"Kamu serius mau kuliah? Enggak ambil izin aja?" Tanya Cakka yang membuat Nismara sudah sangat-sangat muak mendengarnya. Sejak tadi malam Cakka terus saja menerornya dengan pertanyaan yang sama. Memang niatnya perhatian sih tapi kalau terus-terusan Nismara pasti juga kesal 'kan.
"Iya, Cakka bawel banget sih. Lagian aku cuma hamil bukan sakit kanker."
"YANG!" Cakka menutup mulut Nismara dengan telapak tangannya. "Kalau ngomong jangan sembarangan. Ingat kamu lagi hamil."
Nismara memutar bola matanya.
"Beneran enggak mau absen dulu?" Lagi Cakka menyuarakan hal yang sama.
Nismara mengerang kesal. Gadis itu mendorong-dorong tubuh Cakka untuk kembali masuk ke dalam mobil. "Sumpah, Cakka. Lebih baik kamu kerja aja deh sana, eneg aku lama-lama kalau kayak gini."
"Masih ada waktu kok."
Tidak mau mendengarkan kerempongan lagi Nismara memilih segera membalikkan dirinya dan memberi Cakka ucapan selamat tinggal. "Udah ya, aku mau pergi. Bye!"
"Jangan lari, Nismara. Astaga!!"
Bodoh amat!
Cepat kabur.
Kalau dia tidak buru-buru pergi tingkah kelewat protektif Cakka pasti tidak akan ada habisnya. Lagipula Nismara tidak selemah itu. Meskipun dia tengah hamil muda Nismara juga tidak serentan itu. Lihat saja dia tidak sedikitpun mengalami mual-mual selayaknya ibu hamil pada umumnya—minus kejadian saat dia disembur oleh si orang pintar.
Tapi entah mengapa Nismara merasa kalau orang-orang sedang menatapnya ya? Di setiap langkahnya, di sepanjang jalan setiap pasang mata terus saja terarah padanya. Bukannya sok ngartis ya, tapi cara mereka menatapnya sama sekali tidak ditutup-tutupi.
Tepat setelahnya segerombolan orang tiba-tiba datang menghampirinya. Membuat Nismara seketika merasakan dorongan ingin melarikan diri. Sial, Nismara merasa jadi pejabat yang sedang di demo. Ups!
"Selamat ya, Ra."
"Congrats, Ra."
"Semoga sehat-sehat selalu ya, Ra."
Nismara menatap ngeri wajah-wajah lumayan asing di sekitarnya. Satu per satu memberinya ucapan selamat dan doa singkat. Tapi tunggu, dari mana mereka tahu soal kehamilannya?!
Perasaan Nismara tidak pernah mempublishkan soal berita kehamilannya pada siapapun.
Belum selesai akan kebingungan yang melanda, tiga orang lelaki tinggi besar tiba-tiba datang memecah kerumunan. Mereka langsung memegang kedua lengan Nismara dan menyeretnya pergi dari sana. Nismara jelas terheran-heran.
Ada apa sebenarnya?
Pertama dikerubuni banyak orang yang tiba-tiba saja sudah mengetahui kehamilannya yang sebenarnya dia rahasiakan. Dan sekarang dia sedang diseret macam pelaku kejahatan!!
Ketiga orang itu membawa Nismara memasuki sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari sana. Untungnya sebelum Nismara berpikir kalau dia tengah diculik, Nismara bisa melihat sesosok wanita cantik yang tak lain dan tak bukan adalah Mama mertuanya sendiri.
"Mama, kenapa kesini?" Tanya Nismara heran.
Anggita mendorong Nismara untuk duduk bersandar, mengambil sebuah selimut yang dia gunakan untuk menutupi tubuh Nismara dari ujung kaki ke ujung leher. Tidak lupa, Anggita juga menyerahkan setumpuk kantung muntah ke pangkuan Nismara lengkap dengan selusin minyak kayu putih dengan aroma berbeda.
