"Ngapain sih?" Tanya Nismara risih. Entah ada angin apa, Cakka tiba-tiba saja menarik Nismara ke Mall untuk mengunjungi toko pakaian. Ini sudah toko ke tiga dan Cakka masih saja rempong memilihkan Nismara pakaian.
"Kita mau ikut reuni, Mara. Baju kita harus diselaraskan. Lihat bagus enggak?" Cakka menunjuk sebuah dress selutut berwarna hitam dengan aksen renda putih di bagian kerahnya.
"Aku mau ikut reuni Cakka, bukan mau ke kondangan. Lagian kamu rapih-rapih amat mau ngapain? Lamar jadi satpam?" Nismara melirik jas formal yang ada di tangan Cakka. Sumpah mau ngapain sih? Lagian reuni sekolahnya bukanlah reuni megah seperti di tivi-tivi. Palingan kebanyakan temannya bakalan datang menggunakan kaos dan celana jeans.
"Bilang mau lamar jadi guru bisa 'kan, Yang? Kenapa harus satpam?"
Nismara cengengesan. "Iya juga sih. Kamu 'kan sama Bang Juna aja kalah, enggak pantes jadi satpam."
Cakka hanya bisa berdecak pelan mendengar perkataan Nismara yang ceplas-ceplos. "Ya udah, jadi kamu mau pakai apa?"
"Yang biasa aja, kaos sama celana jeans juga beres."
"Terlalu basic dong, Yang."
"Lagian kenapa sih kok malah kamu yang rempong? 'Kan yang mau ikut reuni aku."
Cakka tidak mungkin bilang kalau dia ingin tampil memukau agar si Herry-Herry itu minder melihatnya. Cakka juga ingin menunjukkan pada orang-orang kalau dirinya dan Nismara adalah pasangan serasi, makanya pakaian mereka juga harus serasi. Tapi sejak tadi Nismara terus saja menolak usulannya.
Nismara kemudian mengambil sebuah jaket berbahan dasar jeans berwarna hitam. "Ihh, lucu. Pake ini aja, kita couple-an ya?"
"Aku udah punya," Cakka menggeleng menolak. Lagipula itu terlalu biasa. Di apartemen saja Cakka punya jaket serupa dengan berbagai warna.
"Tapi 'kan aku belum punya."
"Ambil aja di lemari, banyak."
"Tapi yang ini ada pin tengkoraknya," kekeh Nismara.
"Aku juga punya tapi yang warna biru."
"Kalau yang item belum punya 'kan?" Nismara bergelayut di lengan Cakka dan menggerak-gerakkan tubuhnya manja. "Kita pakai yang ini aja ya? Ya? Ayolah, Cakka."
"Serius?"
"Iya, sayang. Udah ayo cobain dulu."
Mendengar panggilan sayang dari Nismara seketika membuat Cakka mesem-mesem kesenangan. Kalau gitu sih, disuruh pakai tanktop sama celana pendek juga Cakka pasti mau.
Ehh, tapi enggak deh. Kadar ketampanannya pasti berkurang nanti. Apalagi Cakka tidak boleh percaya dengan pemikiran Nismara.
"Ya ampun, ganteng banget suami gue!" Puji Nismara begitu mereka keluar dari ruang ganti secara bersamaan. Gadis itu mencubit pipi Cakka gemas. "Kalau gini 'kan kita jadi kayak orang pacaran beneran."
Cakka mengangkat tangan kanan Nismara dan menunjukkannya pada cermin. Cakka juga ikut mengangkat tangan kanannya sendiri. "Kita udah nikah, Mara. Lihat cincinnya."
"Tapi 'kan kita enggak pacaran dulu terus nikah gitu aja. Mana nikahnya hasil grebek warga pula."
Cakka tertawa. "Ya udah, pacarannya sekarang aja."
"Ihh, dodol. Geli banget gue dengernya hahaha..." Nismara ngakak sekencang-kencangnya.
Setelah berbelanja pakaian, Cakka kemudian mengajak Nismara untuk berjalan-jalan di sekitaran Mall sambil sesekali mengunjungi toko yang menarik minat mereka. Baru setelah menjelang sore, keduanya memilih untuk pulang ke apartemen. Lelah, Cakka langsung saja menjatuhkan dirinya di sofa sedangkan Nismara memilih untuk masuk ke dalam kamar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
