"Nismara."
Nismara membalikkan tubuhnya kemudian menunduk saat Siska, dosennya lah yang ternyata baru saja memanggilnya. "Iya, Bu, ada yang bisa saya bantu?"
Siska tersenyum. "Ah, enggak saya ada perlu sama Regi kamu tahu dia dimana sekarang?"
"Bang Regi kalau enggak di kantin pasti ada di ruang musik, Bu. Mau saya telpon sekarang?"
"Boleh deh, suruh dia datang ke ruangan saya ya."
"Siap bu."
Nismara berdecap kagum melihat betapa cantiknya dosen satu ini. Siska itu ibaratkan bunga mawar yang tersembunyi di tengah rerumputan sepak bola. Wajahnya cantik berseri, badannya langsing tapi berisi di tempat yang tepat, pintar dan yang paling membuat orang amat menyukainya adalah perilakunya. Siska itu selalu ramah pada semua orang baik dari kalangan mahasiswa, dosen atau bahkan ibu kantin sekali pun. Nismara sendiri selalu menghormatinya walau mata kuliah Siska tidak dia sukai sebenarnya.
Sepeninggal Siska, Nismara mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Regi. Pada dering ke empat lelaki itu baru mengangkatnya.
"Kenapa, Ra?" Suara semanis gulali itu membuat Nismara meleleh.
"Bu Siska nyariin Abang, katanya disuruh pergi ke ruangannya."
"Ngapain?"
"Mana ku tahu, Bu Siska cuma bilang ada perlu sama Abang. Ayo loh, Bang, Abang abis ngapain sampe bu Siska nyariin Abang?" Nismara terkikik usil.
"Abang enggak tau, Ra. Dari tadi Abang diem aja di ruang musik enggak ngapain-ngapain," jelas Regi sedikit panik.
Nismara tertawa, dia suka sekali menjahili Regi. "Ya udah, sana pergi biar tau."
"Sekarang?"
"Hmm."
Setelahnya Nismara kemudian melangkah pergi. Tadi Binar menghubunginya untuk pergi nongkrong di kantin. Sesampainya di sana seperti dugaannya, Binar sedang duduk mengobrol bersama Bandung. Juga ada tambahan satu orang. Nismara menaikkan alis, tumben tuh orang ikut nimbrung.
"Ehh, Namira," sapa Aldo dengan senyum menggoda yang malah membuat Nismara ingin menggetok kepalanya pakai sendal.
"Sorry ye, nama gue Nismara," ketusnya.
Aldo tertawa tanpa rasa bersalah. Laki-laki dengan jaket jeans itu malah menyugar rambutnya. Nismara mencemooh, sok kecakepan anjir. Untungnya Aldo itu seniornya kalau tidak Nismara pasti sudah mengejeknya habis-habisan.
"Iya, itu maksud gue."
Jengah, Nismara memilih duduk lalu mencomot gorengan milik Binar. "Ngapain lo disini, Kak? Mau godain temen gue lagi?"
"Jangan sewot dong, baby, tenang aja gue enggak bakal godain kalian lagi. Tapi kalau lo mau jadi pacar gue sih okay."
Nismara spontan membuat gerakan seolah ingin melempar gorengan ke wajah Aldo. "Sumpah loh, Kak, gue lempar nih ya ke muka lo."
Bukannya marah Aldo malah ngakak. "Lo masih aja judes, Ra. Tenang aja tenang, gue cuma mau undang lo semua ke party gue malam ini."
Nismara mengernyit heran. Tumben banget Aldo mengundangnya. Biasanya dia hanyalah kaleng soda kosong di matanya. Terlihat tapi tidak menarik perhatian. Eits, jangan salah paham. Lagian Nismara juga tidak tertarik untuk menghadiri pesta yang isinya cuma anak-anak populer doang. Bukannya Nismara minder, ih amit-amit. Tapi karena dia ogah berkumpul hanya untuk cari muka sana-sini. Maaf, tapi itu bukan gayanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
