Mengandalkan arahan dari beberapa penduduk, mereka akhirnya sampai di depan sebuah rumah sederhana yang kini dihias dengan ornamen pernikahan yang khas. Terdapat beberapa ikatan bunga yang membuat tempat itu memiliki aroma semerbak yang harum. Sayangnya hal itu malah membuat keempat orang yang baru saja datang semakin kalang kabut.
Sambil menyembunyikan tongkatnya mereka berjalan memasuki halaman depan, sebisa mungkin ikut berbaur dengan para tamu yang berbondong-bondong datang.
Begitu melewati meja-meja parasmanan, keempat pasang mata itu membulat. Pasalnya orang yang saat ini tengah duduk di pelaminan outdoor bukanlah Cakka dan Bu Siska seperti yang mereka duga, melainkan sepasang manusia yang jika dilihat sekilaspun memiliki perbedaan usia sangat jauh. Dimana pengantin laki-lakinya terlihat sudah berkepala lima atau enam tapi pengantin perempuannya malah terlihat sangat muda.
"Ini siapa yang kawin?!" Jerit Bandung tak percaya. Laki-laki itu sibuk celingukan kesana-kemari. Mungkin nalurinya untuk mencari aib orang mulai terpancing.
"Eh, anjir penganten ceweknya masih ucul-ucul. Lah, kok cowoknya aki-aki," timpal Binar tak kalah heboh.
"Wah, apakah karena ada tahap pembuahan dini?" Celetuk Regi yang juga tampak syok berat. Iyalah, syok. Dia saja selaku mahasiswa tampan, pinter nyanyi, populer seantero kampus belum juga menemukan tambatan hati. Lah ini, kakek-kakek bangkotan malah dapat istri cantik nan muda dengan begitu mudahnya.
"Lo kira semangka pake pembuahan segala!" Binar menggeplak kepala Regi. "Yang bener itu, perkembangbiakan anjir!"
"Perkembangbiakan sapi bapak lo, harusnya pertemuan antara sel telur dan spe—"
"Bandung, bacot!!" Nismara menutup mulut Bandung yang bocor. "Bilang aja hamil duluan anjir, ribet banget lo pada!"
Mungkin karena mereka saking ributnya, hampir seluruh atensi orang-orang langsung terarah pada mereka. Termasuk sepasang manusia yang menatap kehadiran mereka dengan raut bingung.
"Mara, kamu kenapa ada disini?"
Nismara terhenyak kaget ketika seseorang menepuk pundaknya. Dan ternyata dia Cakka, orang yang dia cari-cari selama ini. Dengan penuh selidik Nismara menatap Cakka dan Bu Siska yang berdiri beriringan. Mereka kelihatan serasi dengan kemeja biru dongker yang Cakka pakai dan gaun panjang dengab warna serupa yang Bu Siska kenakan. Dan keadaan ini membuat emosi yang beberapa waktu lalu hampir lenyap malah kembali mencuat.
Nismara memundurkan tubuhnya sehingga sentuhan Cakka di pundaknya terlepas. "Kamu yang ngapain disini?" Tuduhnya.
Cakka mengerjap gugup. "A-aku..."
Kenapa Cakka masih saja menutupi segalanya saat jelas-jelas Nismara sudah menangkap basah dirinya? Meski ternyata orang yang menikah bukanlah mereka, tapi tetap saja Cakka memang bersama Bu Siska selama ini.
"Hmm, Nismara kamu jangan salah paham dulu saya bisa jelasin kok kenapa kita ada disini." Mungkin karena merasakan aura membeku di antara mereka membuat Bu Siska turut membuka suara. "Sebenarnya hari ini Ayah saya menikah lagi."
"Kak!" Sentak Cakka seolah ingin menghentikan Bu Siska untuk membeberkan semuanya.
"Enggak papa, Ka. Kakak percaya sama istri kamu," timpal Bu Siska meyakinkan.
Nismara memperhatikan interaksi mereka dengan raut tercengang. Tapi yang membuatnya lebih kaget lagi adalah fakta bahwa Ayah Bu Siska yang katanya menikah hari ini sedang mencium istri mudanya di depan sana! Sumpah, Nismara bahkan sampai merinding parah.
"Beberapa waktu lalu Ayah saya menghamili anak tetangga kami dan karena itu situasi keluarga saya kacau balau. Apalagi Ibu saya termasuk empat istri Ayah yang lainnya ikut membuat keributan karena tidak setuju. Dan karena itu, Cakka membantu saya. Cakka jugalah yang hampir mengurus semuanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
