37. Ngidam?

6.5K 476 11
                                        

"Kayaknya aku mau cium kamu."

Jika ada yang bertanya apa yang Cakka rasakan setelah Nismara mengatakan lima baris kata itu, maka Cakka benar-benar kalang-kabut. Separuh jiwanya seolah tak percaya kalau Nismara yang biasanya judes dan tak bisa diajak romantisan, sekarang mengatakan hal-hal yang bisa membuat celahan nadi Cakka berkontraksi hebat. Namun separuh jiwa lainnya malah meronta-ronta kesenangan. Ditambah Nismara sudah memajukan wajahnya semakin dekat dengan miliknya, membuat Cakka meneguk ludah gugup.

"B-boleh." Duh, Cakka bahkan hampir tidak mampu menggerakkan lidahnya yang kelu saking gugupnya.

Berbeda halnya dengan Nismara yang malah tenang-tenang saja. Gadis itu menaruh kedua telapak tangannya di pipi Cakka, membuat suaminya itu sontak menutup kelopak matanya. Mengharapkan sebuah ciuman yang akan jatuh di atas bibirnya.

Tapi sedetik, dua detik, kenapa Cakka tidak kunjung mendapati  kelembaban yang seharusnya dia rasakan ya? Bukannya ciuman hangat yang dia dapat Cakka malah merasakan sensasi nyeri, seolah seseorang sudah mencubit bibirnya sekuat tenaga. Cakka meringis kesakitan lalu kembali membuka matanya. Dan wajah culas Nismara langsung terpampang nyata dalam pandangan.

"Rasain, emang kamu aja yang bisa goda-goda hahaha..."

Tawa keras Nismara sontak membuat ekspresi Cakka mandek. Dia sudah sangat berharap banyak pada ciuman memabukkan yang akan Nismara berikan, karena bagaimanapun gadis itu tidak sering mengambil inisiatif sendiri. Tapi tidak seperti  bayangannya Cakka malah harus benar-benar kecewa karena Nismara cuma mempermainkannya!

Melihat raut muka Cakka bukannya membuat Nismara menyesal, tawa gadis itu malah semakin mengencang.

Merasa jengkel, Cakka menarik kepala Nismara lalu menyatukan bibir mereka. Jika Nismara tidak mau menciumnya maka Cakka bisa melakukannya sendiri. Laki-laki itu menjulurkan lidahnya, melumat permukaan bibir lembut Nismara habis-habisan. Bahkan jika Nismara berusaha mendorongnya, Cakka tak peduli. Dia malah semakin merapatkan diri dan memunculkan sisi dominannya.

"Aw!" Nismara memekik saat Cakka menggigit bibir bawahnya. Gadis itu mendorong dada Cakka sekuat tenaga dan bersungut kesal. "Cakka, sakit anjir!"

Sama seperti yang Nismara lakukan tadi, Cakka malah terbahak penuh kepuasan. Ditambah ada rasa bangga saat melihat bibir tebal Nismara yang terlihat semakin membengkak karena ulahnya. Ya, hanya Cakka yang bisa membuat Nismara seperti itu.

"Lo anjing ya suka gigit orang!" Sungut Nismara yang membuat Cakka langsung mematuk bibir gadis itu sekali lagi. "Cakka!"

"Masa suami sendiri kamu samain sama anjing sih, Mara. Ehh, tapi anjing lucu juga sih."

Nismara memutar bola matanya malas. Dibandingkan duduk disini dan mengambil resiko untuk kepergok mesum dengan suaminya sendiri Nismara lebih baik melanjutkan tugasnya. "Udah ahh, aku mau lanjut lukis lagi!"

"Yang," panggil Cakka sambil berlari mengejar Nismara. Selanjutnya tanpa mempermasalahkan kalau mereka sedang berada di muka umum, Cakka memeluk Nismara dari belakang tanpa menghentikan langkah keduanya. Alhasil mereka terlihat seperti sepasang kembar siam.

"Nanti malam aku kayaknya lagi pengen makan soto deh, kamu masakin ya?" Celetuk Cakka tiba-tiba.

Nismara mengerutkan kedua alisnya. "Soto apa?"

"Soto betawi kayaknya enak deh."

"Okay," Nismara setuju tanpa syarat. Yah, memasak soto bukanlah masalah berat baginya. Apalagi sudah banyak resep di internet. Nismara tinggal copy paste dan beres.

Cakka menaikkan kedua sudut mulutnya. "Makasih sayang."

"Hmm, tapi boleh enggak kalau kamu lepasin aku dulu? Aku malu, sialan!" Nismara menutup wajahnya yang tersipu berat. Sekarang dia merasa seperti sedang melakukan atraksi topeng monyet saking banyaknya orang yang memandang mereka. Bahkan di ujung koridor sana sudah ada jajaran dosen yang sekarang ikut-ikutan menonton. Mana si bapak tua berkemeja kotak-kotak itu bisa-bisa ambil foto lagi.

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang