"What the hell, Ka!"
Cakka mengerutkan keningnya, memperhatikan teman-temannya yang balik menatapnya dengan ekspresi marah. Dia bahkan baru saja sampai di kampus namun kedua orang itu sudah mengumpatinya.
"Lo udah kawin sialan?"
Cakka mendatarkan ekspresinya. "Hmm,” jawabnya.
"Serius?" Wita bertanya lagi, masih tidak percaya. Lagian siapa yang tidak kaget mendengar temannya tiba-tiba saja sudah menikah tanpa memberitahu apapun sebelumnya.
Sekali lagi Cakka menjawab dengan dehaman. “Hmm."
"Sumpah, kenapa lo enggak kasih tahu kita? Kita malah harus tahu dari infotainment."
“Lo enggak penting,” jawab Cakka yang membuat Seno langsung mengumpat jengkel. Cakka menghempaskan diri ke atas sofa. Jujur dia sedikit lelah dengan semua yang terjadi padanya beberapa hari ini.
"Gue enggak nyangka lo bisa nikah secepat ini, bukannya lo masih–" ucapan Seno terpotong saat Wita menyenggol pinggangnya. Laki-laki itu buru-buru memandang Cakka takut, namun saat mendapati kalau lelaki itu tampak tidak terpengaruh Seno kembali melanjutkan. "Whatever, tapi kenapa lo enggak ngasih tahu kita?"
"Gue mabuk dan digerebek warga."
Seno ternganga. "Terus gimana?"
Cakka menaikkan pundak. "Mau gak mau gue harus tanggung jawab."
Wita menepuk pundak Cakka. "Ka, gue emang enggak tahu apa yang lo rasain tapi pernikahan bukan sesuatu yang bisa lo permainkan. Bahkan jika lo menikah karena terpaksa lo enggak boleh anggap sepele."
“I know."
"Ka, gue harap lo enggak gunain pernikahan ini sebagai pelarian lo."
Cakka terdiam, namun kebisuan itu sudah cukup untuk membuat Seno dan Wita mengerti maksudnya. Cakka bukan lah orang yang tidak bertanggung jawab, saat laki-laki itu bertekad untuk memegang sesuatu maka Cakka sebisa mungkin tetap menggenggamnya erat-erat. Namun siapa yang mengetahui perasaan yang lelaki itu sembunyikan sebenarnya.
Mencoba mengalihkan pembicaraan Wita kembali bertanya. "Siapa nama istri lo?"
"Nismara."
"Nismara aja?"
"Nismara Dian kartini."
"Keturunan keraton?"
Cakka sedikit terkekeh. "Anak ketua RT."
Seno menaikkan alis. "Cantik enggak?"
Cakka berpikir sejenak sebelum akhirnya memutuskan jawaban. "Lumayan."
Seno terkekeh. "Kalau lo bilang lumayan berarti memang cantik."
Nismara memang cantik. Dengan sepasang netra yang bulat dan hidung mancung, bibirnya juga cukup merekah tebal dengan warna merah alami. Dan meskipun perawakannya tidak tinggi semampai malahan cenderung berisi, Nismara masih menarik di tempat-tempat yang tepat. Namun semuanya kalah dengan keketusannya yang sudah setaraf dewa.
"Tapi serius Ka, lo enggak ada niat buat cerai?"
Cakka terdiam. Dia memang bilang pada keluarganya bahwa dia tidak akan menceraikan Nismara. Namun Cakka sendiri tidak tahu apa yang akan terjadi ke depannya. Terlebih dengan penolakan Nismara padanya. Walau, Cakka juga bisa mengenali perasaan samar yang mengganjal di hatinya. "Entahlah,” jawabnya.
Seno dan Wita menghela nafas. "Jaga istri lo baik-baik, Ka. Jangan sampai lo jadi cowok brengsek."
Cakka terdiam. Membuka menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya perlahan sebelum menghembuskannya kembali. Membiarkan kepulan asap berbau menyengat terarak di udara. Sejenak, Cakka terus menenggelamkan dirinya sebelum akhirnya mengeluarkan ponselnya yang berdering. Kedua alisnya menukik heran saat sebuah suara pelan terdengar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
