52. Kok bisa?

5K 414 12
                                        

"Eh, ada Bapak Arsitek datang. Sehat Pak?"

Cakka mendengus jijik mendengar sapaan Wita. Laki-laki itu menjitak belakang kepala Wita sehingga si pemiliknya sontak merutuk kesal.

Sekarang hari minggu. Dan karena teman-temannya tengah gundah gulana— katanya sih karena kangen tak lama berjumpa—akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk bertemu di tempat yang dulu biasa mereka gunakan untuk nongkrong. Tidak jauh-jauh sih, cuma warung kopi sederhana di pinggir jalan raya.

"Buset makin cakep aja lo, Ka." Celetuk Seno. Spontan membuat Cakka seketika menjauhi Seno dengan raut jijik.

"Sumpah, lo pada kenapa?" Tanya Cakka heran dengan keanehan teman-temannya.

Seno tertawa ngakak, melanjutkan tingkah anehnya seolah sama sekali tidak tersentil dengan pertanyaan Cakka. "Kangen gue. Lo kangen enggak sama gue?"

"Lo mau gue tonjok?"

"Eits, sabar. Bercanda gue. Jadi gimana kabarnya Pak? Sehat?"

Cakka berdeham sebagai jawaban. Dari penampilannya saja mereka pasti tahu kalau Cakka sehat walafiat.

"Oke, udah dulu acting-nya. Gue punya kabar," Seno meletakkan selembar kertas putih dengan pita berwarna emas ke hadapan Cakka lalu berkata dengan senyuman secerah rembulan. "Gue mau nikah, dua minggu lagi. Jangan lupa datang."

"What?!" Tentu saja Cakka kaget. Seno tidak pernah menceritakan apapun perihal kedengatannya dengan lawan jenis. Dan sekarang dia tiba-tiba saja sudah akan menikah.

"Lihat dulu dong nama calon istrinya." Seno menunjuk-nunjuk kartu undangannya. Disana tertulis jelas nama seorang gadis berserta fotonya yang entah mengapa terlihat familiar.

"Ini... mantan lo Wit?" Tanya Cakka tak percaya. Anggukan Wita membuat Cakka seketika mempertanyakan cara dunia ini berjalan. Sungguh tiada salah jika orang-orang bilang kalau takdir suka sekali mempermainkan manusia.

"Ngomong-ngomong soal istri, gue punya hot news soal istri lo."

Cakka menaikkan alisnya. Tidak merasa kaget lagi karena kapanpun Nismara pasti membuat topik hangat.

"Lo tahu enggak, Ka. Gue enggak sengaja nemu ini waktu scroll-scroll akun media sosial cewek gue."

Wita menunjukkan sebuah video, disana dia melihat Binar dan Nismara sedang berdiri di atas dahan pohon beringin besar. Entah apa yang terjadi tapi tiba-tiba saja dengan gilanya Binar mencium Nismara. Tepat di bibir. Cakka tercengang. Sama sekali tak menyangka akan kejadian absurd tersebut.

"Ada kabarnya mereka itu..."

"Apa?" Cakka memandang Wita was-was.

Wita menyatukan kedua ujung jari telunjuknya. "Gitu."

Cakka melotot. Tanpa basa-basi laki-laki itu langsung men-dial nomor Nismara.

"Yang!" Panggil Cakka sesaat setelah Nismara menerima telponnya.

Suara Nismara terdengar malas. "Apa?"

"Kamu... kamu lesbi, yang?"

Ada keheningan sejenak, membuat Cakka makin takut. Segala pemikiran buruk langsung mencuat. Baru setelahnya suara Nismara kembali terdengar. "Sumpah pertanyaan kamu enggak ada faedahnya banget."

"Tapi kata teman-teman aku kamu sama Binar.... Bahkan ada video-nya loh, Yang." Cakka sangsi.

"Video apa sih?"

"Kamu sama Binar.... kissing?"

Nismara ngeh. "Oh."

Cakka melotot. "Jadi kamu beneran lesbi, Yang."

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang