22. Cubit Pantat

7K 502 16
                                        

Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian laki-laki itu mengajaknya mengunjungi salah satu mall terbesar di kota. Nismara sedikit meringis melihat barang-barang yang menggunung di dalam troli. Itu bukan ulahnya, tapi memang Cakka yang akan memasukkan apapun yang dia lihat dan sukai. Sejauh ini Nismara hanya memasukkan tiga bungkus mi instan, sebungkus keripik dan satu batang coklat. Tapi Cakka, Nismara tidak tahu kalau suaminya itu punya kepribadian menimbun banyak makanan begini.

  Untungnya Cakka yang akan membayar jadi Nismara tidak perlu terlalu sesak nafas.

  Sudut bibir Nismara berkedut saat Cakka memasukkan sekian banyak aneka saus sambal. Satu rahasia, Cakka itu suka sekali makanan pedas. Nismara saja kalah saing. Pernah sekali dia mencicipi mie instan buatan lelaki itu dan Nismara harus berakhir diare seharian. Makanya sejak kejadian itu Nismara memilih mengambil alih pekerjaan dapur dibandingkan dia harus masuk rumah sakit karena kepedasan.

  "Sumpah, lo kayak lagi di film-film zombie itu."

  "Film Zombie?" Beo Cakka tak paham.

  "Iya, manusia-nya 'kan sibuk nimbun makanan biar enggak mati karena mereka bakal sulit keluar."

  "Oh," Cakka hanya bereaksi seperti itu sambil menarik sebungkus camilan lainnya. "Buat jaga-jaga, Mara, lagian kita sama-sama suka nyemil. Yang ngabisin cemilan di kulkas siapa? Kamu 'kan."

  Tak terima disalahkan, Nismara balik menyerang. "Dih, lo juga kali. Bukannya lo yang makan es krim gue? Mana tuh es krim mahal banget lagi. "

  Nismara memutar bola matanya saat Cakka terkekeh pelan seolah mengaku. Gadis yang sedang menggerai rambut panjangnya itu kemudian melirik puluhan gambar cabe di dalam troli. "Tapi gue bisa berakhir dirawat di IGD kalau terus makan beginian setiap hari."

  Cakka menurunkan pandangan, baru menyadari. Laki-laki itu kemudian tertawa hambar. "Maaf, kalau gitu kamu bisa milih yang lainnya. Kamu suka manis 'kan? Gimana kalau kita beli es krim lagi?"

  Nismara menggelengkan kepalanya tak habis pikir. Selama ini Cakka sering mengatainya karena Nismara suka sekali makan tapi lihat, buktinya siapa yang lebih rakus dibandingkan dirinya.

  Tak berapa lama setelah memilih tiga jenis es krim akhirnya mereka sampai dibagian bahan makanan. Tentu saja atas paksaan Nismara karena kalau tidak laki-laki itu mungkin tidak pernah ingat kalau dia juga perlu makan nasi.

  "Lo suka terong enggak?" Nismara mengangkat terong super besar yang tampak glowing abis. Se-glowing muka Cakka kalau baru mandi. "Kalau dimasak pake bumbu balado enak banget loh. Atau lo lebih suka digoreng pake tepung?"

  Tidak tertarik, Cakka malah sibuk dengan ponselnya. "Hmm."

  "Kalau seafood-nya lo mau apa? Ikan, udang atau cumi?"

  "Terserah."

  "Lo lebih suka bunga kol atau brokali?"

  "Apa aja, terserah kamu."

  "Mau jeruk atau melon?"

  "Dua-duanya aja."

  "Enaknya sabunnya wangi apa ya?"

  "Enggak tau."

  Nismara mendengus mendengar jawaban Cakka yang itu-itu aja. Tadi aja laki-laki itu amat semangat, giliran diajak belanja kebutuhan dapur malah mager gitu. Heran. Alhasil Nismara hanya meraup apapun yang dia suka, toh nanti juga Cakka pasti akan memakan apapun yang Nismara buat untuknya.

  Saat Nismara meluncur ke rak kebutuhan wanita, Cakka yang mengekor di belakang langsung bereaksi. Dia menarik istrinya kemudian menunjuk salah satu merk pembalut terkenal. "Kamu pakai yang ini aja, Mara. Aku udah riset, dia punya panjang 42 cm, bersayap, punya daya serap dan ketahanan yang bagus apalagi bahannya juga cukup aman untuk wanita yang memiliki kulit sensitif. Katanya sembilan dari sepuluh wanita memilih produk ini."

  Hah?

  Apaan nih?

  Itu suaminya atau sales pembalut?

  Mana mukanya meyakinkan banget lagi.  

  Nismara memasang wajah ngeri. "Lo serius, Cakka. Demi apa lo ngeriset beginian?"

