'Bagi siapa saja yang mau jadi pelakor dan pembinor bagi hubungan Cakka dan papan triplek, akan mendapat hadiah 5 juta Rupiah!'
Binar :
Si Bunga Bangke depresot anjir, sampe bikin sayembara segala.
Bandung :
Kemarin lo sengaja 'kan Ra, bikin si Bunga cemburu liat lo bareng Cakka?
Nismara :
Hooh.
Biar tau rasa, anjir. Siapa suruh ngaku-ngaku sama suami orang.
Binar :
Wih, kayaknya ada yang mulai pocecif nih. Wkwkwk.
Bandung :
Aduh, Kakak Bandung jadi iri nih. Wkwkwk.
Regi :
Mau Abang buat lagu enggak, Ra?
Nismara :
Lagu apa, Bang?
Regi :
Suamiku direbut Bunga bangkai.
Nismara :
Enggak deh, makasih.
Bandung :
Bikin aja kali. Liriknya gini, tak terasa jiwa ini... kehampaan menyertai... saat suamiku... direbut bunga bangke... uaoohhh
Binar :
Ku menangis sendiri... meratapi diri... oh mengapa... suamiku... direbut bunga bangke...
Regi :
Jreng~
Nismara :
Fuck U!
Nismara mematikan ponselnya dengan jengkel. Sumpah, teman-temannya tidak ada yang waras semuanya!
"Kenapa?"
Nismara memalingkan pandangannya pada Cakka. Laki-laki itu tampak menikmati waktunya untuk mengulek sambal. Hari ini Nismara memang mengajak Cakka untuk pergi ke rumah orang tuanya, sekalian untuk memberi oleh-oleh. Dan karena kebetulan mangga Pak Somad sedang masa mengkal-mengkalnya Nismara menyempatkan diri untuk merujak.
"Si Bunga bangke bikin sayembara gila lagi," jelas Nismara.
Cakka menaikkan alisnya tertarik. "Sayembara apa?"
"Siapa aja yang mau pelakor sama pembinor dalam hubungan kita bakal dia kasih lima juta. Gila 'kan ya?!"
Speechless, Cakka menggelengkan kepalanya sambil tertawa. "Udah biarin aja, nanti juga capek sendiri."
"Tapi kalau beneran gimana?" Tanya Nismara cemas. Bagaimanapun Nismara tidak bisa menyepelekan kegilaan orang-orang kampusnya. Lihat saja kelakuan ajaib teman-temannya, tingkah nekat Bunga bahkan dirinya sendirinya. Nismara tidak dapat yakin kalau tidak ada orang lain lagi yang bisa melakukan hal aneh semacamnya.
"Kalau kamu yakin, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita," kata Cakka dengan seringai yang membuat Nismara seketika mengerjap gugup. Pasalnya Nismara bukan orang yang terbiasa dengan kalimat sepuitis itu. Kali ini saja, Nismara sudah merasakan pipinya mulai memanas.
"Ada kok, Tuhan sama kematian," celetuk Nismara, mati-matian menutupi kegugupannya.
Cakka tertawa. "See, artinya tidak ada manusia yang bisa memisahkan kita."
"Tapi kalau Tuhan yang ngutus manusia buat jadi pelakor gimana?"
Cakka memiringkan kepalanya, entah mengapa dia merasa kalau Nismara sedikit berbeda hari ini. Gadis yang biasanya bertingkah ketus dan tak acuh kini malah sering mengandai-andai. "Kenapa hari ini, kamu jadi khawatiran begitu?"
Nismara menghindari tatapan Cakka yang terasa menusuk. "Enggak, perasaan kamu aja kali."
"Masa?"
"Iya, apaan sih?!" Nismara mengambil sepotong mangga muda dan mencolek sedikit sambal buatan Cakka. Namun baru saja secuil sambal itu menyentuh lidahnya, Nismara langsung berteriak. "Anjir, pedes banget gila!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
