"Mandi dulu, Mara," perintah Cakka. Laki-laki itu menarik-narik ujung dress yang Nismara kenakan. Namun sepertinya gadis itu sudah terlalu malas untuk sekedar membuka mata. Nismara malah semakin menyusupkan dirinya pada permukaan seprai yang dingin.
"Mara." Sekali lagi Cakka memanggil gadis itu.
Nismara mengerang protes. "Capek Cakka."
"Abis mandi baru tidur."
"Enggak mau," rengek Nismara.
Cakka menggelengkan kepalanya, terlebih hanya setengah menit kemudian Nismara sudah terlelap ke dalam tidurnya yang panjang. Sebagai seorang yang cenderung tidak bisa tidur malam tanpa mandi terlebih dahulu jelas Cakka ingin segera membangunkan Nismara. Malahan Cakka sudah menyiapkan siasat gila untuk menyeret badan Nismara ke kamar mandi. Sayangnya Cakka mengurungkan niatnya. Dia masih sayang nyawa.
Alhasil Cakka cuma bisa meninggalkan Nismara tertidur lebih dulu. Sedangkan ia langsung berjalan ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yang berkeringat. Setengah jam kemudian, Cakka kembali keluar dengan penampilan yang lebih segar. Sebuah set piyama satin berwarna biru membungkus tubuhnya.
Sambil mengeringkan rambutnya yang basah Cakka melangkah ke arah ranjang, dimana Nismara masih berada dalam posisi yang sama seperti sebelumnya. Sekali lagi Cakka hanya mampu membuang nafas pasrah. Dengan gerakan pelan, Cakka merangkak ke atas ranjang. Melepaskan bandana yang masih terpasang di kepala Nismara. Setelahnya Cakka juga menyugar rambut Nismara penuh kelembutan, sehingga bagian samping wajah gadis itu bisa terlihat cukup jelas.
Sepasang mata yang biasanya menyorot penuh cahaya kini terpejam erat. Dan bibir merekah itu, yang kerap kali mengeluarkan nyinyirannya sekarang tertutup tenang. Menggoda Cakka untuk sekedar mendaratkan sentuhan ringan di atasnya.
Cakka tidak tahu apa yang dia lakukan. Laki-laki itu masih bertahan dalam posisinya selama beberapa waktu, memperhatikan wajah Nismara yang begitu damai. Sampai matanya menggeser turun. Cakka meneguk ludahnya begitu permukaan kulit telanjang gadis itu tertangkap dalam indera penglihatannya.
Selama berada disini Cakka memang selalu memaksa Nismara untuk mengenakan pakaian yang ia pilih, yang kebanyakan memiliki model cukup sexy. Seperti hari ini, Cakka memaksa Nismara untuk memakai gaun selutut berwarna merah muda yang memiliki potongan cukup rendah di punggungnya.
Pada awalnya Cakka tidak punya maksud tersembunyi, dia hanya menyukai pakaian itu dan berpikir kalau Nismara akan cocok saat mengenakannya. Tapi siapa yang menyangka, tidak hanya cocok Nismara juga sangat memukau. Seolah semua pakaian itu dibuat khusus untuknya.
Ini juga alasan kenapa Cakka harus ekstra hati-hati agar tidak menerjang Nismara kapan saja. Bagaimanapun dia juga laki-laki yang memiliki keinginan. Ditambah kehadiran seorang gadis yang setiap hari menemaninya di atas satu ranjang yang sama, jelas Cakka berkali-kali tersiksa.
Sayangnya Cakka tidak bisa melakukannya tak peduli seberapa besar keinginannya. Kecuali jika Nismara juga menginginkannya. Tapi melihat dari perkembangan di antara keduanya, seperti itu tidak akan pernah terjadi.
Seolah akal sehat kembali merasuki otaknya, Cakka kembali menegakkan diri sebelum akhirnya berjalan memasuki kamar mandi.
Yah, sepertinya Cakka harus mandi sekali lagi.
***
"Kamu kenapa dah?" Tanya Nismara heran. Saat ini mereka sudah duduk di dalam pesawat yang akan membawa mereka kembali pulang. Namun sejak tadi pagi Cakka terlihat aneh. Raut wajah laki-laki itu terkesan tidak bersahabat.
Nismara kemudian menyentuh kening Cakka untuk mengukur suhu tubuhnya. "Enggak panas kok," ujarnya.
Cakka meraih pergelangan tangan Nismara dan menariknya turun. "Aku enggak sakit, Mara."
"Terus kenapa? Dari tadi kamu kelihatan murung terus." Begitu selesai berbicara, Nismara tidak bisa menahan diri untuk mendecakkan lidah. Sumpah, dia masih belibet kalau ngomong aku-kamu sama Cakka.
"It's okay. Aku mau tidur sebentar, kalau pesawatnya udah landing bangunin aku, ya?" Kata Cakka sebelum akhirnya memilih untuk menutup matanya dan menyandarkan kepalanya di pundak Nismara. Di sampingnya, Nismara yang sudah terbiasa dipeluk macam gurita setiap malamnya memilih untuk diam. Membiarkan Cakka terlelap dan menggunakannya sebagai bantal sandaran.
***
Beberapa jam berlalu, setelah meninggalkan bandara akhirnya mereka sampai juga di apartemen. Cakka langsung menggeret kopernya ke dalam kamar dan melemparkan tubuhnya sendiri ke atas tempat tidur. Setelah beberapa hari berlarian Cakka merasa lelah juga.
Di sisi lain, Nismara malah langsung berkutat di dapur. Mengeluarkan kotak plastik bening dari dalam kulkas. Selama mereka liburan, Cakka memang sengaja sedikit mengosongkan isi kulkasnya, karena takutnya bahan-bahan makanan khususnya seperti sayuran yang tidak tahan lama malah akan busuk setelah ditinggalkan berhari-hari.
Namun untungnya karena kemarahan Nismara setelah bertemu Bang Herry beberapa waktu lalu, Nismara malah menyalurkannya untuk membuat puluhan bakso sapi. Cakka berhasil memakan setengahnya dan sisa lainnya Nismara masukkan ke dalam freezer. Jadi Nismara tidak perlu memasak lagi, dia hanya perlu menghangatkan bakso dan membuat kuah baru.
Sejurus kemudian Nismara menyelesaikan pekerjaannya. Setelah mandi dan berganti pakaian, Nismara bergegas membangunkan Cakka. Gadis itu menggeplak dada Cakka cukup keras sehingga si empunya yang pada awalnya asyik menjalani mimpi langsung terbangun seketika. "Bangun, woy!"
Cakka mengerang nyeri. "Sakit, Mara."
"Buruan bangun, aku udah masak bakso."
Menurut, Cakka langsung mendudukan diri dengan mata yang masih menyipit.
"Buruan! Juga lepas kaos kakinya, kotor tau enggak?!"
"Iya-iya."
Setelah mencuci muka Cakka pergi ke dapur. Di atas meja makan sudah tersaji sepanci bakso yang masih mengeluarkan asap. Dengan penuh semangat Cakka langsung memasukkan enam buah bakso seukuran bola pingpong ke dalam mangkuknya. Oh, jangan lupakan saos sambal seabreg.
"Enggak ada mi?" Tanya Cakka sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar meja makan.
"Enggak ada, aku males pergi ke minimarket."
Cakka mengangguk mengerti, kembali melahap baksonya dengan nikmat. Selama menikah dengan Nismara, Cakka tidak pernah kelaparan. Siapa sangka Nismara yang kelihatannya begajulan justru merupakan seorang istri yang baik. Nismara pandai memasak dan mengurus rumah. Yah, meski Cakka juga harus ekstra sabar mendengar omelannya yang bisa muncul setiap saat.
"Tunggu deh," kata Cakka tiba-tiba.
"Kenapa?"
Tanpa mengatakan apapun Cakka langsung berlari pergi dan baru kembali dengan ponsel di tangannya. Nismara memandang Cakka aneh ketika laki-laki itu tiba-tiba saja duduk di sampingnya. "Mara liat sini."
"Ngapain sih?!" Tanya Nismara risih.
"Angkat mangkuknya biar kelihatan di kamera."
Walau mencak-mencak, Nismara tetap saja berpose sesuai apa yang Cakka intruksikan. Gadis itu mengangkat mangkuk baksonya di depan dada dan tersenyum ceria ke arah lensa kamera. Di sampingnya Cakka mengulurkan sebelah tangannya ke belakang, merangkul punggung Nismara yang membuat tubuh mereka semakin tak berjarak. Sambil memberi aba-aba Cakka menempelkan pipinya pada milik Nismara.
Baru setelah mengambil foto beberapa kali Cakka akhirnya berhenti dengan perasaan puas. Laki-laki itu tampak anteng mengotak-atik ponselnya.
Penasaran, Nismara mencondongkan kepalanya mengintip. Dia bergidik begitu melihat apa yabg Cakka lakukan di media sosialnya. Tepat di bawah foto yang baru saja mereka abadikan, Cakka menambahkan satu kalimat.
'Makan bersama istri tercinta'.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
