"Ehm!"
Deheman Bunda refleks membuatku melengos. Sebisa mungkin aku menghindari kontak mata dengan beliau. Tentu saja, ini masih efek beberapa saat yang lalu, saat beliau tiba-tiba masuk ke kamarku tanpa ketuk pintu.
Aku sendiri baru saja mengantar Mas Afiq sampai depan. Dia juga tampaknya malu, hanya dia lebih pandai menyembunyikan ekspresi. Mau tidak mau, dia berlagak baik-baik saja saat pamitan dengan Ayah dan Bunda.
"Bunda minta maaf, Nin. Bunda akan pura-pura enggak lihat yang tadi."
"Bunda, ih!" aku cemberut. "Aku udah punya suami, lho. Jangan masuk kamarku sembarangan lagi."
Bunda kini menarikku ke sofa. "Bunda beneran minta maaf. Bunda akan pura-pura enggak lihat. Tolong dimaklumi, Nin. Kan ini baru hari pertama. Posisinya juga baru ini kamu dan Pak Rafiq bareng lagi di depan Bunda."
"Udah jadi menantu, kok, manggilnya masih Pak Rafiq aja, Bund? Diganti, dong. Rafiq, gitu."
"Biasanya Bunda manggil Rafiq aja, tapi ini ngobrol sama kamu malah kebawa lagi." Tangan Bunda kini terulur mengusap kepalaku. "Bunda lihat-lihat, kamu beneran kelihatan bahagia."
"Ya memang. Meski mengagetkan, tapi aku beneran bahagia. Ya gimana, ya, Bund? Hubungan kami lagi baik-baiknya sebelum fakta itu terungkap."
"Iya, Bunda paham. Makanya setelah berunding cukup lama, akhirnya Ayah dan Bunda setuju sama usulnya yang ingin menikahimu." Bunda tersenyum. "Gimana Rafiq selama di Kediri?"
"Gimananya ini gimana? Bunda nanyanya yang lengkap, dong."
"Dia terus memperlakukanmu dengan baik, kan?"
"Jelas! Malah sangat baik."
"Kalian tinggal di mana selama di sana?"
"Ya di hotel. Di kosku kan enggak boleh, orang itu kos putri. Cowok dilarang masuk kecuali orang tua atau ada urgent aja."
Bunda tersenyum, dan entah kenapa senyum beliau membuatku malu. Sepertinya, aku tahu apa yang ada di pikiran Bunda saat ini.
"Sebaiknya jangan gegabah, ya, Nin. Kalian memang udah menikah, tapi baru nikah siri. Baru sah di mata agama aja. Negara belum. Ngurus akta anak itu repot kalau tanggal nikah dan tanggal lahir anak enggak sinkron."
"Udah kutebak Bunda akan bahas ke arah itu."
"Pipimu merah."
Aku langsung menunduk dan menutupi wajah. "Ya malu, ih!"
"Bunda enggak akan tanya kamu sama suamimu ngapain aja. Wong, ya, udah halal. Bebas! Tapi soal hamil itu kalau bisa jangan dulu. Tunggu sampai pernikahan kalian tercatat di negara. Jadi kalau ada apa-apa, itu mudah diurusnya. Ada hukum yang menaungi."
"Aku paham itu, kok, Bund. Jadi kami belum ngapa-ngapain."
Bunda mencibir pelan, tampak sangat meragukan kalimatku. "Tadi aja langsung pangku-pangkuan, kok, enggak ngapa-ngapain. Mustahil! Bunda, kan, juga pernah jadi pengantin baru."
"Ya pangku-pangkuan mah enggak bikin hamil, Bun. Yang bikin hamil belum, tapi yang lain ya ... gitu, deh."
Bunda tertawa karena akhirnya aku jujur juga. "Enggak papa. Perjuangan suamimu buat halalin kamu itu enggak mudah. Jangan bikin dia terlalu kecewa."
"Mas Afiq juga paham, kok, Bund. Makanya selama di sana kami kaya orang pacaran aja, tapi pacaran versi berani dikit." Aku terkekeh. "Bukan yang pacaran kebablasan."
"Iya. Bunda beneran bahagia kamu kelihatan baik-baik aja gini. Bunda sempet takut dan nyesel udah lancang, tapi sekarang enggak lagi."
"Pokoknya selagi Mas Afiq, aku oke-oke aja."
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
