"Untuk siapa aja yang lihat video ini, gue minta maaf. Maaf kalau selama ini gue udah buat salah, baik disengaja atau emang gue enggak niat sengaja. Kalian tahu 'kan kalau gue itu suka ngomong apa adanya? Kalau lo bau ketek gue bilang aja bau ketek, masa gue pura-pura bilang bau bunga. 'Kan enggak nyambung."
Nismara yang baru saja keluar dari kamar mandi mengerjap-ngerjap bingung. Kayaknya Nismara merasa kalau dia pernah mendengar kata-kata itu apalagi suaranya juga terdengar sangat familiar, tapi dimana ya?
Sambil menggosok-gosok kulit kepalanya dengan handuk kecil, Nismara berjalan ke sisi ranjang. Dan baru ketika dia melihat Cakka sedang duduk berselonjor sambil memegang ponselnya, Nismara akhirnya tahu kenapa dia merasa tidak asing dengan kata-kata itu. Bukankah itu video wasiat yang dia ambil waktu teman-temannya menculiknya untuk ikut pesugihan dulu?!
Dengan panik Nismara kemudian melompat ke atas ranjang, merenggut ponselnya dari tangan Cakka. "Kamu tahu privasi enggak?!" Sembur Nismara jengkel.
Sebaliknya Cakka malah cengengesan tanpa dosa. "Tadi temen kamu telpon jadi aku angkat aja dan enggak sengaja lihat itu."
Nismara manyun. Karena banyak hal yang terjadi Nismara jadi lupa untuk menghapus video memalukannya itu. Lagian dia juga merasa tidak akan ada orang yang menemukannya karena saking banyaknya file yang menumpuk, yah kecuali kalau ketiga temannya yang dengan sengaja menyebarkan—yang untungnya tidak mereka lakukan.
Makanya kenapa Cakka bisa kebetulan menemukan video itu ya? Mana muka Nismara lagi masa jelek-jeleknya lagi. Lihat saja wajah bengkaknya yang tertutup air mata dan ingus. Iuhh. Sebagai si pemilik wajah saja, Nismara tidak sudi melihatnya. Apalagi orang lain.
"Itu waktu temen-temen kamu ajak kamu ikut pesugihan 'kan?" Tanya Cakka.
Nismara mengangguk, masih dengan raut bete. "Hemm, sekaligus waktu kita keciduk sama bapak-bapak ronda itu!"
Mendengar nada sinis dari kalimat Nismara membuat Cakka berdeham kikuk. "I-iya, waktu itu juga."
"Aku kelihatan putus asa banget ya?"
"Apa?" Cakka balik bertanya.
"Di video."
"Oh."
"Kalau ada orang yang tanya momen paling chaos yang pernah aku alamin, jawabannya pasti waktu itu. Malam-malam mereka bawa aku ke rumah kosong, dipaksa ikut pesugihan terus abis itu malah dinikahin. Mana waktu itu maharnya recehan lagi."
"Maaf," sesal Cakka amat pelan. Laki-laki itu beringsut mendekati Nismara, meraih handuk kecil yang gadis itu sampirkan di pundaknya sendiri kemudian menggunakannya untuk menggosok rambut Nismara yang basah. Gerakan Cakka begitu lembut, seolah kekuatan sedikit saja akan melukai Nismara.
Nismara menengadahkan kepalanya, memberi akses lebih luas untuk Cakka. Bahkan secara tidak sadar, Nismara memundurkan tubuhnya agar lebih merapat dengan Cakka. "Udah takdir kali ya, aku harus ngalamin kejadian sedahsyat itu. Yah, mudah-mudahan aja Tuhan enggak ngasih aku takdir yang lebih complicated dari pada ini."
"Mara," panggil Cakka pelan.
"Hmm?"
"Seandainya kalau kita enggak bertemu malam itu, apa yang terjadi?"
Nismara membayangkan segala kemungkinan yang bisa dia ciptakan. "Enggak tau deh, tapi kayaknya kalau kamu sama aku enggak berpapasan malam itu kita enggak akan berada disini sekarang. Kita mungkin bahkan enggak akan pernah saling kenal. Enggak tahu deh, bukan kuasa aku buat menerka-nerka. Itu urusan Tuhan."
"Kita pernah ketemu kok," celetuk Cakka.
Spontan Nismara menolehkan kepalanya penuh tanya. "Hah, kapan?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
