Happy Reading!
Vote dulu, lalu komennnya jangan lupa. 😘 ♥️
___
Satu bulan berlalu dengan sangat cepat.
Tak terasa, besok sudah penutupan KKN di kelurahan dan kecamatan. Aku bahagia, tetapi juga sedih di saat yang sama. Aku bahagia karena sebentar lagi bisa bebas dari segala proker KKN yang cukup menguras tenaga, pikiran, dan biaya, tetapi juga sedih karena akan berpisah dengan teman satu kelompok.
Kami bersepuluh sudah seperti saudara. Bagaimana tidak, dari bangun tidur sampai tidur lagi kami lalui bersama-sama. Dari yang mulanya masih serba canggung karena belum kenal, sampai akhirnya kami semua lupa apa itu jaga image.
Sepuluh orang kelompokku terdiri dari empat cowok dan enam cewek. Yang cowok ada Ridho, Agus, Farid, dan Imam, sementara yang cewek ada aku, Ida, Putri, Dewi, Ani, dan Zahra. Kami semua berasal dari sepuluh jurusan yang berbeda.
Bicara KKN, itu identik dengan cinlok alias cinta lokasi. Kelompokku ada? Ada!
Agus dan Zahra adalah korban cinlok KKN kelompokku. Mereka dekat sejak awal dan baru jadian minggu lalu. Meski begitu, sejak awal kami sudah mewanti-wanti satu sama lain untuk tahu batasan. Cinlok bukan larangan asal tidak berimbas ke hal lain, seperti contoh kekompakan kelompok ataupun kelancaran proker.
"Ngelamun, Nin?" suara berat itu membuatku terkejut.
Ternyata Farid. Dia datang membawa dua cangkir kopi kecoklatan. Sudah pasti, itu kopi sachet yang dibawa Ani dari awal KKN. Dia membawa setidaknya lima puluh sachet kopi instan untuk diminum gratis setiap anggota.
"Iya, Rid. Lagi gabut aja."
Farid duduk di sebelahku lalu mengulurkan satu cangkir kopi. "Biar enggak gabut-gabut amat."
"Thanks!"
Farid adalah ketua kelompok. Dia anak Teknik Mesin. Satu species dengan Satya. Perawakannya tinggi, kulitnya sawo matang. Dia manis, bahkan kataku sangat manis. Dia memiliki dua lesung pipi kecil yang seringkali membuat orang lain salah fokus. Dia tegas dan cekatan, public speaking-nya juga bagus. Itulah kenapa dia dipilih menjadi ketua kelompok.
"Besok malam meski kita masih di sini, tapi udah enggak bisa santai-santai kaya gini lagi, Nin. Besok setelah penutupan bakal hectic buat pamitan dan packing-packing."
Aku mengangguk. "Sebulan ternyata cepet banget, ya, Rid?"
"Karena kita ngelaluinnya bahagia. Segala sesuatu yang membahagiakan biasanya emang kerasa singkat. Berbanding terbalik kalau kitanya enggak bahagia. Jenuh, misalnya. Satu bulan rasanya enggak kelar-kelar."
"Bener banget." Aku menyeruput pelan kopi di tanganku. Masih panas, jadi harus hati-hati. "Thanks banget, ya, Rid. Kelompok kita dapat banyak pujian dari DPL dan warga. Semua itu berkat kamu."
"No. Berkat kita semua."
"Tapi arahanmu bagus—"
"Dan arahanku enggak akan ada gunanya kalau kalian enggak kompak."
Ketika aku menoleh, Farid juga menoleh. Dia tersenyum.
"Ah! Kapan lagi aku punya temen secantik kamu, Nin. Temen-temen jurusanku rata-rata batangan semua."
Aku tertawa pelan.
Jujur, aku sedikit berdebar. Aku tidak tahu apakah sebenarnya aku juga korban cinlok atau tidak, tetapi yang jelas, aku menyukai Farid. Suka di sini juga masih membuatku bingung. Apakah rasa sukaku hanya sebatas rasa kagum karena dia memang hebat dalam memimpin, atau justru lebih dari itu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Inevitable Feelings
DragosteAnindya Githa Prameswari (Anin), mahasiswa matematika semester tujuh yang sedang bergelut dengan tugas akhir. Di masa-masa terakhir kuliahnya, dia ditunjuk menjadi ketua angkatan oleh teman-teman satu jurusan. Itu mengharuskan dia sering berurusan d...
