SAH.
Akhirnya, aku dan Mas Afiq telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bukan lagi hanya di mata agama, tetapi juga negara. Pernikahan kami kini dilindungi hukum.
Teman-teman alumni terkaget-kaget saat aku menyebar undangan H-seminggu sebelum acara digelar. Saat itu, seharian full, ponselku terus berbunyi. Teman-teman membanjiriku pertanyaan dari A-Z.
Aku sudah mengekspektasikan ini, jadi aku tidak kaget. Justru malah aneh kalau mereka biasa saja. Pasalnya, jelas-jelas aku dan Mas Afiq menyembunyikan hubungan kami sejak awal.
Mengenai Ayah dan Bunda, mereka menitikkan air mata. Barangkali mereka sedih karena aku akan segera diboyong ke rumah Mas Afiq. Mungkin aku hanya akan menginap semalam atau dua malam saja di rumah mereka— atau rumah yang selama ini kutempati.
Mbak Iva dan Mas Hakim tentu datang. Tak lupa, anak mereka juga dibawa. Keluarga inti kami yang tak seberapa ini tidak ada yang terlewat. Semua menyambut dengan suka cita.
Aku sendiri terus berdebar saat Mas Afiq mengucapkan akad dengan Ayah yang disaksikan penghulu dan para saksi. Karena akad yang sebelumnya aku tidak lihat secara langsung, jadi akad yang ini terasa sekali hikmadnya.
Aku didampingi Raya, Satya, juga Ezra. Mereka datang pagi-pagi sekali, membawakanku bingkisan besar sebagai kado pernikahan.
Pokoknya, acara hari ini berlangsung sangat lancar. Sejak akad sampai resepsi selesai, tidak ada kendala apa pun.
"Anin ..." panggilan itu membuatku menoleh. Senyumku langsung merekah begitu melihat Mas Afiq masuk kamar membawa nampan. Aku yang sedang jongkok untuk mengambil kotak P3K, seketika berdiri.
"Mas bawa apa itu?"
"Bunda bilang, dari pagi kamu makan dikit banget. Jadi, Mas diminta bawa makanan ke atas. Kamu sendiri bawa kotak apa, itu?"
"Oh, ini. P3K." Aku nyengir.
"Lho? Kamu luka?"
"Iya. Heels-nya kekecilan, Mas. Jadi lecet dikit. Habis mandi, kok, kerasa perih banget."
"Ya ampun, Nin! Kenapa enggak bilang?"
"Mulanya kekecilan dikit, jadi biasa aja. Pikirku toh cuma dipakai duduk sama berdiri. Jalannya enggak seberapa. Eh, tahunya tetap lecet, Mas."
"Kamu sekarang sini! Mas lihat dulu lukanya."
Mas Afiq duduk di sofa, lalu meletakkan nampan di meja. Begitu aku ikut duduk, Mas Afiq langsung meraih kakiku.
"Kanan, atau kiri?"
"Dua-duanya."
"Bisa-bisanya enggak ngeluh?"
"Tadi beneran enggak kerasa, Mas. Ketutup sama euforia resepsi, kayaknya. Kerasa perihnya betulan habis mandi. Mungkin karena kena air dan sabun."
Aku tersentak ketika Mas Afiq tiba-tiba menarik kakiku dengan santainya. Tidak cukup ditarik, kini kakiku dia taruh di atas pangkuannya.
"Sampai merah gini, Nin. Agak ngelupas."
"Memang iya, makanya perih."
"Kamu makan dulu selagi Mas olesin salep. Mana salepnya?"
"M-mas, aku enggak enak kalau kakiku ditaruh situ—"
"Kenapa enggak enak? Harusnya biasa aja, kecuali kamu masih nganggep Mas ini dosenmu, bukan suamimu."
Aku langsung diam.
Mas Afiq mengambil piring berisi lauk-pauk, lalu menyerahkannya padaku. Setelah itu, dia mulai memilih salep.
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
RomanceAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