  Cakka mengangguk tegas, menimang-nimang barang itu dengan santai. "Terakhir kali kamu halangan aku udah liat merk apa yang kamu pakai dan katanya bahannya enggak terlalu bagus. Bisa membuat kulit iritasi dan kalau dipakai terlalu lama bisa sangat berbahaya. Makanya aku coba nyari tahu merk apa yang paling aman dan bagus untuk dipakai. Terus karena kamu suka kesakitan aku juga udah nyari tahu obat yang bagus. Kamu tahu ki-"

  Nismara menyumpal mulut  Cakka menggunakan tasnya. Sumpah Nismara sudah tidak tahan mendengar ocehan Cakka yang maha bar-bar itu. Mana mbak-mbak dengan kaus pink itu terus lirik-lirik lagi. "Bisa lo tutup mulut?! Lo bikin gue malu gila!"

  Cakka mengerutkan keningnya dan menatap Nismara seolah bertanya 'kenapa?'.

  Nismara mendelik, meminta Cakka untuk tidak mengatakan apapun.

  "Suaminya perhatian ya, Mbak?" Tiba-tiba Mbak-mbak tadi menghampiri mereka sambil senyam-senyum. Nismara tersenyum kikuk sebagai balasan. "Boleh enggak saya cubit pantat suaminya, Mbak? Saya lagi ngidam pengen nyubit pantat suami orang nih."

  "Hah?" Nismara cengo. Tentu saja. Siapa yang tidak terkejut jika seseorang yang tidak dia kenal tiba-tiba saja menghampirinya lalu meminta izin untuk menyentuh pantat suaminya. "Sorry, Mbak. Situ sehat?" Ceplos Nismara.

  Mbak itu tersenyum santai. Seolah ekspresi Nismara tidak berpengaruh apapun padanya. "Sehat kok, saya maupun bayi saya juga sehat banget," jawabnya sambil mengelus perutnya yang memang menggembung.

  "Boleh ya, Mbak. Sekali aja!"

  Nismara masih tidak tahu harus melakukan apa sebelum akhirnya Cakka menarik ujung bajunya, ketika Nismara menoleh dia bisa melihat raut horor dari lelaki itu. Tiba-tiba Nismara jadi pengen ngakak.

  "Jangan, Ra!" Bisik Cakka.

  Nismara terkekeh pelan. "Ihh, kasian loh dia lagi hamil kalau enggak diturutin nanti bayinya ileran."

  "Mara!" Cakka mengguncang lengannya panik.

  "Sekali ya, Mbak." Lirihan wanita itu kembali terdengar membuat Nismara kembali terkikik geli merasakan betapa paniknya Cakka.

***

  Dua menit kemudian Cakka berjongkok dengan wajah kosong. Tampaknya harga diri suaminya itu sudah terbanting dengan amat keras setelah pantatnya tidak suci lagi. Sumpah ekspresi Cakka saat wanita itu meremas pantatnya sudah kayak orang lagi ditagih hutang.

  "Lo enggak papa?" Nismara bertanya masih sambil tertawa.

  Cakka mendongak kemudian menggeleng.

  Nismara ikut berjongkok di depan Cakka, mengusap kepalanya. "Cup cup kasian, sini sayang sama kakak hahaha..."

  Cakka mendengus. "Kamu kayaknya seneng banget ya ngumpanin suami kamu sendiri sama orang lain."

  "Enggak juga, tapi ekspresi lo lucu banget bikin gue ngakak terus."

  Cakka mendengus, dia lalu menarik Nismara sampai gadis itu limbung ke arahnya. Cakka memerangkap Nismara dalam pelukannya.

  "Apaan sih lo?!" Nismara mendongak kesal, hendak pergi tapi Cakka menahannya.

  Cakka menggeleng. "Aku enggak akan lepasin kamu!"

  “Cakka lepas!”

  “Lepasin aja sendiri.”

  Nismara mendengus jengkel ketika Cakka tak kunjung melepasnya juga. "Cakka lepasin!"

  "Ekhmm, maaf Mbak, Mas kalau mau pacaran jangan disini!"

  Nismara tersentak, secara otomatis mendorong Cakka sehingga akhirnya tubuh mereka tak lagi berdekatan. Nismara berdeham malu, menatap bapak-bapak berkumis yang baru saja memergoki mereka.

  Cakka ikut berdiri kemudian menggengam tangan Nismara. "Dia istri saya."

  Nismara memalingkan wajahnya pada Cakka. Entah mengapa ada perasaan aneh yang mengganjal di dadanya. Saat Cakka mengatakan kalau dia adalah istrinya, jantungnya tiba-tiba saja berdetak sangat cepat. Membuat nafasnya tersendat sesak. Nismara memegang dadanya tak mengerti. Kenapa dia bereaksi seperti itu?

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang