Nismara tidak tahu seberapa lama dia tertidur karena dia baru terbangun saat langit sudah sepenuhnya menggelap. Nismara mengedarkan pandangan dan pemandangan abu-abu masih memberatkan dadanya. Sekali lagi Nismara mencoba mengucap fakta bahwa kini dia tinggal di rumah suaminya.
Setelah mencuci muka dia lalu melangkah keluar. Cakka ada disana, duduk nyaman sambil mengutak-atik ponselnya. Lelaki itu langsung menoleh saat merasakan kehadiran Nismara.
"Udah bangun?" Tanyanya.
Nismara mengangguk. "Gue tidur lama banget ya?"
Cakka tersenyum tipis. "Tiga jam."
Dengan langkah pelan Nismara mendekati Cakka kemudian duduk tepat di sampingnya sambil menguap.
"Mau makan apa?" Cakka bertanya tanpa mengalihkan atensinya dari layar ponsel. "Aku cuma bisa pesen secara online, enggak papa 'kan?"
"Ayam bakar aja," pesan Nismara.
"Oke." Dengan itu Cakka kembali memfokuskan diri pada ponselnya, memesan menu untuk makan malam mereka. "Tadi Abah kamu telpon, dia nanyain kabar kamu," lanjut Cakka.
Nismara langsung tersentak. "Kapan? Kok lo enggak ngasih tau?"
“Kamu lagi tidur tadi, aku enggak enak banguninnya."
“Ihh!!" Berdecak Nismara langsung berlari memasuki kamar, meraih ponselnya yang dia letakkan di atas nakas. Nismara lalu men-dial nomor Abahnya. "Abah," ucapnya saat sambungan mereka terhubung.
"Udah bangun? Tadi Abah telpon tapi suami kamu yang angkat, katanya kamu ketiduran."
“Iya, Bah." Dan Nismara kembali menangis. Entah mengapa mendengar suara Abah membuat tangisan yang coba dia tahan sejak tadi kembali menyeruak.
"Kenapa nangis? Kamu tuh enggak dulu atau sekarang masih aja cengeng, enggak malu sama suami kamu?"
"Abah..."
Terdengar helaan nafas Abah. "Abah masih marah tapi bukan sama anak Abah. Abah marah sama diri Abah sendiri karena udah buat anak Abah mengalami hal seperti itu. Abah terlalu sibuk pada yang lainnya sampai Abah enggak bisa jaga anak Abah. Abah enggak marah sama kamu, Isma. Tapi Abah harap kamu sudah mengerti sekarang. Anggap ini sebagai pelajaran berharga untuk mendewasakan diri."
"Iya, Bah.."
“Sudah, jangan nangis lagi. Suami kamu nanti mikir yang enggak-enggak. Udah sana, Abah mau pergi rapat dulu."
"Iya, Bah."
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Nismara menekan ponselnya ke dadanya. Setelah percakapan ini entah mengapa dia merasa sebagian bebannya terangkat. Saat Nismara kembali, Cakka sudah siap dengan makan malam mereka. Lelaki itu terlihat cukup terlatih menyiapkan segalanya, mulai dari mengeluarkan makanan yang masih terbungkus plastik kemudian memindahkannya ke atas piring. Sepertinya Cakka memang menghabiskan hidupnya dengan makanan pesan antar.
Nismara kemudian duduk di salah satu kursi dan menarik piring kosong untuknya. Cakka meliriknya.
"Aku juga pesen menu lainnya ada sayur capcay sama tahu goreng."
Nismara melihat meja makan, memang ada dua piring tambahan selain ayam bakar yang tadi dia pesan. Ada juga dua gelas green tea mango dari salah satu merk yang sering Nismara kunjungi juga. Setelah selesai merapikan segalanya mereka berdua mulai melahap makanan mereka. Tidak ada yang membuka suara baik Cakka maupun Nismara keduanya memilih bungkam.
KAMU SEDANG MEMBACA
Cakka dan Kata Mereka
RomanceMendapat suami karena pesugihan? Nismara Dian Kartini tak pernah menyangka jika ketiga temannya akan sangat tega menjadikannya tumbal pesugihan abal-abal bermodalkan sepaket ayam KFC. Dia juga takkan menyangka kalau tepat setelahnya dia harus mengal...
