40. Apakah?

4.6K 445 20
                                        

Cakka menatap Nismara yang berdiri kaku di sampingnya. Sejak tadi gadis itu terus saja membungkam diri bahkan saat Cakka sudah mencoba untuk bertanya sekalipun. Walau begitu Cakka juga tahu alasan kenapa Nismara bisa seperti itu. Semua ini salahnya. Tapi Cakka tidak tahu harus menjelaskan semuanya seperti apa. Bukan karena tidak mau menjelaskan pada Nismara, hanya saja dia enggan untuk mengingatnya.

"Mara, aku—" Cakka mencelos saat Nismara memilih untuk memalingkan wajahnya. Seakan gadis itu tak sudi untuk mendengar apapun yang akan Cakka katakan.

Begitu pintu lift terbuka Nismara langsung berjalan keluar mendahuluinya. Cakka menghela nafas berat. Sepertinya istrinya itu memang sangat-sangat marah.

"Nismara aku bisa jelasin!" Cakka mencekal lengan Nismara, menghentikan niat gadis itu untuk memasuki kamar. "Aku sama Karina udah enggak ada apa-apa."

"Udah enggak ada apa-apa?" Nismara tertawa mencela. "Berarti kalian pernah ada apa-apa bukan? Ah, tentu aja. Lo bahkan tau baju apa yang cocok buat dia, lo jugalah yang selalu dandanin dia buat audisi. Gue akhirnya tahu darimana lo bisa sejago itu. Jelas karena lo pernah lakuin sama cewek itu!"

"Mara—"

"Minggir, gue mau masuk!" Nismara menyentak kasar genggaman tangan Cakka padanya. Dan BRAK! Pintu kamar mereka tertutup. Cakka mengurut batang hidungnya yang sedikit nyeri karena terhantam permukaan pintu. 

"Nismara, please. Dengerin aku ya?" Mohon Cakka. Namun terlambat, Nismara sudah terlebih dahulu mengunci pintu. Tak memberi akses sedikitpun pada Cakka untuk mendekatinya.

Cakka menghela nafas berat, sepertinya malam ini dia harus merelakan diri untuk kembali tidur di atas sofa.

***

Cakka menatap layar ponselnya yang menunjukkan dimana posisi Nismara berada. Tadi pagi Cakka benar-benar kelimpungan saat tidak menemukan keberadaan Nismara di apartemen. Dia sudah mencoba menelpon gadis itu tapi tidak pernah diangkat. Alhasil Cakka hanya bisa mengandalkan cara ini untuk menemukan Nismara.

Cakka menghela nafas lega saat siluet Nismara terlihat di kejauhan sana. Gadis itu terlihat sedang mengobrol dengan ketiga temannya dengan posisi membelakanginya.

"Mara!" Panggil Cakka, membuat sosok di kejauhan itu terpaku sejenak. Namun belum sempat Cakka menyusul, Nismara sudah lebih dulu melarikan diri. Gadis itu benar-benar tidak membiarkan Cakka untuk menjelaskan.

"Lo sama Nismara lagi berantem ya?" Tanya Bandung ingin tahu. Pasalnya dia jarang sekali melihat Nismara menghindari orang sampai sebegitunya. Apalagi air muka Nismara begitu kusut tadi.

Cakka terdiam tak menjawab. Namun dari ekspresi keduanya, mereka sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi.

"Lo apain, Nismara?" Regi menekan pundak Cakka penuh peringatan.

"It's not your problem," balas Cakka sinis.

"Jelas ini masalah gue, Nismara temen gue sialan!" Sentak Regi tak terima. Laki-laki yang sedang menenteng gitar itu hampir saja meninju wajah Cakka jika Binar tidak menghentikannya.

Cakka mendesah berat, berusaha sebisa mungkin menekan emosinya. "Ini cuma salahpaham, lo enggak usah khawatir. Kalau ada apa-apa soal Nismara tolong langsung hubungi gue," kata Cakka sebelum akhirnya berbalik pergi. Meski begitu dia masih memantau posisi gps Nismara secara berkala.

Ini hari ketiga kompetisi persahabatan dan sebentar lagi agenda pengumuman para juara akan segera dimulai. Pada saat itulah Cakka akan mempunyai kesempatan untuk mendekati Nismara.

***

"Okay, sekarang peraih juara satu cabang lari cepat dengan jarak 100 meter dimenangkan oleh.... siapa lagi kalau bukan Cakka Kama Janitra!!!"

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang