"Jadi dua minggu lagi kemungkinan saya sudah bisa daftar seminar, Pak?" aku sampai menutup mulut karena saking senangnya mendengar Pak Rafiq akan segera Acc proposalku. Dia bilang pembahasanku yang sekarang sudah cukup untuk diseminarkan. Tinggal aku finishing bab satu dan bab dua saja.
"Iya, tapi dengan syarat itu tadi, bimbingan rabu depan bab satu dan bab dua harus sudah diperbaiki sesuai interuksi saya. Kalau kamu salah lagi, nanti mundur lagi. Sama sekalian kamu persiapkan syarat lainnya. Ada yang membutuhkan tanda tangan Pak Alif. Dan kamu tahu sendiri, Pak Alif itu sulit ditemui."
Pak Alif adalah ketua jurusan matematika universitasku. Benar kata Pak Rafiq, beliau adalah dosen yang sulit ditemui. Kadang-kadang, dalam satu minggu aku bisa tidak lihat beliau sama sekali. Beliau sering ada urusan di luar kota.
"Siap, Pak. Kira-kira kalau saya seminar dalam waktu tiga minggu ke depan, kapan saya bisa sidang?"
"Ya tergantung kamu. Kapan kamu akan menyelesaikan keseluruhan skripsimu. Tapi yang jelas, kamu harus menunggu selesai UAS dan semua nilai kamu semester ini keluar."
"Oh iya, bener. Tapi UAS masih lama, Pak."
"Kata siapa? UAS tidak ada tiga bulan lagi. Itu akan terasa cepat. Kamu persiapkan seminar proposal sambil selesaikan pembahasan yang tersisa. Meski tinggal sedikit, justru itu intinya."
"Saya belum menemukan jawaban buat lanjutan teorema terakhir, Pak. Otak saya buntu. Sulit untuk pecah partisinya."
"Referensi teorema yang itu ada di buku yang saya kasih minggu lalu. Kamu sudah baca atau belum?"
Aku meringis. "Belum, Pak."
"Itu mahal. Rugi kalau tidak dibaca. Saya menyarankan buku itu karena sepertinya akan membantu penelitianmu. Sekalipun berbeda ruang, tapi kamu bisa ikuti langkahnya. Coba lebih teliti lagi."
"Siap, Pak. Nanti bukunya segera saya baca."
Buku yang Pak Rafiq maksud berbahasa inggris. Untuk memahaminya, aku butuh kerja dua kali. Pertama menerjemahkan, kedua baru menelaah maksudnya. Terlebih lagi, entah kenapa Bahasa Inggris yang digunakan di buku matematika itu berbeda dengan Bahasa Inggris yang biasa kutemukan di buku lain. Selain baku, juga terasa agak asing.
"Kalau begitu, bimbingan hari ini cukup sampai di sini."
"Baik, Pak. Terima kasih banyak."
"Saya juga terima kasih atas donatnya."
Aku tersenyum. "Sama-sama, Pak."
"Sebentar, Anin." Pak Rafiq menahanku meski tangannya menggantung di udara.
"Iya, Pak?"
"Mbak Iva minta ketemunya diajukan."
Aku mendelik. "Beneran jadi sama saya, Pak?"
"Kalau bukan?"
"Memangnya kapan Mbak Iva minta ketemu?" jujur saja, kalau ingat janjiku yang satu ini, ingin rasanya aku kabur entah ke mana.
"Dia minta weekend ini. Kalau tidak sabtu ya minggu."
"Apa yang harus saya lakukan di depan Mbak Iva?"
"Kamu hanya perlu ikut saya ke rumahnya. Mungkin di sana hanya makan dan ngobrol sebentar. Selama ngobrol inilah kamu harus menjawab dengan meyakinkan dia kalau kita betul-betul—"
"Pacaran?" aku sengaja menyela.
Pak Rafiq menggeleng. "Kapan saya minta kamu jadi pacar saya di depan Mbak Iva?"
"Lho? Terus?"
"Calon istri."
Aku melongo sesaat. Benar-benar, Pak Rafiq ini!
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
