Nismara menatap rumah mewah di depannya dengan terpesona. Rumah bergaya Eropa yang banyak ditumbuhi oleh pepohonan dan bunga-bungaan itu selalu membuat Nismara berdecak kagum penuh rasa cemburu. Ini bukan pertama kalinya dia datang kerumah orang tua Cakka namun dia masih suka kicep bahkan jika melihat pintu gerbang bercat emasnya. Rumah artis memang berada di level yang berbeda.
Kolam berenang, pekarangan luas, rumah kaca dan bahkan lapangan basket yang warnanya menyerupai batu akik. Kinclong bener. Untung imannya kuat kalau tidak Nismara yakin kuasnya sudah mendarat dengan mulus disana.
"Ya ampun, mantu Mama datang juga. Gimana kabarnya sayang, sehat? Maaf ya Mama baru hubungin kamu lagi, akhir-akhir ini Mama lagi sibuk syuting sinetron." Seperti biasa Anggita selalu heboh jika dia datang ke rumahnya.
Nismara menyambut pelukan Anggita. "Baik kok, Ma. Mama apa kabar?"
"Baik juga, sayang," Anggita menjawel pipi Nismara gemas, "ayo sini, Mama udah siapin makanan kesukaan kalian."
Nismara langsung digiring ke ruang makan saat itu juga karena kebetulan dia dan Cakka datang pada jam makan siang. Sudah ada Bram disana, seperti biasa duduk anteng tanpa mengatakan apapun. Nismara langsung menyalimi papa mertuanya itu.
"Gimana kuliah kalian, lancar?" Tanya Anggita sesaat setelah mereka memulai acara makan-makan.
"Alhamdulilah, Ma."
Anggita mengangguk lalu menyuap sesendok nasi ke mulutnya. "Gimana, kamu udah ada tanda-tanda sayang?"
"Tanda-tanda apa ya Ma?" Nismara menaikkan alis tak mengerti.
"Punya momongan."
Nismara langsung terbatuk. Cakka spontan memberinya air minum dan mengelus punggungnya. Setelah reda Nismara kembali menatap Anggita.
Melihat reaksi panik menantunya Anggita sepertinya juga menyadari sesuatu. "Masih belum ya?" Anggita melirik putranya yang sejak tadi terdiam, "aduh gimana sih Cakka, kalian itu udah nikah beberapa minggu masa belum goal juga? Mama aja seminggu bulan madu langsung hamil loh atau jangan-jangan kamu emang loyo ya?"
Kali ini Cakka yang terbatuk keras. Diam-diam Nismara merasa iba, kenapa Anggita selalu berpikir kalau Cakka itu kurang tenaga ya? Kasihan. Yah, walau Nismara sendiri tidak tahu sih.
"Kita masih muda, Ma. Aku masih semester enam dan Mara juga baru semester empat, kalau dia cuti 'kan sayang, Ma. Lagian aku aja belum kerja." Cakka memberi penjelasan.
"Tapi Mama udah pengen punya cucu, Ka. Adik Mama aja, tante kamu itu, udah punya dua cucu."
"Itu mereka 'kan bukan Mama."
Anggita memutar bola matanya. Mungkin jengah dengan sikap dingin Cakka. Jadi perempuan itu memilih kembali beralih pada Nismara. "Sayang kamu enggak niat buat nunda 'kan?"
Nismara menarik sudut bibirnya dengan kikuk. Tiba-tiba merasa kalau dia tengah berada di dalam ruang interogasi yang kedap suara dan menakutkan. "Cakka bener, Ma. Aku emang belum ada niat buat punya anak sekarang dan aku juga merasa kalau aku belum cukup mampu untuk itu. Maaf, aku harap Mama enggak kecewa," kata Nismara dengan perasaan tidak enak. Dia takut kalau Anggita akan sakit hati dan bayang-bayang kekejaman peran Mama mertuanya itu kembali menghantui. Jangan sampai Anggita menunjukkan keantagonisannya.
Dan benar saja Anggita tampak cukup sedih mendengar penjelasan Nismara.
Bram, yang menyadari kekecewaan istrinya sontak mengulurkan tangan dan mengusap pundak Anggita dengan lembut. "Ma, mereka sudah dewasa biarlah mereka memilih jalan hidup mereka sendiri."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
