42. Bertengkar

5.5K 471 27
                                        

Nismara baru saja selesai memakai celana jeans-nya saat dering ponselnya terdengar. Sambil menenteng kaos oblong di pundaknya Nismara meraih ponselnya yang ia letakkan di bawah bantal. Nama Bang Herry tertera disana. Nismara terpaku sejenak, entah mengapa sejak kejadian di warung sate kemarin Nismara jadi sedikit parno dengan Herry. Aneh memang, padahal biasanya Nismara sudah seperti remaja baru mengenal cinta jika mendengar nama Herry. Tapi sekarang, Nismara malah sedikitpun tidak mau menjawab telponnya.

"Halo?" Pada akhirnya demi norma kesopanan Nismara menerimanya juga.

"Halo, Isma. Ini Abang."

"Ada apa Bang?"

"Tiga hari ke depan ada acara reuni di sekolah, kamu mau ikut?"

"Reuni? Angkatan Isma aja?"

"Enggak, ada banyak angkatan juga. Katanya Abang kamu juga mau datang, gimana kamu mau?"

Seingat Nismara, reuni adalah acara yang paling dia tunggu-tunggu selama ini. Karena hanya saat itu Nismara bisa bertemu kembali dengan Herry. Tapi setelah mendapat kabar kalau Herry menikah dengan Sella, reuni SMA berubah menjadi semacam momok baginya. Dan sepertinya perasaan itu masih ada sampai sekarang.

"Kalau gitu aku pikir-pikir dulu ya, Bang," tolak Nismara secara halus.

"Abang harap kamu bisa datang. Guru-guru udah banyak yang nanyain kamu, mungkin mereka kangen sama murid mereka yang nakal."

Nismara tertawa pelan. "Tapi aku enggak janji."

"Ya sudah, Abang tutup dulu telponnya ya."

"Iya."Nismara baru saja akan menjauhkan ponselnya saat Herry kembali memanggil namanya. "Kenapa, Bang?"

"Tidak jadi, sampai jumpa nanti."

"A-ahh, iya Bang."

"Telpon dari siapa?"

"Monyet!" Nismara merutuk kaget, pasalnya Cakka tiba-tiba saja sudah berada di belakang dirinya. Padahal Nismara sama sekali tidak mendengar orang membuka pintu tadi. "Ngagetin lo, anjir!"

"Bahasa kamu, sayang," tekan Cakka dengan nada sarat peringatan. "Telpon dari siapa?"

Sontak Nismara langsung mengunci layar ponselnya. "Bukan siapa-siapa."

Cakka memandang wajah Nismara dengan curiga, meski begitu dia tidak terlalu ambil pusing. "Aku udah buatin sarapan, kamu mau makan sekarang atau nanti aja?"

"Sarapan apa? Kalau pedes aku enggak mau."

"Enggak kok, aku bikin roti bakar isi daging. Kamu pasti suka. Makan sekarang ya?"

Entah mengapa Nismara merasa kalau nada bicara Cakka sudah seperti pria hidung belang yang menggoda anak SMP. Ditambah tepat setelahnya Cakka tiba-tiba saja menarik kepalanya dan mencuri kecupan kilat di bibirnya. Nismara menjerit kaget.

"Lo enggak kesambet 'kan?!"

"Enggak."

Tapi ekspresi sumringah Cakka malah membuat Nismara makin ngeri. "Kayaknya kamu harus ngaca dan liat ekspresi muka kamu sendiri. Ngeri anjir, kamu udah kayak aki-aki yang mengaku bujangan."

Cakka tertawa geli. "Masa? Ganteng kok."

Oke, fix sih ini. Cakka memang kerasukan. Dengan ekspresi seolah baru melihat kuntilanak kayang Nismara beringsut mundur. "Sumpah deh Cakka, kamu kerasukan apa?!"

"Enggak kerasukan apa-apa sayang. Udah ayo kita makan bareng." Cakka kemudian mencubit ringan pinggang Nismara membuat si empunya langsung menjerit jengkel. "Ngomong-ngomong kamu cantik pakai itu."

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang