"Mau sampe kapan gue harus nemplok macam cicak kayak gini?" Bisik Nismara jengkel.
Sudah hampir satu jam sejak Nismara diharuskan berpose mesra dengan Cakka di pinggiran sawah. Mereka harus berpelukan lah, pegangan tangan lah bahkan ciuman. Untuk yang terakhir, jelas Nismara menolaknya mentah-mentah. Pertama karena Nismara malu harus mengumbar keintiman di depan para petani setempat yang tengah menabur pupuk. Dan yang kedua, Nismara masih enggan untuk melakukan skinship selain bersentuhan tangan dengan laki-laki itu.
Juga untuk apa Cakka melakukan foto profesional hanya untuk pamer di media sosial? Padahal tinggal cekrek, selesai. Tidak perlu ribet-ribet.
"Lebih dekatan lagi, dong. Gini nih, nih!" Seru Mahesa, photographer yang Cakka sewa guna mengabadikan kenangan keduanya. Laki-laki yang tengah memegang kamera itu mengangkat tangan kirinya, mengintruksikan mereka untuk saling berpelukan erat.
Meski misuh-misuh, Nismara mau tak mau menurut. Mengalungkan kedua tangannya di leher Cakka serta membiarkan tubuhnya bersandar padanya. Sedangkan Cakka spontan meletakkan telapak tangannya di pinggang Nismara. Bagi siapapun yang melihat, keduanya tampak begitu serasi. Sundress putih yang Nismara kenakan begitu senada dengan kemeja putih milik Cakka. Sekilas mereka tampak seperti sepasang keindahan di tengah hamparan alam.
Sayangnya keharmonisan yang terlihat dipermukaan sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan.
"Mbaknya senyum dong, jangan cemberut terus!" Sembur Mahesa yang mulai jengkel karena sedari tadi Nismara tidak bisa menunjukkan ekspresi yang sesuai.
"Ini juga udah senyum, Mas," balas Nismara tak kalah kesal.
"Yang ikhlas dong, Mbak. Gini nih," Mahesa menunjukkan senyum lebarnya dengan geregetan. "Posisinya juga agak deketan lagi. Deketan lagi, kalian ini suami istri bukan sih? Kaku banget kayak pohon kelapa. Peluk pinggangnya, iya gitu... satu dua tiga."
Nismara menghembuskan nafas lelah saat sekali lagi suara klik kamera terdengar. Namun Nismara bahkan tak punya waktu untuk beristirahat karena tepat setelahnya Mahesa menyuruhnya untuk membuat pose lain. Dengan perasaan jengkel setengah mati Nismara meletakkan kepalanya di dada Cakka kemudian menatap lensa kamera yang terarah padanya.
"Gue lebih baik nyangkul sawah daripada harus gini, nyebelin banget orangnya," bisik Nismara dengan senyuman yang masih terpatri di wajahnya. Namun Cakka yang berada sangat dekat dengannya bisa mendengar suaranya dengan jelas.
"Besok kita ganti photographer-nya aja," saran Cakka dengan suara yang sama pelannya.
"Gue enggak mau foto-foto kayak gini lagi ah, capek!" Rajuk Nismara.
Cakka tertawa geli. "Kalau gitu mulai besok kita foto sendiri aja, okay?"
Nismara mengangguk. Bagaimanapun Nismara tidak bohong, dia memang sangat lelah. Bukan secara fisik sih tapi lebih ke mental. Siapa juga yang bisa tahan terus-terusan mendapat omelan dari orang tidak dikenal?! Jelas manusia dengan kadar kesabaran tipis macam Nismara tidak akan tahan. Untung saja Nismara sedang tidak mood mencakar muka orang, kalau tidak yakinlah Mahesa pasti sudah tergeletak sekarang.
"Sekarang Mas-nya coba angkat badan istrinya, jangan tinggi-tinggi nanti kalau jatuh terus patah tulang saya enggak tanggung jawab loh. Mbak-nya juga sebisa mungkin ringanin badannya, rileks, jangan jadi beban."
Nismara membuka mulutnya. "Wah, maksud lo apaan anjir?! Ngajak berantem mulu lo dari tadi, belum tahu aja gue anaknya Pak ER—TE!!"
Belum sempat Nismara menyelesaikan kalimatnya Cakka sudah lebih dulu mengangkat tubuhnya, repleks Nismara memegang bahu Cakka sebagai topangan agar tubuhnya tidak terjatuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
