Harus bagaimana aku setelah ini?
Itu adalah pertanyaan yang memenuhi otakku sejak hari rabu kemarin dan berlanjut sampai hari ini, yakni selasa sore. Besok jadwalku bimbingan dengan Pak Rafiq. Bimbingan sebelumnya aku semangat karena pembahasanku sudah hampir final, tetapi gara-gara pengakuan Pak Rafiq yang tiba-tiba, aku mendadak enggan.
Aku tidak munafik. Iya, kuakui kalau aku menyukai Pak Rafiq. Itu artinya, perasaan kami berbalas satu sama lain.
Namun, bukan seperti ini yang kuinginkan. Serius, sama sekali bukan ini!
Jujur, aku tidak habis pikir dengan Pak Rafiq. Kenapa dia harus mengungkapkan perasaannya minggu lalu dan bukannya menunggu aku lulus? Itu membuatku sangat canggung dan serba salah. Setidak-ingin apa pun aku bertemu dengannya, aku tetap harus menemuinya karena aku membutuhkannya.
"Oh, ya ampun!"
Aku berdiri, lalu berjalan ke arah ranjang. Aku menghempaskan badanku di sana. Kutatap langit-langit kamarku yang putih bersih karena baru saja dicat ulang bulan lalu.
"Kenapa Pak Rafiq harus suka aku? Kenapa harus aku dari sekian banyak mahasiswanya? Dan kenapa harus aku juga di saat dia punya banyak teman wanita?"
Menyukai dan disukai dosen sendiri tidak pernah ada dalam kamusku sebelumnya. Aku tidak pernah membayangkan akan menyukai orang yang umurnya jauh di atasku. Ditambah lagi, dia adalah orang yang harus kuhormati.
Bagaimana mungkin aku memiliki perasaan pada orang yang sebenarnya adalah 'orang tua'-ku di kampus?
Aku memejamkan mata sesaat. Kepalaku agak pening.
Mataku masih terpejam ketika tiba-tiba terdengar dering ponsel dari arah meja belajar. Aku segera bangun dan meraihnya. Mataku mendelik begitu melihat nomor Mbak Iva tertera di layar.
Kenapa Mbak Iva tiba-tiba meneleponku?
Aku menghela napas beberapa kali sebelum akhirnya memantapkan diri untuk mengangkat telepon. Ini pertama kalinya Mbak Iva meneleponku meski kami sudah cukup sering chat-an sejak aku datang ke rumahnya untuk pertama kali.
"Hallo, Mbak?" aku menyapa hati-hati.
"Hallo, Anin. Kamu lagi chat-an sama Afiq atau enggak?" suara Mbak Iva terdengar buru-buru.
"Enggak, Mbak. Kenapa?"
"Kamu hari ini kuliah?"
"Iya, Mbak. Saya kuliah."
"Lihat Afiq di kampus atau enggak?"
Aku terdiam sejenak untuk mengingat. Tidak, hari ini aku tidak melihat Pak Rafiq di kampus.
"Enggak, Mbak. Saya kebetulan kuliah full, jadi keluar kalau ganti jam aja."
"Oh, gitu. Mbak lagi kepikiran, Nin. Afiq enggak angkat telepon dari semalam. Kira-kira dia ke mana, ya? Kamu beneran enggak chat-an sama sekali?"
"Enggak, Mbak, soalnya besok jadwal ketemu buat bimbingan. Hehe ..."
"Mbak lagi nunggu balesan Pak David."
"Kenapa sama Pak David?" Pak David adalah dosen matematika juga.
"Dia cukup dekat dengan Afiq. Mbak Lagi tanya dia, tadi Afiq berangkat ke kampus atau enggak- eh, bales. Enggak, Nin. Kata dia, Afiq enggak ke kampus hari ini. Dia juga chat Afiq, tapi enggak dibalas." Suara Mbak Iva mulai terdengar panik.
"Mbak Iva lagi di mana sekarang?"
"Mbak lagi di Surabaya, ikut Mas Hakim. Dana juga ikut. Kalau Mbak di Jogja, udah pasti Mbak samperin ke rumahnya. Mbak Khawatir dia sakit."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
