33. Stolen Kiss

4.4K 182 3
                                        

-Happy Reading-

-

-

-

Kepalan tangan Akira berulang kali menghantam dadanya sendiri, seolah ingin merobek sumber rasa sakit yang bersarang di sana.

"Kenapa harus dia? Kenapa bukan lo aja yang mati?!"

Keputusasaan pahit membuat mata yang biasa angkuh itu memudar. Bintang menunduk dalam, berusaha menghindari bayangan Rhanaya.

"GUE TAHU GUE BAJINGAN!" bentaknya parau, bergema pilu di ruangan kosong itu. "Tapi gue bukan pembunuh! BUKAN GUE!"

Saat Bintang bergerak hendak meraih tangan Akira, tendangan kuat menghantam rusuknya.

​"Jangan sentuh dia! Lo paham bahasa manusia, kan?"

Tubuh pemuda itu terpelanting, menghantam tumpukan puing di samping. Dengan rasa nyeri di rusuknya, Bintang mendongak. "LO NGAPAIN DI SINI, DRAFENZO?!"

Fenzo membuang asal topinya. Tatapannya yang gelap hanya terkunci pada Akira yang masih gemetar. "Bukan urusan lo," 

Dengan amarah bercampur keputusasaan, Bintang berdiri lagi dan langsung melayangkan tinju tanpa basa-basi.

"Ah, good. Let's play," desis Fenzo, seringai tipis muncul di bibirnya.

Keduanya saling menyerang brutal, melepaskan semua frustrasi dan amarah yang terpendam. Akira hanya diam, kakinya terlalu lemas untuk bergerak. Namun, ketika Bintang mulai tak berdaya di bawah serangan Fenzo, dengan cepat dia berdiri.

"BERHENTI! LO BERDUA BERHENTI!"

Fenzo seolah tuli. Ia terus melayangkan pukulan tanpa jeda, matanya gelap, persis seperti orang kesetanan. Dengan sisa tenaganya, Akira menendang tubuh pemuda itu untuk menjauh.

Alih-alih berhenti, emosi Fenzo yang sudah tak terkendali kini beralih. Tinjunya menghantam dinding berlumut di dekatnya berulang kali.

"Hei, are you crazy!? BERHENTI, TOLOL! Tangan lo berdarah, goblok!" pekik Akira histeris, suaranya menipis karena panik.

Fenzo, masih tidak merespons. Tanpa pikir panjang, Akira melingkarkan kedua lengannya di pinggang pemuda itu dari belakang. "Berhenti, Draf... Jangan sakiti diri lo sendiri," bisiknya serak.

Kepalan tangan Fenzo perlahan mengendur. Kehangatan tubuh yang memeluknya erat berhasil menyerap seluruh ledakan emosinya, meninggalkan keheningan yang instan.

"Qhana.. maafin aku, ak—"

"PERGI!" potong Akira lebih dulu, nadanya datar dan final. 

Perlahan, ia melepaskan pelukannya. Pandangan gadis itu langsung beralih pada Bintang yang menatap dengan sorot penuh luka.

Melihat kepalan tangan Akira yang mengerat di sisi tubuh, Bintang tahu, semua sudah berakhir.

"Tolong percaya sama aku..." Setelah mengucapkan itu dengan suara bergetar, pemuda itu memilih pergi, langkahnya terseok-seok menuruni tangga.

Di sisi lain, Fenzo yang bersandar kaku di dinding menoleh. Wajahnya kembali datar, tanpa emosi, seolah baru saja menyaksikan pertunjukan murahan

​"Udah puas dramanya?"

Akira terlonjak kaget, ia benar-benar melupakan kehadiran pemuda itu. Baru saja mau menjawab, Fenzo kembali bersuara.

"Kalau mau buat bayi, di hotel. Jangan di gedung terbengkalai. Bau jamur, nggak elit."

DRAFENZO SHAQUILLECerita yang bikin terobses. Temukan sekarang