“Kenapa kamu enggak bilang kalau kamu sudah menikah?”
Sejenak Cakka hanya mampu terjebak dalam kebisuan. Memperhatikan wanita cantik dengan jas berwarna biru tua yang berdiri di hadapannya.
“Cakka?” Panggil wanita itu, Siska.
Cakka mengerjap sadar kemudian mengulas segaris senyuman kaku. “Memang Cakka sengaja, biar enggak banyak orang yang tahu. Walau sekarang se-Indonesia kayaknya tahu deh,” tuturnya dengan sedikit tawa di ujung kalimatnya.
Siska ikut tertawa. “Iya, Kakak aja kaget waktu baca di media sosial Tante Anggi. Tega banget kamu enggak ngasih tahu Kakak. Mana istri kamu ternyata mahasiswi kakak juga, Nismara 'kan ya?"
Cakka mengangguk.
"Tapi sejak kapan kamu kenal Nismara?"
"Setahun lalu," jawab Cakka.
“Cakka!”
Repleks, Cakka membalikkan tubuhnya saat panggilan familiar itu terdengar. Mendadak Cakka langsung panik, terlebih saat si pemanggil, Nismara mulai berjalan mendekatinya. Nismara menatap Siska dan Cakka bergantian lalu mengerutkan keningnya.
“Lo kenal sama Bu Siska?” Tanyanya, membuat Cakka mengedipkan matanya cepat.
Berbeda dengan reaksinya yang sudah seperti kepergok mencuri, Bu Siska justru biasa saja. “Iya, kami itu tetanggaan.”
“Tetangga? Ibu juga tinggal di apartemen itu?” Berondong Nismara kaget. Bagaimanapun selama dia tinggal di apartemen Cakka dia tidak pernah sekali pun berpapasan dengan Siska. Makanya Nismara kaget.
Siska menggeleng. “Bukan, rumah Ibu itu bersebelahan sama rumah Kakeknya Cakka. Waktu kecil Cakka memang pernah tinggal dengan Kakeknya ‘kan.”
Nismara membulatkan mulutnya. Dia baru tahu itu.
“Kelas kamu udah selesai ‘kan? Kita pergi sekarang?” Tanya Cakka dengan nada panik yang tidak di tutup-tutupi. Nismara tentu saja menyadarinya, namun dia tidak terlalu peduli.
“Ya udah. Bu Siska saya pergi dulu ya,” pamit Nismara sopan.
Siska tersenyum. “Iya, silahkan.”
***
Nismara langsung berlari kencang sesaat setelah mobil Cakka berhenti di pelataran rumahnya. Gadis yang sekarang tengah memakai kaos putih kebesaran yang dia curi dari lemari Cakka itu langsung memeluk Arjuna, yang tampaknya baru selesai berolahraga. Cakka mengekor tepat setelahnya sambil menenteng beberapa barang titipan Anggita.
“Bang Juna,” sapa Cakka pada kakak iparnya itu.
“Sehat lo, Cakka? Gimana adek gue, susah ‘kan miaranya?” Seloroh Arjuna dengan tawa keras di ujungnya.
Nismara menggeplak lengan atas Arjuna, memberengut. “Emang Isma itu lele sampe dipiara segala.”
“Jangan salah, lele-lele Abang aja dipiara sepenuh hati penuh cinta. Masa adek gue kagak.”
“Lagak lo Bang, dipiara penuh cinta tapi ujung-ujungnya dimakan juga.”
“Kan namanya juga usaha, dek.”
Nismara memanyunkan bibirnya. “Udah ah, Isma mau nyamperin Emak aja,” kata Nismara lalu berjalan memasuki rumah. Dia sudah rindu berat pada orangtuanya. Padahal tiga hari lalu Nismara baru saja rujakan bersama Emak.
“Mau kemana?” Hadang Arjuna tatkala Cakka hendak menyusul Nismara. “Lo sama gue aja, gue bakalan ajarin lo jurus-jurus pamungkas yang gue ciptain sendiri.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
