Aku mematut diriku di depan cermin. Serius, dress yang kupakai cantik sekali dan sangat pas di badanku. Pak Rafiq benar-benar pandai mengira-ira.
Ya, dress ini memang dari Pak Rafiq. Aku sudah mengonfirmasi padanya langsung.
Setelah mendapat paket miterius tak bernama itu, aku segera menghubungi Pak Rafiq. Dia langsung mengiyakan. Katanya, dia hanya iseng membeli itu. Entah iseng atau tidak, sejujurnya aku masih tak habis pikir dia membelikanku baju.
"Oh, Pak Rafiq udah sampai." Aku segera meraih tas di atas ranjang, lalu memasukkan ponsel ke dalamnya. Setelah itu, aku bergegas keluar kamar.
Aku sudah minta Pak Rafiq menungguku di dekat warung makan nasi uduk ujung kompleks. Karena dia yang mengajakku, maka dia membebaskanku memilih tempat bertemu.
"Wah, bajunya langsung dipakai, Nin?" aku berjengit kaget begitu mendengar suara Bunda.
"Bunda, ih! Ngagetin aja!"
Bunda hanya tersenyum, lalu beliau jalan ke arah tangga. "Pagi ini Bunda masak nasi goreng. Nasi kemarin sisa banyak soalnya. Daripada dibuang, Bunda manfaatkan. Ayahmu kebetulan pengen nasi goreng."
"Aku sarapan di luar aja, ya, Bun." Aku tidak mungkin membiarkan Pak Rafiq menunggu lebih lama.
"Lho? Memangnya buru-buru?"
"Iya. Aku ada acara pagi."
"Acara apa?"
"Sama temen pokoknya. Aku duluan, ya, Bun." Aku langsung mencium tangan Bunda dan berlari keluar.
"Nin-"
"Salam buat Ayah, Bun. Aku berangkat dulu." Aku berteriak lantang.
"Jangan pulang malam-malam, tapi! Hape wajib aktif!" Bunda membalas juga sambil berteriak.
"Siap, Kanjeng Mami!"
Bunda hanya geleng-geleng kepala, lalu beliau terlihat menuju teras belakang. Aku mengusap dada lega, untungnya Bunda tidak maksa bertanya lebih lanjut. Mungkin karena selama ini aku tidak pernah berbuat onar di luar, jadi beliau percaya padaku.
Aku jalan kaki sampai ujung kompleks. Senyumku langsung mengembang begitu melihat mobil yang sudah kukenal, parkir di pinggir jalan.
Tiba-tiba, pintu mobil sebelah kanan dibuka dari dalam. Kini muncullah Pak Rafiq yang sukses membuatku melongo selama beberapa saat.
Dia pasti sengaja!
"Bapak pakai baju Navi juga?"
"Ya. Cepat, masuk."
Aku patuh saja sebelum ada orang yang kukenal melihatku di sini. Begitu masuk, aku langsung disodori kotak mika berisi dua onigiri dengan ukuran cukup besar.
"Belum sarapan, kan?"
Aku menggeleng pelan. "Belum, Pak."
"Ini untuk sarapan. Makan paling cepat di rumah Mbak Iva pasti siang. Kalau kamu pingsan karena belum sarapan, saya yang repot."
"Hehe .... terima kasih, Pak."
Aku menerima kotak mika itu, lalu buru-buru memasang seat belt. Tak berselang lama, Pak Rafiq mulai menjalankan mobilnya.
"Pak, ini Bapak bikin sendiri atau beli?" tanyaku setelah membuka kotak mika dan langsung mencium bau wangi minyak wijen. Dari baunya saja sepertinya akan enak.
"Saya bikin sendiri. Saya tadi juga sarapan dengan itu."
"Bikin berapa?"
"Enam."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
