15. Kerja Kelompok Berujung Petaka

7.3K 529 15
                                        

"Lo kenapa, Ra? Merah banget tuh muka kayak saus kiloan." Ceplos Bandung.

  Nismara memutar bola matanya jengah, Bandung dan perumpaannya yang menjengkelkan. Dia lalu memilih duduk di samping Regi dan menyandarkan kepalanya. Ahh, bahu Regi memang tempat paling menenangkan di dunia selain pelukan keluarganya. Regi yang memang sudah terbiasa hanya membiarkannya dan kembali sibuk pada pekerjaannya untuk menulis lagu.

  "Tumben lo datangnya telat, gue baru aja beres bersihin ruang seni," timpal Binar. Perempuan yang sedang menikmati sepiring nasi goreng ekstra pedas itu hanya menatapnya sekilas.

  Sejak tragedi tadi pagi Nismara memang memilih langsung bergegas ke kampus. Dia tidak akan sanggup jika harus berhadapan dengan cowok mesum macam Cakka. Demi Tuhan, mereka hampir berciuman jika saja Nismara tidak langsung tersadar. Nismara tidak dapat membayangkan jika dia benar-benar membiarkan Cakka kembali merebut ciumannya.

  "Woy, Ra. Lo kenapa sih?!" Binar menggeplak wajah Nismara dengan kertas gorengan.

  Nismara mendelik tak terima. "Lo pikir muka gue tong sampah apa?!"

  "Abis lo malah ngelamun kayak angkot lagi ngetem."

  "Tamu gue datang lagi," jawab Nismara yang langsung dimengerti semua orang. "Hari ini jadi 'kan kerjain tugas bu Siska? Kalau kagak jadi gue mau keliling dulu."

  "Kayak pocong aja lo main keliling-kelilingan," ledek Bandung.

  "Setidaknya gue udah usaha ya, dari pada lo yang maunya copy paste doang," balas Nismara dengan kesal.

  Bukannya tersinggung Bandung malah tertawa. "Copy paste adalah jalan hidupku."

  "Sangat memotivasi sekali." Nismara bertepuk tangan dengan nada dibuat-buat. "Jadi kagak nih?? Masalahnya nih tugas kagak bisa dikerjain dadakan, bisa-bisa abis ngerjain mata gue jadi juling entar."

  Binar menggigit bakwan sebelum menjawab. "Jadilah nyet, gue udah siapin aplikasi penerjemah yang terenkripsi sangat layak."

  "Satu lagi manusia bego," Bandung kembali menghina.

  "Ngaca, nyet!" Sembur Binar yang langsung membuat Nismara ngakak secara spontan.

  "Abang ikut enggak?" Nismara menoleh pada Regi. Di antara mereka yang masuk jurusan seni rupa hanya Regi yang merupakan mahasiswa seni musik dan juga satu tahun di atas mereka. "Ikut ya, Bang."

  Regi berpikir sejenak lalu menganggik. "Abang ikut aja."

  Dengan itu Nismara langsung bersorak senang. Setidaknya dia membutuhkan asupan vitamin saat berhadapan dengan dua orang kurang waras macam Binar dan Bandung. Meski di saat-saat tertentu Regi bisa sama gilanya dengan mereka namun tingkat ketampanannya masih bisa ditolerir.

***

 Nismara menatap Cakka dengan pandangan penuh penyesalan. Siapa sangka kalau teman-temannya malah memaksanya untuk pergi ke apartemen Cakka guna mengerjakan tugas mereka. Lagian dari mana ketiga orang itu mengetahui lokasi apartemen Cakka? Padahal selama ini Nismara sudah mati-matian merahasiakannya tapi sepertinya mereka memiliki radar khusus yang memungkinkan mereka untuk merusuh di manapun.

  Bahkan seolah seluruh tempat muncul dari jari manis nenek moyangnya, ketiga manusia itu langsung melenggang masuk tanpa mengenal tata krama. Berlarian macam anak tuyul minta belaian. Nismara harus berkali-kali meminta maaf pada si tuan rumah yang hanya mampu tersenyum kikuk bersamanya.

  "Anak artis mah beda yehh," Bandung memuji sebuah lukisan abstrak yang memang terpajang di dekat tangga sebelum naik dan turun tak lama setelahnya. "Ada tempat gym juga."

  "Serius?!" Binar memekik. Sama seperti Bandung, perempuan yang sedang memakai hoodie hijau mint itu mengadakan house tour mendadak. "Wihh, gue kagak bisa bayangin pagi-pagi, waktu gue baru bangun, masih pake baju tidur, sok-sokan mau ambil minum di dapur tapi belum juga turun gue udah liat bidadara lagi nge-gym. Enggak pake baju cuma kolor biru tapi ototnya bikin jantung ini serasa digarukin hahahhaha... aduh Mak, kagak kuat hayati."

  Nismara menepuk jidatnya mendengar racauan kehaluan Binar. Teman-temannya yang stres Nismara yang malu.

  "Ssttt, anak monyet udah ngimpinya, malu-maluin aja lo!!" Nismara menarik Binar yang masih mabuk kepayang oleh khayalannya. "Woy monyet satu turun lo jingan!"

  Nismara hampir jantungan melihat Bandung yang menaiki pegangan tangga demi menyentuh anak panah yang dijadikan pajangan. Bandung itu selain malu-maluin kampungan juga. Nismara menarik-narik celana Bandung. "Turun lo, gimana kalau lo jatuh? Gue enggak mau ya didemo keluarga lo gara-gara lo mati di apartemen suami gue."

  Mungkin Nismara mengatakannya secara tidak sadar, namun seseorang yang dia panggil 'suami' langsung menatapnya dengan pandangan yang tidak terbaca.

  "Bandung turun kagak lo!"

  Bandung menyentak cubitan Nismara. "Iya-iya, gue turun. Pelit amat lo sama sahabat sendiri."

  "Lo kalau di rumah orang bisa disimpen dulu kagak noraknya? Gue yang malu ini."

  Bandung menggelengkan kepalanya heran. "Dari mananya sikap gue yang norak? Gue itu anak seni sudah sepantasnya gue tertarik pada segala sesuatu yang berbau seni."

  "Oh lo mau liat yang berbau seni, kenapa enggak bilang tuh lo liat pintu putih deket dapur?" Bandung mengikuti arah yang ditunjuk Nismara. "Lo masuk ke sana, buka celana terus lo pipis sampe lo puas hirup segala sesuatu berbau seni itu!"

  Bandung menunjukkan ekspresi seolah Nismara baru saja mempraktikkan aliran sesat. "Ngelucu lo mah, Ra. Tapi sorry masih lucuan muka gue."

  Mendengarnya Nismara langsung berdecih jijik.  

  Belum selesai dengan Bandung, tiba-tiba saja Nismara mendengar kumpulan suara-suara aneh yang mampu membuat jiwa manusia berontak bagai ikan nila di daratan. Untuk sesaat Nismara bergeming, mencoba menajamkan pendengaran dan berharap bahwa dia tengah berhalusinasi, tapi semuanya tampak sangat realistis. Nismara mendelik horor, ada Regi yang tengah duduk bersila di depan televisi sambil mengotak-atik isi tasnya. Masalahnya tuh bukan Reginya, tapi pada tayangan apa yang sedang lelaki itu lihat.

  "Abang lo ngapain?!"

  Regi menunjuk televisi besar itu dengan raut setenang air selokan di musim kemarau. "Abang lagi mau liat gimana rasanya nonton bokep di tivi segede ini, Ra."

  Sungguh Nismara mau pingsan saja kalau begini.

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang