"Nismara! Nismara! Nismaraaaaa!!!"
Teriakan itu terus terdengar di sepanjang arena pertandingan. Nismara yang seperti perkataannya dulu, kini sedang berdiri di depan sebuah meja kecil. Berhadapan langsung dengan seorang karateka perempuan yang kini menjadi lawan panconya. Iya, ini sudah hari kedua pertandingan persahabatan yang diadakan oleh Institut Teknologi Jayantaka dan Institut Seni Hardiyata.
Raungan penonton semakin menggila saat sang karateka hebat itu hampir menekan jatuh tangan Nismara. Namun sayangnya Nismara bukanlah lawan yang mudah. Menggertakkan rahangnya, Nismara mengerahkan paksa kekuatan ototnya dan dalam hitungan detik gadis itu berhasil memukul telak lawannya. Sehingga Nismara kembali meraih gelar ratu panconya seperti tahun lalu.
Nismara mengangkat kedua lengannya tinggi-tinggi kemudian bersorak. "FUCK YOU, BITCH!!"
Dan tentu saja teriakkannya langsung membuat kehebohan. Semua orang di sekitarnya berteriak menambah keriuhan acara. Sebagian besar menyoraki keberanian Nismara untuk mengutuk di depan umum. Hanya para bapak dan ibu dosen yang cuma bisa menggelengkan kepala mereka melihat tingkah mahasiswa zaman sekarang yang sudah tidak punya adab dan etika.
Binar melompat memasuki area lomba, menyerempet para peserta lomba masak. Sekedar informasi lokasi pertandingan panco barusan diselenggara bersamaan dengan orang-orang yang sedang berkompetisi membuat nasi goreng.
"Ra, buruan laki lo lagi lomba lari!" Secepat kilat Binar meraih lengan Nismara dan menyeretnya pergi dari sana.
Ups, Nismara hampir saja lupa. Padahal Nismara sudah berjanji pada Cakka kalau dia akan hadir saat laki-laki itu sedang bertanding. Ini salah si karateka itu yang terlalu lama menguras waktunya saat bermain panco. Untungnya saja begitu sampai disana pertandingan final belum dimulai sehingga nantinya Nismara tidak perlu mendengar omelan Cakka.
Nismara berdiri tepat di samping garis finish, memperhatikan Cakka yang tengah bersiap-siap kejauhan sana.
Laki-laki itu tampak berbeda kaos olahraga berwarna biru dan celana pendek yang di atas lutut. Ditambah entah ada angin apa Cakka memakai headband berwarna hitam di kepalanya. Nismara jadi kesal saat melihat beberapa gadis yang menjerit-jerit karena tak kuasa menahan ketampanan Cakka.
Seolah menyadari kehadiran Nismara, Cakka mengangkat pandangannya dan tersenyum cerah. Hehe, lalu kenapa kalau mereka sampai terpesona pada Cakka? Kenyataannya pandangan Cakka cuma terarah pada Nismara saja.
Tak berselang lama pertandingan final lari sprint dengan jarak 100 meter akhirnya di mulai. Para peserta langsung berancang-ancang mengambil sikap siaga dan begitu aba-aba terdengar mereka langsung berlari secepat mungkin. Nismara menggigit bibir bawahnya cemas begitu seseorang hampir saja menyalip Cakka.
Entah mengapa beberapa detik itu terasa begitu lambat baginya. Nismara terus saja bergerak tak karuan. Matanya terus saja menyorot tajam, mengikuti setiap langkah yang Cakka ambil. Oh Tuhan, Nismara tidak pernah mengharapkan sesuatu saat dirinya sedang berpanco tapi kali ini saja tolong biarkan Cakka menang. Dan ketika Cakka berhasil melewati garis finish untuk yang pertama kalinya Nismara langsung menjerit bahagia.
Suaminya memang hebat!!
Cakka yang telah berhasil melewati garis akhir mulai secara perlahan memelankan langkahnya baru kemudian laki-laki itu berbalik, kembali berlari ke arah belakang. Bedanya kali ini garis finish yang harus dia lewati adalah Nismara. Cakka merentangkan kedua lengannya lebar-lebar dan hup! Nismara berhasil merangsek ke dalam pelukannya.
"Aku pikir kamu enggak datang," bisik laki-laki itu. Mungkin dia terlalu berlebihan. Toh, pertandingan ini tidak membawa Cakka masuk ke kancah pertandingan nasional. Tapi entah mengapa saat matanya menangkap sosok Nismara, Cakka merasakan rasa bangga yang selama ini tidak pernah dia rasakan. Seolah kemenangan sekecil ini begitu sempurna sehingha Cakka ingin sekali mengumumkannya ke seluruh dunia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomansaMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