"Kalau mau muntah kamu tinggal pakai itu aja ya, sayang. Pak jalanin mobilnya pelan-pelan aja ya, jangan ngebut. Juga AC-nya tolong kecilin."
"Baik Bu!"
Melihat kerempongan Anggita membuat Nismara merasakan sesuatu yang tidak beres. "Mama tahu kalau aku..."
Anggita mengangguk. "Binar upload foto kehamilan kamu di media sosialnya, semua penggemar Mama juga langsung ngasih tahu Mama. Kenapa kamu sama Cakka enggak kasih tahu Mama? Mama kaget banget tahu kehamilan kamu dari orang lain."
Ah, jadi memang Binar yang cepu. Seharusnya Nismara sudah bisa menebaknya sih. Siapa juga yang punya mulut teramat bocor kalau tidak teman-temannya?
"Kita juga baru tahu kemarin kok Ma, makanya belum sempat ngasih tahu."
"Mulai sekarang kamu tinggal di rumah Mama aja."
"Ehh, enggak usah Mah."
"Kamu itu enggak tahu. Masa kehamilan muda itu adalah masa yang paling rentan. Kalau enggak hati-hati takutnya ada apa-apa. Mama juga udah hubungin Emak sama Abah kamu, mereka akan nginap di rumah Mama selama tiga hari buat jagain kamu sama cucu Mama."
"Aku enggak selemah itu kok, Ma. Selama ini aja aku enggak pernah morning sickness kok, aku sehat-sehat aja loh. Dokter juga bilang kalau bayinya sehat."
Nismara tentu saja tidak setuju untuk tinggal bersama Anggita. Sekarang saja Nismara sudah bisa membayangkan betapa sengsaranya ia nanti.
"Walau begitu bukan berarti kamu akan selamanya tidak butuh bantuan orangtua. Kalian ini anak muda selalu berpikir untuk hidup mandiri, mengabaikan perhatian keluarga. Mama enggak keberatan kalau kalian memang ingin begitu. Tapi sekarang kasusnya beda. Kamu hamil dan ini juga yang pertama kalinya. Kamu sama Cakka jelas belum berpengalaman. Jadi lebih baik kami yang sudah berpengalaman jaga kalian. Mama juga dulu waktu hamil diperlakukan seperti ini sama keluarga Mama."
Ah, jadi kerempongan ini memang mendarah daging?
Nismara bersandar lesu. Dia tidak tahu harus menolak Anggita seperti apa lagi. Dia hanya bisa pasrah dengan nasibnya kini.
Benar saja Nismara baru saja masuk ke dalam rumah dan dia sudah diberondong banyak hal. Pemeriksaan oleh dokter pribadi, pengarahan ahli gizi, bajunya juga harus anti radiasi, kontaknya pada alat elektronik juga dibatasi serta tetek bengek lainnya. Dan yang lebih sengsaranya adalah Nismara harus menghabiskan sepiring mangga muda karena katanya ibu hamil suka makan buah asam, padahal Nismara tidak. Baru segigit saja Nismara sudah merasakan giginya mau copot.
Cakka cepatlah pulang!!!
Huhu...
Sayangnya sepertinya sama saja.
Begitu Cakka pulang, laki-laki itu malah dengan mudahnya berpihak pada Sang Mama. Cakka malah yang paling semangat mendengar ceramahan panjang Anggita. Sedangkan Nismara sudah tepar sejak dipaksa menghabiskan sup bergizi yang rasanya enak sih tapi kalau banyak-banyak bikin eneg.
Alhasil Nismara hanya bisa menyalurkan kekesalannya pada Cakka. Gadis itu mengusir Cakka dari dalam kamar tidur dan mengunci pintu. Tidak sedikitpun membiarkan Cakka mendekatinya.
"Yang kok gitu?" Protes Cakka.
"Kata dokter enggak boleh nyentuh aku selama hamil muda. Jadi silahkan tidur di luar."
BRAK!
Siapa suruh semua orang ingin sekali menyiksa, huh!!
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
