12. Pindah

8.1K 580 3
                                        

Pagi ini Cakka mengantar Nismara ke kampus, bukan mengantar sih, lagian kampus mereka memang berdekatan. Cakka baru saja akan memanuver mobilnya setelah Nismara keluar, ketika tiba-tiba Bunga datang menghadang, memukul-mukul kap mobilnya dan berteriak keras.

  “Cakka keluar!! Kamu harus jelasin semuanya sama aku!!” Raung Bunga. Nismara yang belum berjalan jauh memekik dalam hati, tuh cewek emang udah enggak waras.

  “Kenapa lagi tuh cewek?” Binar yang juga baru saja datang menghampiri Nismara.

  Nismara menggeleng. “Emang udah sinting kayaknya.”

  Cakka yang juga tidak tahu biang masalahnya ikut keluar. Menatap Bunga dengan heran. “Sorry siapa?”

  Bunga menangis, tak percaya kalau Cakka bahkan tidak mengenalinya. “Kamu tega, Cakka! Gimana kamu bisa nikah sama cewek barbar itu dibandingkan aku?!”

  Nismara menganga, apa-apaan?!

  “Lo siapa sih?” Tanya Cakka yang makin membuat Bunga histeris.

  Kedua alis Nismara menukik tajam, tiba-tiba sebuah ide muncul di otak cantiknya. Dengan senyuman culas Nismara mendekati Cakka, memeluk laki-laki itu. “Sayang, ada apa?”

  Cakka tersentak hebat, apalagi saat merasakan elusan feminim di tubuhnya. Laki-laki itu menunduk, menatap Nismara yang tengah ndusel-ndusel di dadanya. Sejenak Cakka seperti kehilangan akal sehatnya diikuti oleh sensasi merinding yang membuat bulu kuduknya meremang.

  Nismara memasang wajah kaget yang dibuat-buat. “Eh, ada Bunga. Apa kabar? Lagi ngapain di depan mobil suami orang?”

  Bunga meradang. “Papan triplek!!”

  “Apa Bunga bangkai?”

  “Berani-beraninya lo nyentuh Cakkanya gue!”

  “Dih apaan sih, hak gue dong lagian gue istrinya. Istri!” Sembur Nismara, sengaja menekan kata istri.

  Bunga melotot. “Kemari lo!”

  Nismara menerima tantangan itu dengan lapang dada. “Ayo mau berantem? Masih kurang cakaran gue yang kemaren.”

  Cakka menekan ekspresi malunya, terlebih saat orang-orang mulai berkerumun di sekitarnya. “Isma, jangan sekarang!”

  “Apaan?!” Bentak Nismara namun detik selanjutnya gadis itu kembali tersenyum manis. “Iya, sayang kenapa? Kamu enggak suka aku berantem sama si Bunga? Iya sih, wajahnya suka bikin orang sembelit!”

  “NISMARA!!” Bunga berteriak marah yang malah membuat Nismara tertawa terbahak-bahak.

  Untungnya satpam datang tak lama setelahnya sehingga pertengkaran keduanya bisa dihentikan tepat waktu. Nismara tersenyum sangat bahagia saat beberapa orang menyeret Bunga pergi. Biar tahu rasa, Bunga itu suka sekali cari gara-gara dengannya. Dengan perasaan yang masih berbunga-bunga karena berhasil mengalahkan lawannya, Nismara berbalik ke arah Cakka.

  “Nunggu apalagi? Pembagian sembako?”

  Cakka terperanjat, balik menatap Nismara yang sudah kembali ke setelan awalnya.

  “Sana pergi!” Ketus Nismara.

  Cakka berdeham kikuk, nasib memiliki seorang istri galak ya gini.

***

  "Gimana kalau kita pindah?"

  Seketika Nismara yang tengah bermain catur di ponselnya langsung menoleh pada Cakka. "Pindah?" Beonya.

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang