44. Kebenaran Sang Pelakor

5.9K 479 70
                                        

Pagi-pagi sekali Nismara memilih pulang ke apartemen terlebih dahulu untuk membawa barang-barang keperluan Cakka. Sebagai istri yang baik Nismara tentu saja harus memperhatikan suaminya secara detail, dia harus memenuhi keperluan Cakka dan membuatkan sarapan bergizi untuknya. Walaupun lebih tepatnya sih Nismara mau mandi. Dia agak tengsin kalau harus mandi di rumah sakit.

Tapi sepertinya keputusannya salah besar. Karena hanya berselang dua jam saja Nismara sudah kecolongan. Gadis itu berdiri kaku di depan pintu kamar inap yang tertutup, mendengar obrolan antara Cakka dan Karina.

Karina?

Iya, dia si artis menyebalkan itu!

"Please, Cakka. Ini satu-satunya cara yang bisa aku pikirkan sekarang. Aku mohon tolong aku, Cakka," permohonan Karina yang begitu lirih terdengar sampai ke balik pintu.

"Kamu pikir aku apa, Karina? Barang yang bisa kamu tinggalkan saat kamu tidak menginginkannya, tapi saat kamu membutuhkan kamu bisa ambil sesuka hati?"

"Aku minta maaf atas semua yang aku lakuin dulu. Tapi itu satu-satunya cara agar aku bisa menggapai mimpi aku, Cakka. Apalagi dulu aku enggak tahu kalau kamu mencintai aku, makanya aku bisa membuat keputusan seperti itu. Aku pikir kamu hanya menganggap aku sebagai teman saja."

"Karina-"

"Jangan bohong, Cakka. Kamu pikir aku enggak tahu. Aku udah tanya Kakek, dia bilang kamu menikah tak lama setelah aku bertunangan dengan Padi. Kakek juga bilang kalau sebelumnya kalian tidak pernah saling kenal dan bahkan pernikahan kalian.... dimulai karena kamu mabuk dan kalian... dinikahkan paksa oleh warga. Juga, alasan kamu mabuk hari itu karena kamu tidak rela aku bertunangan dengan orang lain 'kan?"

Nismara yang masih setia menguping di luar menggigit bibir bawahnya begitu dia tak mendengar jawaban apapun dari Cakka. Seolah laki-laki itu menyetujui setiap perkataan Karina sama sekali.

"Tapi satu hal yang membuat aku yakin kamu masih memiliki perasaan sama aku, yaitu tempat kamu bulan madu. Kamu pasti ingat perkataan aku dulu iya 'kan? Kalau suatu hari nanti aku akan berbulan madu disana."

Okay, cukup!

Nismara sudah tidak tahan lagi. Sambil melempar kotak makanan yang dia bawa, Nismara masuk ke dalam ruangan. Seketika membuat kedua orang yang sejak tadi asyik berdebat itu terperanjat hebat.

"Cukup! Gue udah eneg denger semuanya."

Cakka yang terkejut menatap Nismara dengan membeliak. "Nismara sejak kapan kamu datang?"

Nismara berdecih sinis. "Sejak cewek ini bilang kalau lo nikahin gue cuma karena patah hati."

Cakka menggeleng panik. Dia ingin meraih Nismara tapi rasa sakit dari luka di perutnya membuatnya mengurungkan niat. "Nismara, please dengerin penjelasan aku dulu, okay? Semua yang Karina bilang cuma masalalu dan aku udah menghapus semua itu."

"Itu artinya lo membenarkan kalau lo nikahin gue cuma karena sakit hati?"

"Mara-"

"Lo semua berengsek!" Hardik Nismara murka. Tentu saja, siapa yang tidak marah begitu mengetahui kalau suaminya hanya menikahinya karena sakit hati ditinggal mantannya? Itu artinya Nismara hanya pelampiasan bagi Cakka. Dia tidak berarti apapun selain itu. Nismara tertawa ironis mengingat semua 'kemanisan' Cakka selama ini.

Meskipun pada awalnya Nismara juga tidak menginginkan pernikahannya dengan Cakka, tapi sekarang berbeda. Dia sudah menerima sepenuhnya baik status dirinya serta status Cakka. Tapi begitu Nismara sudah mengikhlaskan diri dia malah harus mengetahui fakta kalau pernikahan ini hanyalah objek pelarian Cakka.

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang