50. Kejanggalan Cakka

5K 449 13
                                        

"Kamu dimana?" Suara Cakka di telpon terdengar dingin.

"Aku di rumah Binar, ngerjain skripsi. Kenapa?"

"Ini udah malam, pulang!"

"Bentar lagi." Nismara melirik ikon jam disudut kiri atas ponselnya. Ini baru pukul setengah 7 malam, masih tergolong siang sebenarnya. Lagian Nismara juga masih belum selesai mengetik skripsi-annya yang ternyata sangat menguras jiwa raga.

Namun tidak bagi orang yang sekarang sedang berbincang melalui telepon dengannya.

"Sekarang Nismara!" Dikte Cakka tidak mau diganggu gugat.

Nismara berdecak pelan. Jika Cakka sudah mengeluarkan sikap bossy-nya  percayalah pertengkaran akan kembali dimulai. Tapi untungnya Nismara sedang tidak mau berdebat sekarang. Alhasil dia hanya bisa menyerah dan menuruti kemauan Cakka.

"Iya, ini juga mau pulang."

"Cepat!"

Tut.

Nismara mengerucutkan bibirnya ketika Cakka langsung saja mematikan telponnya.

"Mau kemana, Ra? Kok beres-beres?" Tanya Binar heran karena Nismara tiba-tiba saja menutup laptopnya dan memasukkannya semua barangnya ke dalam ransel.

"Si Cakka, minta gue pulang."

Binar ber-oh ria. "Mau gue anterin enggak?"

"Enggak usah, gue mau naik taxi aja. Nanti kirimin copy-an buku yang tadi ya. Awas aja lo kalau sampe lupa."

Binar berdecak jengkel. "Iya-iya, udah sana pergi lo!"

Sejurus kemudian Nismara bergegas keluar rumah Binar dengan tergesa-gesanya. Pasalnya Cakka sudah kembali mengiriminya pesan untuk cepat-cepat pulang. Bahkan  agar buru-buru sampai di apartemen Nismara memaksa bapak supir untuk menjadi pembalap dadakan. Sehingga 40 menit yang biasa dia pakai untuk pergi dari rumah Binar ke apartemennya hanya membutuhkan waktu 25 menit saja.

Tapi pemandangan yang dia lihat begitu masuk apartemen membuat Nismara langsung berjengit kaget. Bagaimana tidak, begitu membuka pintu apartemen yang dilihatnya adalah Cakka yang sedang berdiri macam patung dengan air muka sedatar tembok.

"Kenapa? Kok cemberut gitu?"

"Enggak."

Nismara mengernyit mendengar jawaban Cakka yang maha dingin itu. Bahkan Cakka langsung saja membalikkan tubuh setelahnya. "Udah makan?"

"Belum."

"Aku masakin ya?"

"Enggak usah."

Nismara kebingungan. Cakka tidak pernah sedingin ini. Apa yang terjadi? Laki-laki itu tidak mungkin sedang dapet 'kan? Namun sebelum Nismara bisa mempertanyakannya Cakka sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi, mengunci pintu dan tak memberi sedikitpun Nismara untuk bertanya. Hanya terdengar suara pancuran air beserta musik rock yang cukup keras.

Bahkan setelah mandi pun, Cakka yang biasanya selalu meluncurkan  beragam siasat untuk menggodanya malah kini adem ayem. Laki-laki itu malah dengan tenang membaringkan dirinya di ranjang tanpa sekalipun melontarkan rayuan.

Nismara jelas semakin kebingungan. Seingatnya Cakka masih biasa-biasa saja tadi pagi. Laki-laki itu masih semesra biasanya dan bahkan memberi Nismara ciuman panjang sebelum pergi bekerja.

Iya, sudah hampir satu bulan ini Cakka resmi bekerja sebagai arsitek muda di salah satu perusahaan yang kebetulan tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka.

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang