Bab 51. Sebelum benar-benar SAH

2.9K 152 18
                                        

Akhirnya, urusan pekerjaan Mas Afiq selesai juga. Dalam waktu kurang lebih dua minggu, kami terus mengurus persyaratan pernikahan. Semua dilancarkan, tidak ada kendala sedikit pun.

Kini, kami sedang makan berdua di rumah setelah sebelumnya pulang dari Kantor Urusan Agama untuk mendaftar. Bisa dibilang, semua hal-hal yang diperlukan sebelum pernikahan resmi digelar, sudah selesai kami jalankan. Kami tinggal menunggu hari-H saja.

"Anin ..."

Panggilan itu membuatku menoleh. "Iya, Mas, kenapa?"

"Sejak keluar KUA, Mas perhatiin kamu banyak melamun. Ada apa? Apa yang kamu pikirin?"

Aku tersenyum, lalu menggeleng. "Enggak, kok. Enggak papa."

"Enggak mungkin enggak papa. Pasti ada sesuatu."

"Hm ... gimana, ya? Cuma kepikiran dikit aja. Enggak sampai yang gimana-gimana."

"Kepikiran apa?"

"Sebenarnya aku lagi ngerasa enggak enak banget sama Mas."

"Kenapa enggak enak?"

"Kemarin Bunda akhirnya jujur kalau Mas ngasih uang mahar gede banget. Padahal ... Mas, kan, tinggal sendiri selama ini. Enggak ada sokongan orang tua. Kalaupun ada, paling Mbak Iva. Apa perlu sebanyak itu maharnya?"

Kini Mas Afiq yang tersenyum. "Masalah uang memang akan sedikit sensitif untuk dibahas. Tapi kalau boleh Mas jelasin secara singkat dan gampangannya aja, Mas kasih mahar segitu buat menghormati kamu dan juga kedua orang tuamu. Itu aja."

Mataku langsung menyipit. Aku sengaja diam, menunggu Mas Afiq melanjutkan kalimatnya.

"Kamu itu anak Ayah dan Bunda satu-satunya. Setidaknya, mereka harus bener-bener tenang kalau Mas ini mampu jadi suamimu. Mampu nafkahin kamu, sekalipun misal kamu sama sekali enggak kerja. Kalaupun kerja, itu karena mengisi waktu luangmu atau menyalurkan bakatmu, bukan untuk membantu perekonomian rumah tangga. Mas bukan maksud pamer, tapi Mas ingin ngeyakinin mereka aja. Karena jujur, awal-awal Mas nikahin kamu— tepatnya saat kamu belum tahu, Bundamu kelihatan agak gimana gitu. Mas jujur begini bukan karena mau bilang jelek tentang Bunda, enggak sama sekali. Justru Mas paham, Bunda itu mengkhawatirkanmu. Again, kamu ini anak beliau satu-satunya. Eh, malah dipaksa dinikahin anak yatim piatu yang hanya punya satu kakak ini. Yang udah bertahun-tahun hidup sendiri setelah kakak punya keluarga baru. Gimana enggak ragu?"

"Mas, ih!" entah kenapa, air mataku langsung keluar begitu aja. "Mas jangan ngomong gitu! Aku enggak suka dengernya."

"Tapi itulah kenyataannya, Nin. Ini fakta yang engak bisa ditampik sama sekali."

Aku segera meraih tangan Mas Afiq dan menggenggamnya erat. "Mas hebat banget selama ini. Justru dengan segala kemandirian Mas, Ayah dan Bunda harusnya enggak perlu khawatir aku dibawa. Mas bukan anak mami yang tahunya berlindung di ketiak ibu. Mas bisa dengan sangat baik mengurus diri sendiri sampai seperti sekarang. Itu artinya, ngurus aku bukan hal yang sulit buat Mas."

"Jadi maunya diurusin?"

Meski air mataku masih menetes, tetapi aku mengangguk. "Iya. Maunya diurusin! Tapi aku juga mau ngurusin balik. Nanti kita bagi tugas."

"Itu gampang. Bisa kita diskusiin lagi."

Kini aku mengapit lengan Mas Afiq, lalu menyandar padanya. Makanan kami memang sudah habis, tinggal minum saja yang belum. Meski makan di rumah, tetapi makanannya kami beli di luar. Pasalnya, kami sudah terlampau lapar. Tak sempat masak sendiri.

"Mas ..."

"Hm?"

"Mas masih belum jujur sama aku tentang satu hal."

Inevitable Feelings Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang