Ternyata perkataan Cakka tentang membawanya bulan madu tidak main-main. Keesokan harinya Nismara sudah berdiri di depan sebuah penginapan berkonsep rumah kayu. Ada jejeran pepohonan rindang yang tumbuh di sekelilingnya, ditambah dengan hamparan bunga wijaya kusuma yang sengaja diletakkan di sekitar jalan masuk membuat tempat itu menjadi semakin asri. Di sebelah timur penginapan terdapat aliran sungai dangkal yang terkadang digunakan beberapa pengunjung untuk sekedar membasuh kaki.
Setelah mengurus segala macam keperluan, keduanya akhirnya memasuki kamar mereka yang terletak di lantai dua. Sama seperti tampilan luarnya, kamar itu juga terkesan sederhana. Hanya ada satu tempat tidur yang diletakkan di tengah ruangan, lemari kayu, satu sofa, kulkas mini serta kipas angin yang menggantung di langit-langit gedek bambu.
*gedek : anyaman yang terbuat dari bilah-bilah bambu, biasanya digunakan untuk dinding atau yang lainnya.
Namun meskipun terkesan sangat minimalis, Nismara benar-benar menyukainya. Lihat saja jendela besar yang berada di sisi kiri tempat tidur. Dari sana Nismara bisa secara leluasa melihat undakan pesawahan hijau di bawah kaki gunung.
Tapi yang paling Nismara sukai dari tempat ini sih, kamar mandinya. Nismara langsung ngakak parah saat menemukan gayung batok kelapa beserta ember kayu di bawah sower.
"Liat, gue nemu apa!" Nismara mengacungkan gayung batok kelapa-nya kepada Cakka.
"Apa itu?"
"Ini gayung, sumpah gue pikir gayung batok kelapa kayak gini udah punah. Ternyata masih ada dong. Ahh, gue harus selfie!"
Cakka menggelengkan kepalanya, sepertinya hanya Nismara yang bisa sesenang itu hanya karena gayung batok kelapa. Lihat saja, Nismara bahkan sudah terlentang di atas lantai kayu demi mengambil foto bersama gayung-nya itu.
"Seseneng itu?" Tanya Cakka tak habis pikir.
Nismara yang baru saja selesai berfoto sambil memeluk gayungnya bangkit duduk lalu mengesot mendekati Cakka. "Senanglah anjir, gue udah kayak nemuin prasasti zaman kerajaan tau enggak!"
"Ah, okay," Cakka mengangguk-angguk saja. Toh, dia tidak mengerti dengan perasaan senang seolah 'menemukan prasasti zaman kerajaan' itu. Cakka kemudian membuka kopernya, mengeluarkan beberapa helai pakaian berwarna-warna dan meletakkannya di atas selimut.
"Ayo, ganti baju kamu dulu."
"Buat?"
"Untuk menunjukkan kalau kita bisa lebih bahagia dari orang itu," kata Cakka sok misterius.
Nismara membuka mulutnya tercengang. Dia teringat perkataan Cakka kemarin. Laki-laki itu bilang salah satu cara terbaik untuk membalas dendam adalah menunjukkan kalau dia bisa lebih bahagia daripada mereka. Tapi Nismara sama sekali tidak menyangka kalau Cakka akan benar-benar merealisasikan idenya. Maksudnya, ini adalah urusan Nismara. Baik Bqng Herry maupun Sella, mereka tidak ada hubungannya dengan Cakka. Jadi sebelumnya Nismara tidak berpikir macam-macam.
Tapi sekarang, dilihat dari tindakan Cakka sepertinya lelaki itu serius dengan perkataannya. "Jadi lo serius sama rencana itu?" Tanya Nismara memastikan.
Cakka menyeringai. "Tentu, kalau dilihat dari semua akun media sosial mereka kayaknya mereka tidak pernah pergi untuk honeymoon. Tempat paling jauh yang pernah mereka datangi cuma monumen nasional."
"Anjir, stalker ya lo!" Pekik Nismara ngeri. Dia saja tidak pernah ingin tahu tempat-tempat mana saja yang pernah Bang Herry dan si Sella itu kunjungi. Selain karena Nismara tidak mau makan hati, dia juga ogah sih lihat-lihat kehidupan orang lain. Tapi Cakka malah terang-terang bilang kalau dia stalk media sosial mereka. Sungguh di luar nalar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
