32. Janur Kuning

4.9K 461 18
                                        

Nismara tersentak kaget saat mendengar suara pintu terbuka. Gadis yang pada awalnya tengah melukis itu sontak bergegas keluar ruangan gym. Dan begitu pandangannya bersibobrok dengan sosok laki-laki yang tampak acak-acakan itu, membuat Nismara hampir tak bisa menahan diri untuk menghambur ke arahnya. Bukan bermaksud untuk memeluk menye-menye tapi karena hasratnya ingin meninju wajah tampan itu. Habis-habisan!

"Mara," panggil Cakka dengan kaget. Laki-laki itu melepas sepatunya dan melempar ke sembarang arah sebelum akhirnya duduk di sofa. Wajahnya tampak kusut dan lelah.

"Hmm, baru pulang?" Sinis Nismara.

Cakka tersenyum kelu. "Yah, begitu."

"Begitu gimana?"

"Rumit."

Nismara mengernyit, entah mengapa Cakka terkesan amat misterius sekarang. Seolah Cakka tidak ingin Nismara mengetahui apapun tentang masalahnya. Memikirkan kalau hari ini Bu Siska juga izin tidak masuk membuat pikiran Nismara semakin kalut.

"Kamu udah makan? Aku udah pesen pizza tadi, paling sebentar lagi nyampe," tawar Cakka.

Nismara mendengus jengkel. Gadis itu lebih memilih untuk kembali ke ruang gym untuk menyelesaikan lukisannya. Dan pada saat itulah Nismara baru menyadari kalau lukisan sepotong kebab yang dia inginkan malah berganti menjadi lukisan abstrak kelabu. Nismara menjatuhkan dirinya ke lantai dengan kepala yang terasa semakin berat. Dia tidak pernah sekalipun mengacaukan lukisannya sebelumnya, apalagi Nismara bukan pecinta aliran abstrak. Namun sekarang, jari-jarinya malah tanpa sadar menggores garis sembarang yang mencerminkan pikirannya yang penuh kemelut.

Sialan!

Nismara benar-benar kacau sekarang. Ditambah kedatangan Cakka bukannya memperbaiki emosinya tapi malah memperunyam segalanya.

"Mara."

Nismara mendongak saat panggilan itu terdengar. Cakka melangkah masuk sambil membawa pizza yang dia janjikan. Penampilan laki-laki itu juga sudah jauh lebih segar dibanding sebelumnya. Sepertinya Cakka baru saja cuci muka.

"Hmm."

"Pizza-nya udah dateng."

"Hmm."

Kedua alis Cakka spontan menukik begitu mendapat balasan Nismara yang terkesan malas-malasan. Laki-laki itu lalu duduk di sebelah istrinya. "Kamu buat abstrak?"

Nismara meraih kotak pizza dari sisi Cakka dan membukanya dengan cepat. Meski dia sedang enggan untuk berinteraksi dengan Cakka, dia tetap tidak bisa mengabaikan makanan lezat. Dan sial, pizza-nya enak banget gila!

"Kamu marah," kalimat itu terdengar seperti pernyataan sebenarnya.

Nismara mendengus sinis. "Menurut kamu?"

"Maaf, tapi aku benar-benar enggak bohong. Ada urusan rumit yang enggak bisa aku bilang sama kamu."

"Kenapa? Karena Bu Siska?"

"Mara..." Cakka menggeleng frustasi. "Itu enggak seperti yang kamu kira."

"Terus gimana? Aku enggak akan tahu kalau kamu enggak jelasin, Cakka!"

Cakka dan Kata MerekaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang