Tidak terasa pernikahan Nismara dan Cakka ternyata sudah berjalan satu tahun lebih. Meskipun pernikahan mereka bukanlah hubungan penuh kebucinan macam drama korea ataupun pernikahan penuh intrik macam sinetron, setidaknya hubungan mereka sangat baik-baik saja. Yah, walau kerap kali terjadi cekcok ringan tapi mereka selalu bisa mengatasinya.
Hari ini adalah hari kelulusan Cakka sebagai mahasiswa. Sudah sejak pagi buta apartemen diwarnai berbagai kerempongan seperti Nismara yang lupa menyetrika kemeja Cakka atau Cakka yang ngomel-ngomel karena dia lupa mencukur jenggotnya. Pokoknya hari itu benar-benar sibuk.
"Aduh gantengnya suami aku!" Puji Nismara setelah Cakka memakai jasnya. Nismara bahkan tak kuasa menahan diri untuk mencium pipi Cakka.
Cakka tertawa, menatap penampilan Nismara yang terpantul di atas permukaan cermin. Khusus hari ini Nismara juga mengenakan pakaian formal berupa gaun hitam polos selutut dengan model kerut di pinggangnya. Sedangkan rambutnya hanya di cepol biasa menggunakan jepitan. Ditambah atas desakan Mama mertuanya hari ini Nismara juga turut memakai heels yang selama ini jarang sekali dia lirik.
Tampak sederhana memang namun entah mengapa Cakka amat terpesona dengan kecantikan istrinya, padahal Cakka sendiri yang mendadani Nismara tadi.
"Makasih sayang, kamu juga cantik banget hari ini."
Nismara menaikkan alisnya seolah berkata 'gue juga tahu kalau gue cantik' yang membuat Cakka tertawa lepas.
Baru setelah semua persiapannya selesai, Nismara dan Cakka langsung bergegas menuju Institut Teknologi Jayantakan dengan berjalan kaki. Sudah ada Wita, Seno beserta ketiga teman Nismara disana. Binar bahkan tidak tanggung-tanggung, gadis itu membawa buket bunga matahari amat besar sebagai ucapan selamat untuk Cakka.
Tak berapa lama keluarga mereka juga turut datang.
"Ini apa Bang?" Tanya Nismara saat Arjuna menyerahkan sesuatu yang dibungkus menggunakan kertas koran kepada Cakka.
"Buku ekonomi, biar laki lo enggak menambah daftar pengangguran negara."
Nismara memasang ekspresi aneh. Tapi ada benarnya juga sih. Setelah lulus kuliah Cakka akan jadi satu dari sekian pengangguran milik negara.
"Nih ya, Cak. Kalau lo belum dapat kerja lebih baik lo ikut gue aja. Walau judulnya peternak lele tapi penghasilannya lumayan. Dan yang penting halal," ujar Arjuna sembari menepuk-nepuk pundak Cakka yang membuat si empunya meringis nyeri.
Anggita mengangguk setuju. "Iya, Ka. Kamu harus belajar dari Arjuna, jaman sekarang dunia ekonomi itu sedang bersaung ketat. Kalau kita enggak pintar-pintar nyari peluang, kita akan tertinggal jauh."
"Iya, Mah. Nanti Cakka berkunjung deh ke ternak lelenya Bang Juna."
"Boleh tuh, tapi jangan bawa si Isma ya. Tiap kali datang tuh bocah cuma majak gue aja," cibir Arjuna yang dihadiahi pukulan telak oleh Nismara.
"Pelit lo Bang, Isma cuma minta dijajanin mi ayam aja protes!"
"Topping mi ayamnya enggak ngira-ngira ya Dek. Masa lo pesen basonya sepuluh sama ayam gorengnya lima biji. Belum lagi kalau lo lagi ngomel-ngomel minta es krim."
Nismara merengut jengkel, setiap kali bertemu Arjuna selalu saja mencari kesempatan untuk mengejeknya. Nismara lalu berjalan ke arah Cakka, merangkul lengannya dan memasang wajah sedih yang dibuat-buat. "Yang, lihat masa Abang gitu sama aku?"
"Huekkk!!"
Serentak, Binar, Regi dan Bandung yang berada di lokasi kejadian langsung berpura-pura mual. Ketiganya kompak mencibir Nismara habis-habisan.
Berbeda dengab Cakka. Laki-laki itu sama sekali tidak keberatan dengan aduan Nismara. Justru Cakka malah senang dengan sisi manja Nismara yang jarang ia munculkan. Cakka lalu tertawa, memeluk Nismara dan mengecup ringan dahinya. "Acara wisudanya udah mau mulai. Kita pergi ke aulanya ya?"
Sejurus kemudian mereka langsung berjalan serentak menuju aula dimana kegiatan wisuda akan dilaksanakan. Nismara dan teman-temannya tentu saja yang paling heboh. Mereka langsung berseru saat nama Cakka dipanggil untuk naik ke atas podium, membuat Cakka spontan menutup wajahnya menahan malu.
Tapi mau bagaimana, sudah nasibnya memiliki istri serusuh Nismara.
Baru setelah acara utama berakhir, Anggita kemudian memboyong mereka semua untuk pergi makan di salah satu restoran bintang lima—kecuali Wita dan Seno yang memilih pergi bersama keluarga masing-masing. Anggita memesan banyak sekali hidangan untuk merayakan kelulusan anak tunggalnya.
"Kapan rencananya kamu bakal adain resepsi? Kalian udah nikah setahun loh, Ka," cecar Anggita dengan suara rendah. Sebisa mungkin agar tidak di dengar oleh orang lain.
"Nanti Mah, setelah kerjaan Cakka mulai stabil." Beberapa bulan sebelum lulus Cakka memang sudah sangat sibuk membuat CV dan melamar pekerjaan ke berbagai perusahaan arsitektuk. Bahkan besok lusa Cakka akan pergi untuk wawancara.
"Jangan lama-lama, Ka. Kamu nikahin Nismara dengan cara enggak baik, sekarang kamu harus tebus itu. Walau Nismara enggak paksa kamu, setiap perempuan juga pasti memimpikan pernikahan yang indah."
Cakka termenung. Dia menatap Nismara yang sedang berebut capit kepiting besar bersama Bandung dan Binar. Selama ini Nismara dan keluarganya memang tidak pernah meributkan soal pernikahan mereka yang memang sedikit berbeda dengan oranglain. Abah dan Emak juga berlapang dada dan menerima semuanya. Namun Cakka juga tahu Nismara selalu misuh-misuh jika mengingat mahar pernikahan yang dulu Cakka beri. Dan memang, Cakka juga terkadang merasa malu pada dirinya sendiri setiap kali mengingat kalau dia memberi 52 ribu sebagai mahar untuk menikahi Nismara.
"Kamu enggak usah khawatir, Ka. Mama pasti bantuin. Sekarang kamu fokus saja sama pekerjaan kamu, biar Mama sama keluarga Nismara yang urus resepsi kalian. Tapi ingat Mama harap kamu bisa prioritaskan Nismara. Jangan ditunda-tunda lagi."
"Iya, Ma. Cakka tahu." Cakka kemudian menoleh pada Nismara yang merengut karena dia kalah dalam pertarungan memperebutkan capit kepiting bersama teman-temannya. Sebagai gantinya Cakka kemudian mengambil sepiring udang panggang dan meletakkannya di depan Nismara.
"Aku maunya kepiting, Yang," kekeh Nismara masih dengan wajah tertekuk.
"Nanti kita pergi ke pasar ikan lagi kayak dulu gimana?" Tawar Cakka.
Mendengarnya, Nismara tentu saja langsung sumringah. Semangatnya yang semula luntur kembali melonjak tajam. "Kali ini aku mau buat saus padang deh, kayaknya enak ya?"
"Boleh."
Bandung yang duduk tepat di seberang mereka terbahak, mengacung-acungkan capit kepiting di tangannya.
"Oh, gitu ya permainan kamu. Okay, aku ngerti," Bandung menoleh kepada Bianr dan Regi. "Apa artinya kawan-kawan?! Kita akan menjarah apartemen Nismara. Are you ready?!"
"READY!!" Raung Binar dan Regi serentak.
Nismara mencibir tak percaya. "Anak monyet lu pada!!"
"Sama-sama Mommy monyet," kikik Binar.
"Nismara, bahasa kamu!"
Nismara melotot, dia akan melempar kepala udang kepada Binar saat tiba-tiba saja Abah memberinya peringatan. Memang tidak keras sih. Bahkan Abah mengatakannya nada lembut seperti biasanya namun entah mengapa sudah mampu membuat Nismara kicep seketika.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
