4. Bukan salah Nismara

11.3K 705 20
                                        

Nismara tersentak hebat saat Abah membanting pintu kamar dengan keras tepat di depan matanya. Ini pertama kalinya Nismara melihat Abah semarah itu. Biasanya tak peduli seberapa marahnya Abah, lelaki itu hanya akan menghela nafas dan menasehati anak-anaknya dengan lembut. Tapi kali ini Nismara tahu apa yang telah dia perbuat sudah melewati batas yang Abah tolerir. Dengan sedih Nismara kemudian menoleh pada Emak yang juga menatap pintu kamar dengan nanar.

"Maaf..."

Emak memalingkan wajah ke arahnya. Nismara semakin merasa bersalah melihat wajah perempuan yang sudah melahirkannya itu. Kedua mata yang biasanya bersinar indah itu kini membengkak akibat menangis terlalu lama, kulitnya pucat dan Nismara bisa melihat gemetar kesedihan di bibirnya. Nismara langsung bersimpuh saat itu juga.

"Emak maafin Isma, maaf. Isma udah kecewain Emak sama Abah. Tapi semuanya enggak terjadi seperti yang Emak kira. Isma cuma korban Mak. Binar, Regi sama Bandung mereka nyulik Isma, bawa Isma kerumah kosong, paksa Isma buat ikut pesugihan. Isma enggak mau mak.. jadi Isma lari. Tapi... tapi... tapi cowok itu malah... malah paksa Isma. Emak percaya sama Isma ya! Demi Tuhan Isma belum bobol gawang, Isma masih ting-ting, Mak! Isma mohon percaya..." Nismara menenggelamkan wajahnya di kaki Emak sambil tergugu. Dia tidak pernah mau membuat perempuan ini terluka karenanya. Tak peduli seberapa nakalnya dia tangisan Emak adalah satu tabu yang tak boleh dia langgar. Dan sekarang, melihat bagaimana Emak menangis karena ulahnya membuat perasaan Nismara ikut hancur. Dia merasa gagal.

"Emak...."

Tak berapa lama terdengar desahan berat Emak. "Kamu mau bilang berapa kalipun mereka cuma percaya apa yang dilihat oleh mata..."

Nismara terhenyak, Emak tidak percaya padanya sama seperti Abah dan orang-orang.

Emak lalu memukul pundak Nismara beberapa kali, mencoba menyalurkan perasaannya. Tangisan perempuan itu kembali pecah. "Kamu itu perempuan Isma... setiap langkah yang kamu ambil pasti meninggalkan bekas yang tak bisa dihapus. Mau kamu berdalih seberapa hebatnya kamu pikir semua yang terjadi bisa baik-baik aja? Pikir Isma, pikir?! Gimana kata orang-orang soal kamu nantinya?! Abahmu itu tokoh masyarakat, sering mengumbar kebaikan tapi kamu sebagai anaknya malah berbuat hal kotor begini. Bayangkan betapa kecewanya Abah mu itu!!"

Nismara tergugu. "Maaf..."

"Sebenarnya Emak punya dosa apa sampai anak Emak bisa mengalami kejadian ini? Kurang apa Emak dalam membimbing kamu selama ini Isma?"

Nismara menggigit bibir bawahnya, dadanya berdenyut nyeri. "Maaf..."

"Selama ini Emak tidak pernah melarang kamu dalam bergaul, tidak pernah mengekang kamu, Emak bebaskan kamu karena Emak percaya kamu juga mengerti batasan. Apa yang harus dilakukan, apa yang sebaiknya tidak dilakukan, sampai mana kamu bisa melakukannya, Emak yakin kamu sudah paham." Emak terdiam sesaat. "Kamu anak perempuan Emak satu-satunya. Suatu hari kamu akan menjadi seorang ibu dan karena itu Emak harap kamu enggak akan mengalami bagaimana sakitnya saat anak Emak menghancurkan kepercayaan Emak."

Emak menarik nafas lelah, menunduk menatap Nismara yang masih menangis keras. Dia lalu menoleh pada lelaki yang sudah menjadi menantunya itu dengan sedih. "Ya sudah, yang terjadi sudah terjadi. Tapi Emak harap ini terakhir kalinya kalian berbuat dosa ini, kalian harus berubah. Sebaiknya sekarang kalian istirahat dulu. Kamar tamu ada disana." Setelahnya Emak berjalan pergi meninggalkan Nismara yang masih bersimpuh di lantai.

Nismara menatap lantai, tangisannya mengalir tanpa halangan. Dia benar-benar telah gagal menjadi seorang anak. Nismara telah menyakiti perasaan kedua orang tuanya dengan sangat parah.

Tiba-tiba sepasang tangan merengkuhnya ke dalam pelukan yang hangat. Nismara terhenyak namun tangisannya membuat Nismara malah menenggelamkan dirinya lebih dalam. Nismara tahu seharusnya dia mendorong lelaki yang sudah menghancurkan hidupnya itu. Nismara seharusnya memakinya, mencurahkan segala amarahnya saat itu. Tapi dekapan hangat dan elusan ringan di punggungnya tanpa sadar membuat Nismara tak berkutik. Bagaimanapun hal yang paling dia butuhkan saat ini bukanlah pengampunan namun sebuah rangkulan tanpa suara yang mampu menenangkan kegundahan.

"Maaf... maaf..."

Untuk beberapa saat suara berat itu mengalun lirih di depan telinganya.

***

Nismara tidak tahu lagi harus menggambarkan hidupnya bagaimana. Dia benar-benar kacau kali ini. Pagi ini Arjuna, saudara laki-lakinya yang berusia lima tahun lebih tua darinya tiba-tiba saja mendobrak pintu dan menyeret Nismara menuju ruang tamu dimana seluruh keluarga serta laki-laki yang baru dia nikahi malam tadi sudah berada.

Dan dimulailah adegan paling mengerikan yang pernah dia saksikan.

Menyeret tubuhnya ke ujung sofa, Nismara menatap Arjuna dengan pandangan ngeri. Terlebih ketika lelaki itu menarik kerah pakaian Cakka dan menonjok wajahnya secara membabi buta.

"Sialan lo, berani-beraninya lo nyentuh adek gue!" Teriakan Arjuna menggema di sepanjang ruangan, membuat Abah maupun Emak segera menghampirinya. Namun sia-sia. Arjuna bagaikan tiang rumah yang kokoh, sama sekali tak tergoyahkan bahkan setelah Emak menangis memohon.

Semua orang terkesiap saat Arjuna kembali melayangkan pukulannya, kali ini sampai membuat Cakka terjerembab menabrak meja. Meringis, lelaki itu memuntahkan seteguk darah dengan ekspresi nyeri.

"Udah, Bang, udah!" Abah menahan Arjuna yang hendak menyerang lagi.

"Gue enggak bakalan maafin cowok brengsek ini, Bah. Enggak akan. Dia perlu tau gimana akibatnya setelah ngancurin hidup adek gue!"

Nismara membekap mulutnya kaget karena Arjuna berhasil melepaskan diri dan menendang Cakka sekali lagi. Dia tahu kalau Arjuna itu hobi cari masalah, bukan sekali dua kali dia ditemukan tengah ikut tawuran. Namun baru pertama kali Nismara menyaksikan betapa beringasnya Arjuna secara langsung. Pantas saja Arjuna amat ditakuti di daerah ini, toh kelakuannya kayak emak-emak di jalanan.

"Arjuna!" Abah membentak Arjuna. Untungnya kali ini lelaki itu berhasil dijinakkan. "Abah enggak telpon kamu buat nonjok anak orang, enggak! Jadi tahan diri kamu dan bicarakan baik-baik."

"Bicara baik-baik, Bah? Abah liat anak Abah sekarang, ini hasil dari bicara baik-baik? Orang-orang enggak akan sudi bicara baik-baik soal kejelekan orang lain, Bah. Nismara udah jelek di mata orang-orang, nama Abah, Emak, keluarga kita udah enggak baik-baik aja dimulut orang-orang. Dan semua karena si b*angsat satu ini. Gue enggak bisa diem aja, Bah. Gue harus buat dia nanggung akibatnya!"

Arjuna kembali maju, siap mendaratkan tinjunya lagi. Abah spontan menghadang, menahan amukan Arjuna yang akan memperkeruh segalanya.  Gimana jika Arjuna tidak sengaja mengambil nyawa adik iparnya. Nismara tidak mau menjadi janda ngenes yang ditinggal mati suaminya saat mereka baru saja menikah sehari.

Tanpa sadar air mata Nismara kembali meluruh. Dia takut pada kemarahan Arjuna tapi Nismara juga takut menjadi janda.

"Bukan aku, Bang... bukan Isma." Setelah mengatakannya Nismara bergegas bangkit lalu berlari memasuki kamarnya. Dia tidak siap dan akan benar-benar hancur jika Arjuna mengatakan hal menyakitkan lainnya. Jadi sebelum itu terjadi Nismara memilih pergi, bersikap tuli dan menutup hatinya rapat-rapat.

Arjuna ternyata menyusul tak lama setelahnya. Lelaki itu terus mengetuk pintu kamar Nismara, mencoba membujuknya agar keluar.

"Isma, buka pintunya Abang mohon. Abang enggak akan marah sama kamu, suer! Buka ya, Isma."

"Isma!"

Nismara menutup telinganya panik saat suara gebrakan keras mulai terdengar. "Berani Abang dobrak pintu kamar ini, aku bakal minum parfum sebotol liat aja!" Ancamnya.

Untungnya Arjuna mengerti, lelaki itu langsung menghentikan usahanya untuk mendobrak pintu. Namun bujukannya tidak berhenti. Satu jam, dua jam, Nismara tidak tahu berapa lama Arjuna berkoar di luar kamarnya karena setelahnya Nismara langsung tertidur, dia benar-benar lelah.

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang