tahu aku sudah tidak single.
"Aku mau lihat, Nin. Boleh, ya?"
"Iya, boleh. Aku juga udah cerita tentang kamu, kok, ke dia. Kan dia tanya tentang teman dekatku selama di sini."
"Oke, oke."
"Ayo, keluar."
"Bentar. Beneran pacar, Nin? Atau baru gebetan? Tadi kamu belum jawab dengan jelas."
Aku hanya meringis, membiarkan Brina menebak-nebak sendiri. Ya, sekalian biar aku tidak terlalu banyak berbohong.
Berikutnya, kami pun keluar. Aku menunggu di bangku yang ada di halaman gedung. Sementara itu, Brina berdiri di sebelahku.
"Eh ... itu bukan, Nin?" Brina menunjuk seberang jalan. Aku menatap arah yang Brina tunjuk, lalu mengangguk.
"Iya, itu dia orangnya."
Mas Afiq datang menggunakan motor karena malam ini kami belum mendapatkan mobil untuk disewa. Selain itu, naik motor bagiku juga oke-oke saja karena toh hanya sementara.
"Sumpah, Nin! Ganteng banget!"
Aku berdiri, lalu menarik Brina mendekat. Kulihat Mas Afiq tersenyum begitu melihatku.
"Udah selesai, Nin?" tanyanya begitu aku dan Brina sudah berhasil menyeberang jalan.
"Udah, Mas. Oh iya, ini kenalin temen deketku selama di sini. Brina."
Mas Afiq mengangguk. "Oh, Brina?"
"Iya, Mas. Saya Brina." Brina mengulurkan tangannya dan Mas Afiq menjabatnya sesaat.
"Rafiq."
Brina meyenggolku dan aku balas menyenggolnya. Wajar Brina memanggil Mas Afiq dengan panggilan Mas karena dia tidak tahu kalau Mas Afiq adalah dosenku. Wajah Mas Afiq juga cukup awet muda. Mungkin Brina mengira kalau perbedaan umur kami hanya sedikit.
"Aku pulang dulu, ya, Brin." ujarku lirih, tapi Mas Afiq pasti mendengarnya. "Makan barengnya lain kali aja."
"Okeeeh. Have fun, Nin!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
