8. Ghibah

8.9K 625 8
                                        

Binar :
Gue saranin sebaiknya lo minta villa di Cipanas. Percaya deh, Ra. Lo enggak bakal menyesal.

  Nismara membuang ponselnya jengkel. Sejak tadi Binar terus saja merecokinya untuk meminta dibelikan villa kepada kedua orang tua Cakka. Nismara tentu saja menolaknya, mukanya tidak setebal itu untuk meminta-minta pada orang yang tidak dia kenal walaupun mereka kini menjadi mertuanya. Mengabaikan dering ponsel yang terus memberondongnya, Nismara memilih menutup matanya. Dia kelelahan baik secara fisik maupun mental. Meskipun jalan keluar dari permasalahannya sudah ditemukan tapi tetap saja memberatkan. Nismara tidak pernah berniat untuk menikah muda, terlebih dengan seseorang yang sama sekali tidak dikenal. 

  Saat Nismara masih sibuk dengan pikirannya, pintu tiba-tiba saja terbuka. Nismara menoleh dan terkejut melihat pelakunya. "Ngapain lo di kamar gue?"

  Cakka mengulas senyum tipis, melangkah pelan sembari menelisik seisi ruangan. Sedikit terkejut karena ternyata kamar Nismara cukup berwarna dengan barang-barang tidak bertema. "Maaf, Emak kamu yang nyuruh. Dia bilang sebagai suami istri, kita memang sudah sepatutnya tidur di ruangan yang sama."

  Sepasang alis tebal Nismara menukik, bagaimana Emak bisa membiarkan putri kesayangannya berada di dalam ruangan yang tertutup bersama seorang laki-laki yang jelas-jelas telah melecehkannya saat mereka baru pertama kali berjumpa? Akal sehat Nismara menolak untuk mempercayainya. "Enggak mungkin, ini pasti akal-akalan lo aja 'kan? Iya 'kan? Secara lo itu nafsuan banget sampe berani grepe-grepe anak orang yang enggak lo kenal!"

  Mendapat vonis seperti itu jelas Cakka tidak terima. Laki-laki itu melangkah maju namun segera berhenti saat Nismara menjerit. "Aku enggak seperti itu. Nismara kamu mungkin punya kesalahpahaman tentang aku tapi aku enggak seperti yang kamu tuduhkan."

  Nismara membuang muka. "Jawaban maling juga gitu kalau dituduh maling," dumelnya pelan.

Lagi pula kalau Cakka memang kebalikan dari tipe orang yang dia sangka alias cowok baik-baik, Cakka tidak mungkin mabuk berat malam itu. Siapa orang baik yang secara suka rela meneguk tetes alkohol sampai-sampai teler begitu? Dan juga kenapa Emak malah mempersilahkan Cakka untuk berbagi tempat tidur dengannya? Nismara harus bertanya siapa tahu Emak sedang tidak berpikir sehat sehingga membuat keputusan segila itu.

  "Mau kemana?" Cakka mencekal lengannya bertepatan saat Nismara hendak melewatinya.

  "Gue mau nanya sama Emak kenapa dia mempersilahkan lo tidur bareng gue," jawab Nismara sembari mencoba melepaskan genggaman Cakka.

  Mendengarnya, Cakka tak kuasa menahan raut herannya. "Nismara apa salahnya dengan itu, kita suami istri."

  Nismara menyentak genggaman Cakka. Apa salahnya katanya? Jelas sangat salah. Nismara tidak sudi berbaring di sebelah laki-laki yang sudah menghancurkan masa depannya. "Segala tentang lo salah."

  "Nismara," Cakka memanggilnya dengan tajam. Laki-laki itu tampak tak terima mendapat perlakuan tidak ramah dari istrinya.

  Nismara memberenggut. "Jangan lupa gue masih belum bisa maafin kelakuan lo."

  Cakka terdiam sejenak, sepasang netra hazelnya tertuju pada Nismara. Laki-laki itu hendak mengatakan sesuatu, Nismara melihatnya. Namun entah mengapa Cakka membutuhkan waktu beberapa detik lebih lama sebelum dia memuntahkan pikirannya.

  "Aku paham kamu masih belum bisa menerima semua ini, tapi kita bisa sama-sama mencoba. Bahkan jika kamu terus mengelak kita sudah ada di dalam hubungan yang mengikat. Kita sama-sama tidak bisa keluar ataupun memutuskan sesuka hati karena kalau tidak bukan hanya kita yang mengalami akibatnya, tapi keluarga kita juga ikut merasakannya.

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang