Hari ini, hari minggu. Hari yang biasanya Nismara gunakan untuk hibernasi sambil mendengarkan tayangan gosip selebriti. Tapi kali ini berbeda. Sejak pukul enam pagi Nismara sudah mengurung dirinya di dalam ruangan gym, bukan untuk olahraga seperti yang Cakka lakukan tapi demi merapikan alat-alat lukisnya. Salahkan Cakka yang terus mengejeknya sejak kemarin sehingga Nismara merasa tersentil.
Tapi laki-laki itu memang ada benarnya sih, sebab sejak pertama kali Nismara membuka pintu dia langsung meringis karena betapa berantakannya tempat itu. Kumpulan kanvas kosong tergeletak begitu saja di ujung ruangan, bersisian dengan sekian banyak kuas yang bernoda. Tiga buah palet kotor juga masih tergeletak di atas meja dekat easel stand miliknya.
Pantas saja Cakka bilang kalau dia sudah tidak bisa mengenali ruang gym-nya lagi. Toh hampir sebagiannya dipenuhi oleh barang-barang Nismara.
Nismara berjongkok, hampir menangis sebab Cakka terus saja mengejeknya karena noda cat di lantai. Sambil bersungut-sungut Nismara mengusap-ngusap lantai menggunakan kain lap yang sebelumnya sudah dibasahi oleh paint remover.
"Itu sebelah kanan, Mara, aku masih bisa liat noda catnya."
Nismara mendengus jengkel namun tak ayal tetap membersihkan tempat yang Cakka tunjuk. Tapi memangnya tuh cowok enggak kecapean ya? Cakka masih berlari di atas treadmill tapi lelaki itu bisa berbicara tanpa hambatan sama sekali.
"Iya, ini juga gue bersihin. Lo diem aja tau-tau nih apartemen kinclong sampe kagak ada yang bisa liat karena saking kinclongnya," dumel Nismara. Dia merasa bagai babu yang teraniaya sekarang.
Disisi lain Cakka malah semakin semangat untuk menjahilinya. "Sebelah kanan loh, Mara. Itu masih ada biru-birunya."
"Iya! Nih gue bersihin!" Nismara mengelap lantai yang Cakka tunjuk.
"Bukan yang itu, coba kamu geser dikit aja. Bukan yang itu, Mara! Yang sebelah kanan badan kamu, coba liat."
Jengkel, Nismara melemparkan kain lapnya. Dia benar-benar sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan Cakka. "CAKKA BERISIK!! Kalau lo bisa liat kenapa enggak lap sendiri aja?! Jangan cuma nyuruh-nyuruh gue! Ngeselin lo ahh."
Cakka tertawa ringan, langkahnya masih bergerak dinamis. "Yang ngotorin 'kan kamu bukan aku."
Nismara menendang kakinya beberapa kali kemudian kembali meraih kain lapnya dan melanjutkan pembersihan lantai. Lagian tuh cowok cuma bisanya merintah doang, kenapa enggak bantuin? Nismara 'kan bete jadinya. "Ya udah diem, enggak usah nyerocos kalau lo enggak mau bantuin."
Tapi sepertinya Cakka tidak sedikitpun memiliki niat untuk berhenti. "Mara, sebelah kiri."
"CAKKA BERISIK!!"
***
"Kamu kayaknya terobsesi banget sama makanan ya?" Cakka mengerutkan keningnya, menatap jejeran lukisan yang telah Nismara pajang di dinding sebelah kiri ruangan. Sebenarnya itu lebih mirip daftar menu restoran sih.
Di ujung kanan ada lukisan sepiring ayam goreng lengkap dengan saus cabe dan acar, sebungkus sate, mie goreng dengan telur mata sapi dilanjutkan oleh lautan buah rasberry, donat yang mengambang di lautan, seporsi seblak ceker dan makanan lainnya. Cakka benar-benar tidak tahu harus bereaksi apa pada kecenderungan istrinya itu.
Nismara yang sedang sibuk membersihkan kuas-kuas miliknya hanya berdeham sebagai reaksi.
Melanjutkan penelitiannya, Cakka menatap lukisan lainnya. Jujur Nismara merupakan seniman yang berbakat, Cakka akui itu. Setiap makanan yang gadis itu lukis benar-benar tampak nyata. Dia bahkan sedikit ngiler melihat lukisan sepotong pizza dengan lelehan keju mozarella.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
