Nismara mengeluarkan sebuah kanvas lukisan berukuran besar yang tadi dia letakkan di bagasi mobil Cakka. Dulu Mama mertuanya pernah meminta Nismara untuk membuat lukisan berupa potret diri saat maertuanya itu masih muda. Dan karena kebetulan hari ini Nismara sedang berkunjung, sekalian saja Nismara membawanya.
"Sini aku yang bawa," Cakka menyodorkan dirinya untuk membantu saat dia melihat kalau Nismara tampak kesusahan memegang lukisan yang jauh lebih besar dari badannya sendiri.
"Hati-hati, jangan sampai rusak. Aku nyelesainnya butuh waktu hampir sebulan itu."
"Iya, Mara sayang. Udah ayo masuk."
Sambil bergandengan tangan, keduanya melangkah memasuki rumah besar dimana kedua orangtuanya beserta beberapa kerabat sedang berada. Begitu sampai di ruang tamu Nismara melepas genggaman tangannya kemudian berlari menuju Anggita.
"Mama!" Panggil Nismara riang tanpa sedikitpun rasa malu. Gadis itu memeluk Mama mertuanya yang dibalas Anggita tak kalah antusiasnya.
"Mama kangen banget sama kamu, ya ampun!"
"Aku juga kangen sama Mama, oh iya," Nismara membalikkan tubuhnya, menunjuk barang yang saat ini tengah Cakka pegang. "Lukisan yang Mama mau udah selesai."
"Mana coba Mama liat, Ka."
Cakka menurut, menunjukkan sisi permukaan kanvas yang kini telah diisi oleh goresan cat yang membentuk sosok masa muda Mamanya.
"Ya ampun, Mama keliatan cantik banget!" Pekik Anggita. Kemampuan melukis Nismara memang sudah tidak diragukan lagi. Nismara begitu terampil memadukan beragam warna sehingga menghasilkan lukisan yang begitu indah. Anggita sendiri bahkan tidak percaya kalau dirinya bisa secantik itu dulu.
"Lebih cantikkan dilukisan daripada aslinya," celetuk Cakka seenak jidatnya, yang dihadiahi dengan tamparan keras di bagian samping kepalanya. Cakka menekuk bibirnya. Sambil merengut laki-laki itu memeluk tubuh Nismara, berniat mengadu. "Yang, Mama mukul aku."
Melihat pemandangan semenggelikan itu membuat Anggita menutup mulutnya mau muntah.
Nismara terbahak kencang. Sungguh kalau orang tidak tahu, mereka pasti tidak akan menyangka kalau mereka itu pasangan ibu dan anak. Lah, kerjaannya saja berantem terus.
"Rasain," cemooh Nismara.
"Kepala aku sakit tau, Mama mukulnya enggak kira-kira."
"Enggak peduli!"
Raut wajah Cakka berubah murung. Sumpah tidak adakah orang yang mau membelanya? Kenapa semua orang suka sekali menganiaya Cakka? Kesal, Cakka kemudian menggigit ringan pipi Nismara. Membuat si empunya sontak menjerit tak percaya.
"Cakka!"
Cakka tertawa. "Rasain," ledeknya.
Anggita menggelengkan kepalanya, sepertinya pasangan itu lupa kalau mereka sedang berada dimana. Memang ya kalau sudah cinta, dunia terasa milik berdua. "Udah-udah, Nismara sini Mama kenalin kamu sama Kakek neneknya Cakka. Kalian belum pernah ketemu 'kan."
Keduanya lalu mengekori langkah Anggita menuju sofa yang kini sudah diduduki oleh beberapa orang. Sebenarnya Nismara sudah mengenal beberapa kerabat Cakka. Contohnya saja Om Joni, sang bujangan tua dengan tiga cucu. Atau Mbak Yuni, putri adopsi Om Joni yang menikah dengan keponakan Ayahnya dan melahirkan tiga anak dalam satu waktu. Tapi untuk Kakek dan Nenek Cakka, Nismara belum pernah bertemu.
Begitu sampai disana Nismara bisa melihat dua sosok yang sudah tergerus usia. Meski begitu mereka masih tampak penuh semangat, hanya Nenek Cakka yang memakai kacamata karena penglihatannya yang sedikit memburam. Nismara lalu menyalimi keduanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomansaMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
