Nismara tidak tahu harus melakukan apa. Abah masih mengabaikannya dan Emak pun sama saja. Dia mengurung dirinya di kamar, mengabaikan rasa lapar dan terus menangis. Dia menolak semua orang termasuk lelaki yang sudah menjadi suaminya selama dua hari ini. Nismara menenggelamkan wajahnya semakin dalam pada permukaan bantal yang lembab. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Tak peduli seberapa kerasnya dia membela diri tak ada yang mau percaya. Mereka semua malah menghinanya.
Jujur Nismara bukan orang yang akan mempedulikan omongan orang lain. Ini hidupnya, dia yang menjalaninya jadi apapun pendapat mereka Nismara tidak peduli. Hanya saja kali ini Nismara benar-benar kehilangan hal yang paling berarti. Orang tuanya.
Arjuna masih sering membujuknya, mengatakan apapun yang menurutnya mampu membuat hati Nismara luruh. Tapi sekali lagi Nismara memilih menutup telinga setiap kali Arjuna datang.
Dan sejak saat itu juga Nismara bertekad untuk mengurung diri selamanya. Biarlah sepuluh tahun kemudian dunia menceritakan kisah hebatnya dalam siaran langsung yang penuh dengan nilai moral dan pengetahuan.
Jadi biarkan sekarang Nismara kembali memeras air matanya lagi.
Tiba-tiba saja ketukan pintu terdengar. Nismara mengangkat kepalanya, mencoba mendengar lebih jelas siapa yang kali ini mencoba membujuknya.
"Ra, ini gue, buka pintunya ya."
Mendengar suara itu Nismara langsung mendengus kesal. Abaikan saja!
"Ra, I'm sorry, sekarang kita tahu kalau kita udah kelewatan. Ra buka ya pintunya, please... Bandung udah jelasin semuanya ke Abah lo dan Abah lo juga udah marahin kita. Ra, buka ya..."
Nismara kembali menenggelamkan wajahnya ke bantal.
"Nismara yang cantik, manis, baik hati, buka ya sayang."
"Nismaraaaa," itu Bandung.
"Nismara ini Abang."
Nismara hampir luluh saat Regi berbicara dengan nada halus yang mampu membuat anak perawan ketar-ketir. Tapi tidak! Jaga iman jaga hati Nismara! Abaikan mereka. Abaikan!
"Ra, ayo dong buka pintunya kalau enggak gue bisa mimisan karena laki lo mandangin gue terus," seperti biasa Binar dengan kesomplakannya.
"Bajingan!" Nismara mengutuk.
Terdengar kekehan Binar. "Nah gitu dong, dari pada ngurung diri kayak gini mending lo katain kita sepuasnya aja. Kita ikhlas kok, Ra. Lo mau jambak si Bandung atau jedotin pala si Regi ke tiang listrik juga gak papa."
Nismara mendengus, mau sampai kapanpun temannya memang tak ada yang waras. Hampir setengah jam mereka semua mencoba membujuknya, tapi tidak! Nismara tidak semurahan itu sampai rela menyerah hanya dengan sepatah kata konyol dari teman-temannya. Dia masih marah.
"Ra, tadi gue ketemu Bang Herry dia nanyain lo," tiba-tiba Bandung bersuara, "dia gandeng bule cakep banget."
Nismara membeliak marah, dia lalu berdiri dan berjalan ke arah pintu dengan kaki terhentak. Dengan keras Nismara membuka pintu. Oke, Bandung berhasil menarik atensinya.
"Mana bule nya?!" Nismara celingak-celinguk mencari. "Mana tuh bule?! Berani-berani godain bapak guru pujaan hati gue. Belum tau aja dia sama jurus cakar macan gue ya!!" Sumpah Nismara kesal sekali. Belum selesai dengan urusan menikahi temannya, Bang Herry malah sudah mengincar bule?! Nismara kembali mengedar pandangan, menatap Bandung seolah berkata 'mana tuh bule?'.
"Ya di negaranya," timpal Bandung amat santai.
Nismara menatap Bandung yang tertawa sumringah. "Lo nipu gue, nyet?"
"Kalau gak gitu lo gak bakal keluar, Ra."
Nismara memutar bola matanya tapi syukurlah Pak Hery tidak menggandeng bule cakep, kalau sampai laki-laki itu mengkhianati istrinya Nismara bersumpah akan membawa masa ke rumahnya.
Binar tiba-tiba memeluk Nismara. Perempuan yang masih memakai jas jurusan seni itu juga terisak pelan. "Maafin gue ya, Ra. Gue udah kelewatan kali ini. Gue sadar kalau gue bukan aja udah buat lo kesel tapi gue juga udah ancurin masa depan lo."
Nismara terdiam. Dia jadi pengen nangis lagi. Apalagi Bandung dan Regi ikut menyusul. Ketiga sahabatnya itu mengelilingi Nismara dan memeluknya dengan erat.
"Ra, maaf, gue udah jelasin sama Abah dan udah kena bogem Bang Juna juga. Jadi kita impas, tinggal lo mau tonjok si Regi atau tampar si Binar sekarang mah."
Binar menjitak kepala Bandung karena berbicara seenak jidatnya. "Kok malah gue nyet?!"
Bandung nyengir. "Gue 'kan udah ama Bang Juna. Masih sakit ini, rasanya tuh nyut-nyutan kayak pantat ayam."
"Emang pantat ayam kayak gitu? Nyut-nyutan?" Ahh, Regi dan kepolosannya yang hampir menyentuh standar kebodohan.
"Coba lo intip waktu tuh ayam lagi berak, pantatnya 'kan gitu, nyut-nyut."
"Gak waras lo pada," Nismara menggelengkan kepalanya lelah, tingkah absurd dari ketiga sahabatnya itu kadang membuat Nismara pengen makan kulit duren saking geregetannya. Tapi lucu juga. Inilah yang menjadi alasan kenapa dia masih betah bertahan bersama mereka meski lama-lama dia akhirnya bisa ikutan gila juga.
"Nah gitu dong senyum, jadi makin cantik 'kan." Regi menepuk pucuk kepala Nismara penuh sayang. "Maaf ya, Ra. Abang janji enggak bakal gitu lagi."
"Gue juga."
"Tentu saja saya ikut."
Nismara tersenyum menatap ketiga sahabatnya itu, merasa bersyukur memiliki mereka dalam hidupnya.
"Tapi laki lo cakep juga, Ra." Binar tiba-tiba saja berbicara. Ada senyum malu-malu meong di wajahnya yang hampir membuat semua orang muntah seketika.
Senyum Nismara langsung luntur. Dia lalu melirik suaminya yang ternyata sejak tadi berdiri di belakang mereka. Cakka masih sama, beberapa memar masih mewarnai wajahnya. Rambutnya sedikit berantakan dan di bawah matanya terdapat kantung mata gelap. Untungnya lelaki itu cukup tampan sehingga penampilannya tidak membuat orang pengen bilang kamseupay. Baru setelah Nismara menatapnya Cakka sedikit bereaksi.
Cakka menatap Nismara dengan sorot amat teduh. "Bisa kita bicara?"
"Aduh, suaranya juga serak-serak banjir gini!" Binar memekik yang secara otomatis membuat Regi menutup mulutnya.
Cakka tersenyum kecil menyaksikan kelakuan absurd Binar dan teman-temannya. "Bisa ya, Ra? Abah sama orang tua aku udah nunggu dibawah."
"Orang tua lo?"
"Lo bakal kaget kalau tau siapa nyokap bokapnya laki lo, gue aja sampe engap-engapan, Ra," kata Bandung dengan gaya dramatisnya dan Nismara langsung berdecih tak sudi.
Cakka mengangguk saat Nismara menatapnya. "Mereka baru datang tadi."
Binar berdecak melihat kelemotan sahabatnya. "Udah sana samperin, sekalian lo minta kompensasi yang gede. Villa di Cipanas juga lumayan, Ra."
"Bacot!" Nismara mengutuk lagi. "Tapi Abah sama Emak..." Dia masih tidak yakin apakah kedua ornag tuanya mau berbicara lagi padanya.
"Tenang, aku udah bicara sama mereka dan aku yakin mereka enggak akan marah lagi sama kamu."
Nismara melirik suaminya itu kemudian mengangguk paham. Semoga saja Cakka berkata jujur dan Abah memang tidak bersikap dingin lagi padanya. Karena Nismara tidak akan pernah sanggup menghadapi kebekuan mereka.
Dia baru saja akan melangkah saat Bandung sudah lebih dulu menghentikannya. "Mau kemana lo?"
"Ke bawah lah, 'kan tuh cowok yang bilang."
"Ke bawah sih ke bawah, tapi liat dulu penampilan lo. Gorengan gope aja masih lebih cakep dari muka lo."
Nismara meringis. Dia memang belum mandi dari kemarin.
"Buruan sana mandi dulu, gue peringatin ye yang bersih. Kalau enggak lo yang bakal malu nanti."
Nismara memutar bola matanya. "Iya-iya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
