Bab 49. Rasa Bersalah yang Berkepanjangan

3.1K 179 17
                                        

Kini, aku dan Ezra sudah duduk berhadap-hadapan di sebuah kedai kopi yang lokasinya hanya kisaran lima ratus meter dari rumah Mas Afiq. Kedai itu tidak terlalu ramai, tetapi tidak pula terlalu kosong. Meski tidak besar, tetapi tetap ada live music yang cukup menghibur pengunjung.

Tentu saja, aku sudah izin Mas Afiq untuk mengobrol berdua dengan Ezra. Dia bahkan mengantar kami ke sini, tetapi pulang lagi. Aku yang memintanya pulang karena andai dia ikut, suasanya pasti akan sangat canggung.

Namun, Mas Afiq bilang padaku akan tetap mengantarku pulang. Dia nanti akan datang menjemput kalau obrolanku dan Ezra sudah cukup.

"Pasti kaget banget, ya, Zra?" aku membuka percakapan tepat setelah pelayan mengantar pesanan. Ezra pesan kopi pahit, sementara aku pesa coklat hangat.

Memang kontras!

"Otakku penuh banget, Nin. Jujur aja. Banyak banget asumsi di kepalaku."

"Wajar, kok. Pasti banyak negatifnya."

"Jujur, iya. Kaya enggak nyangka aja. Maaf, tolong jangan tersinggung. Soalnya Anin yang aku kenal kukira enggak akan sejauh ini. Keluar dari rumah dosen laki-laki single yang belum menikah. Mana udah malam. Kaya enggak pantas aja rasanya."

Aku tersenyum. "Pasti kecewa, ya, Zra?"

"Meski kita hanya temenan, jelas aku kecewa. Sorry, Nin. Kalau terlalu terus terang begini. Ini aku masih diliputi rasa syok karena kamu seberani ini."

Sangat wajar Ezra sampai seperti itu. Pasalnya, daripada Satya dan Raya, aku lebih strict soal pergaulan dengan lawan jenis. Ayah dan Bunda cukup ketat dalam membatasi. Ini sudah berlangsung sejak aku beranjak remaja.

"Dulu kamulah yang selalu nasehatin aku, Satya, dan Raya, buat jangan terlalu macam-macam, terutama sama lawan jenis. Kami merasa senang banget punya teman yang selalu ngingetin. Tapi siapa sangka-"

"Zra ..."

"Ya?"

"Aku paham dengan kekecewaanmu karena kita udah berteman lama. Katakan baik buruk satu sama lain udah tahu, ya. Berasa udah paham hampir luar dalam. Tapi jujur, semua ini enggak seperti apa yang kamu pikirin. Serius!"

"Maksudnya?" Kening Ezra langsung mengerut.

"Jujur atau enggak jujur, memang kamu akan tetap kecewa berat. Raya dan Satya pun juga sama. Tapi kecewanya kalian akan beda konteks aja."

"Gimana maksudnya? Coba kamu jawab yang lebih jelas, Nin. Aku bingung."

"Sebelumnya, aku minta maaf banget karena enggak banyak cerita ke kamu, Satya, dan Raya. Aku paham, kalian lagi struggle ngurus ini dan itu. Kamu dengan kerjaan barumu, Satya dan Raya dengan skripsi mereka yang masih belum tuntas. Aku enggak mau ganggu kalian. Rasanya kita juga udah lama banget enggak ngumpul. Aneh aja kalau aku tiba-tiba cerita hal-hal kompleks."

"Hal-hal kompleks? Memangnya apa yang kamu sembunyiin dari kami?"

Aku berdehem pelan, lalu kutatap Ezra lurus-lurus. "Sejujurnya, aku sama Pak Rafiq udah suami istri."

"APA? SUAMI ISTRI?" saking kagetnya, suara Ezra langsung naik. Akan tetapi, dia buru-buru membekap mulutnya. Ya, meski tidak ada yang peduli juga karena yang lain sibuk sendiri. "K-kok bisa suami istri? Ini gimana ceritanya? Kalian pacaran? Atau gimana? Bukannya waktu itu kamu masih kelihatan agak kesal sama Pak Rafiq? Kenapa tiba-tiba banget jadi suami istri? Kalian dijodohin?"

Aku tersenyum. "Baru siri, Zra. Belum resmi. Ceritanya panjang. Dijelasin semuanya malam ini enggak akan mungkin. Hari udah malam. Kasihan Pak Rafiq, dia mau antar aku pulang. Kalau dia sampai mau antar aku pulang, apa mungkin aku bohong soal status kami? Kamu tahu betul gimana Ayah dan Bunda agak ketat soal teman lawan jenis kecuali kamu sama Satya. Iya, kan?"

Inevitable Feelings Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang