Nismara menjatuhkan kepalanya ke atas meja. Setelah perjuangan yang berhasil menguras seluruh energinya akhirnya tugas kuliahnya selesai juga. Rasanya tuh aman, damai dan penuh kelegaan. Nismara bahkan merasa sedang mendengar hymne kemerdekaan yang mengalun nyaring penuh kesyahduan.
Sebenarnya bukan tugasnya sih yang buat Nismara kayak orang habis ikut kerja rodi. Tugasnya memang susah akan tetapi mengurus keabsurdan ketiga temannya jauh lebih susah. Setelah drama pertidaksenonohan Regi dan segala macam lainnya Nismara baru berhasil membuat mereka duduk anteng setelah satu jam. Itupun karena Cakka berjanji untuk mentraktir mereka pizza.
Ahh, sepertinya setelah ini Nismara harus banyak-banyak berterimakasih pada Cakka karena sudah menyelamatkannya.
"Nontonlah kuy!" Ajak Bandung sambil melihat deretan kaset film yang berjejer di dalam tasnya. Sekedar informasi saja, film biru yang tadi Regi tonton itu bukan milik Cakka tapi memang koleksi pribadi Bandung dan Regi. Jangan heran kalau di dalam tas mereka terdapat tiga atau lima kaset film dengan label top secret. Ya karena kerjaan mereka memang itu, menyebar luaskan film penuh dosa.
Nismara bahkan suka heran kenapa sampai sekarang bisnis haram mereka sama sekali tidak tercium pihak kampus.
"Kalau lo berani nyetel film nganu lagi gue gampar lo pake panci!" Nismara memberi ketiganya peringatan.
Binar terbahak. "Iya, yang udah halal nganu enggak usah liat tutorial yee."
Bandung memicingkan kedua matanya kemudian bertepuk tangan seolah baru saja mendapat ilham. "Kenapa enggak lo aja yang siaran langsung, Ra. Biar gue ada paham dulu gitu buat malam pertama nanti."
Setelahnya Nismara langsung menggampar wajah Bandung menggunakan buku setebal lima senti meter. "Mulut jahanam!"
"Sakit, Ra. Seenaknya aja lo main gampar anak orang kagak tau apa nih muka perawatannya mahal?" Bandung mengusap-ngusap wajahnya.
"Muka item dekil gitu aja pake perawatan segala," cibir Nismara.
Sakit. Bandung mengusap dadanya dengan ekspresi terkejut. "Gue bisa denger harga diri gue hancur berkeping-keping."
"Emang lo punya harga diri, Dung?" Binar melanjutkan hinaannya untuk Bandung. Lelaki itu langsung menjatuhkan dirinya syok, mungkin tidak menyangka kalau dia akan diserang sekejam itu. Di sisi lain Nismara dan Binar hanya memalingkan wajah tanpa dosa. Lagian sudah biasa juga mereka saling menghina. Dan benar saja beberapa detik selanjutnya Bandung sudah kembali ceria.
"Buru nonton, jangan banyak bacot!" Bandung kembali mengajak.
"Enggak, enggak. Pulang sana lo ahh." Nismara mendorong punggung Bandung menyuruh lelaki itu untuk angkat kaki.
"Napa sih? Laki lo aja biasa-biasa aja."
"Pokoknya enggak boleh!"
Kesal. Bandung memilih menghampiri Cakka yang sejak tadi tengah bermain dengan laptopnya tak jauh dari mereka. "Boleh enggak kita nonton disini, bro?" Tanyanya sok akrab.
Cakka mengangkat kacamatanya kemudian tersenyum ke arah Nismara yang tampak sewot. "Silahkan, gue enggak keberatan."
"Jangan, lo bakal nyesel nanti serius deh," peringat Nismara.
"Enggak papa, mereka teman kamu masa aku enggak nerima mereka. Lagian cuma nonton aja 'kan?"
Ekspresi Nismara berubah datar. Lihat saja Cakka pasti akan menyesal setelah ini. Karena meskipun Bandung tidak kembali menyetel film ber-genre terlarang tapi tetap saja film pilihan lelaki itu sama sekali tidak ada yang benar. Siapa yang mau menonton film tentang petualangan ban mobil yang bisa menggelinding sendiri dan bahkan bisa membunuh. Sumpah demi apapun, absurd sekali. Namun anehnya ketiga temannya masih bisa menikmati film berjudul Rubber itu dengan baik.
Nismara mencondongkan dirinya ke arah Cakka yang masih bengong menatap layar. Ada senyum puas di ujung bibirnya. "Gimana film pilihan anak seni itu aneh bukan?"
Cakka menoleh kikuk. "Kamu sering kayak gini?"
"Kadang. Tapi setiap kali mereka ngajak nonton ya akhirnya selalu begini, kalau enggak bokep ya film enggak jelas kayak gini." Nismara menjawab seolah sudah terbiasa. Ini sih belum apa-apa. Dulu Bandung pernah mengajaknya menonton film yang isinya cuma orang tidur selama berjam-jam. Absurd bin aneh banget bukan. Yah tapi mau bagaimana lagi. Bandung dan kecintaannya pada seni yang kadang tidak bisa dimengerti orang awam.
"Berarti kamu cukup hebat untuk bertahan," Cakka berkata dengan senyuman aneh.
Nismara tertawa. "Hebat banget 'kan gue? Awalnya gue juga kaget, loh bisa ya ada orang yang kelakuannya ajaib tapi mau bagaimana lagi, gue terlanjur nyaman sama mereka. Lo bahkan enggak akan bisa nebak pertemuan pertama gue sama mereka."
Tertarik. Cakka mulai mendekatkan dirinya lebih rapat pada Nismara. "Memangnya gimana?"
Nismara berdehem sambil menepuk-nepuk tangannya yang ternoda bumbu keripik. Siap menceritakan kisahnya. "Waktu itu tuh gue baru aja beres kelas sore, capek banget 'kan apalagi gue notabennya masih mahasiswa baru yang belum terbiasa sama kehidupan kuliahan. Jadi pokoknya hari itu gue lagi enggak mood buat ngapa-ngapain. Tapi karena gue haus banget jadi gue pergi tuh ke kantin, emang lagi sepi sih tapi lo tau enggak apa yang gue liat?" Cakka menggelengkan kepalanya.
"Gue liat si Binar lagi nangkring di pohon beringin sambil nangis-nangis kenceng banget. Kagetlah gue, dikiranya ada setan lewat mana tuh cewek lagi pake baju kuning-kuning. Jadi gue pura-pura aja enggak liat niatnya sih mau kabur aja tapi si Binar malah manggil gue dan teriak omong kosong. Bilang kalau gue udah hancurin perasaan dia-lah terus dia bakal bunuh diri karena enggak kuat nahan sakit hatinya. Sekedar info pohon beringinnya tinggi banget."
"Terus reaksi kamu apa?"
Nismara memasukan keripik ke dalam mulutnya sebelum menjawab. "Ya gue paniklah apalagi orang-orang udah pada ngumpul dan liatin gue, termasuk si Bandung dan Bang Regi yang malah ngatain gue. Jadi secara terpaksa gue ikut naik ke atas pohon. Dan itu adalah salah satu kebodohan terbesar yang pernah gue perbuat."
"Memangnya kenapa?" Cakka semakin tertarik mendengar.
"Karena setelah itu gue dikira lesbi."
Cakka mengerjap tak mengerti. "Kok bisa?"
Nismara menghembuskan nafasnya seolah mengenang peristiwa itu adalah mimpi buruk yang tidak pernah mau dia ingat. "Si Binar dengan otak minimalis nan gesreknya malah nyium gue di depan banyak orang. Sumpah gue sampe muntah-muntah abis itu, iuhhh."
Seolah merasakan apa yang Nismara rasakan pemuda itu ikut bergidik.
"Jadi gue peringatin ini sama lo, jauh-jauh dari mereka kalau lo enggak mau kena sial." Nismara memberi ketegasan di akhir kalimatnya. "Bahkan kita bisa nikah aja karena keabsurdan mereka."
Cakka ikut terdiam. Dia memang sudah mengetahui ceritanya. Bagaimana dia bisa berakhir menikahi Nismara malam itu. Semuanya berawal dari pesugihan yang Bandung, Binar serta Regi lakukan. Sebenarnya mendengar kisah mereka masih membuat Cakka tidak percaya, adakah orang sekonyol itu? Mana sesajennya menggunakan ayam goreng lagi.
Saat Cakka sedang bergelut dengan pikirannya tiba-tiba saja hidungnya mencium bau-bau tidak sedap. Kening lelaki itu mengerut.
"Bandung lo kentut sialan!!" Teriak Binar dan Nismara bersamaan. Dan si pelaku malah terbahak tanpa rasa bersalah.
Sekali lagi Cakka hanya mampu memaksakan senyumnya. Sepertinya Nismara benar, dia harus agak menjaga jarak dari mereka.
***
Ngomong-ngomong film-film itu beneran ada loh. Cari aja di internet, judulnya Rubber. Dan yang satu lagi tentang orang tidur berjam-jam juga seriusan ada filmnya tapi aku lupa sama judulnya🤣
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
